Gencatan Senjata Berakhir, Pertempuran Kembali Pecah di Sudan
Senin, 12 Juni 2023 - 06:40 WIB
loading...
Pertempuran kembali pecah di Sudan setelah gencatan senjata selama 24 jam berakhir. Foto/Ilustrasi
A
A
A
KHARTOUM - Bentrokan berkelanjutan dan tembakan artileri dilaporkan terjadi di beberapa bagian Ibu Kota Sudan , Khartoum, pada Minggu pagi, segera setelah berakhirnya gencatan senjata 24 jam yang membawa jeda singkat pertempuran delapan minggu faksi-faksi militer yang bersaing.
Saksi mata mengatakan pertempuran dilanjutkan setelah gencatan senjata berakhir pada pukul 6 pagi waktu setempat di utara Omdurman, salah satu dari tiga kota yang berdampingan, bersama dengan Khartoum dan Bahri, yang membentuk ibu kota di sekitar pertemuan Sungai Nil.
Penduduk mengatakan telah terjadi tembakan artileri di daerah Sharq el-Nil di pinggiran timur ibu kota, dan di sekitar jembatan yang menghubungkan Omdurman dan Bahri. Ledakan dan bentrokan juga dilaporkan terjadi di Khartoum.
Perang antara tentara Sudan dan paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF) pecah pada 15 April karena ketegangan terkait dengan rencana yang didukung internasional untuk transisi menuju pemerintahan sipil.
Konflik tersebut telah membuat lebih dari 1,9 juta orang mengungsi, memicu krisis kemanusiaan besar yang mengancam akan menyebar ke seluruh wilayah yang bergejolak.
Baca Juga: Kondisi Khartoum Relatif Tenang Saat Gencatan Senjata
Pertempuran telah terkonsentrasi di ibu kota, banyak di antaranya telah menjadi zona perang yang dilanda penjarahan dan bentrokan.
Saksi mata mengatakan pertempuran dilanjutkan setelah gencatan senjata berakhir pada pukul 6 pagi waktu setempat di utara Omdurman, salah satu dari tiga kota yang berdampingan, bersama dengan Khartoum dan Bahri, yang membentuk ibu kota di sekitar pertemuan Sungai Nil.
Penduduk mengatakan telah terjadi tembakan artileri di daerah Sharq el-Nil di pinggiran timur ibu kota, dan di sekitar jembatan yang menghubungkan Omdurman dan Bahri. Ledakan dan bentrokan juga dilaporkan terjadi di Khartoum.
Perang antara tentara Sudan dan paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF) pecah pada 15 April karena ketegangan terkait dengan rencana yang didukung internasional untuk transisi menuju pemerintahan sipil.
Konflik tersebut telah membuat lebih dari 1,9 juta orang mengungsi, memicu krisis kemanusiaan besar yang mengancam akan menyebar ke seluruh wilayah yang bergejolak.
Baca Juga: Kondisi Khartoum Relatif Tenang Saat Gencatan Senjata
Pertempuran telah terkonsentrasi di ibu kota, banyak di antaranya telah menjadi zona perang yang dilanda penjarahan dan bentrokan.
Lihat Juga :