Ribuan Orang Mengungsi dari Khartoum, Mayat-mayat Bergelimpangan di Jalan

Kamis, 20 April 2023 - 03:30 WIB
loading...
Ribuan Orang Mengungsi...
Ribuan orang meninggalkan Ibu Kota Sudan, Khartoum, di tengah bentrokan bersenjata antara tentara dan paramiliter RSF. Foto/BBC
A A A
KHARTOUM - Ribuan penduduk meninggalkan Ibu Kota Sudan , Khartoum, di mana saksi mata melaporkan mayat-mayat bergelimpangan dijalanan akibat pertempuran antara tentara dan paramiliter. Sebanyak 270 warga sipil dilaporkan tewas akibat konflik tersebut.

"Hidup di Khartoum tidak mungkin jika perang ini tidak berhenti," ujar seorang warga, Alawya al-Tayeb (33), yang tengah dalam perjalanan keluar dari Ibu Kota.

"Saya mencoba membuat anak-anak tidak melihat mayat yang terbunuh di jalanan," ujarnya, menambahkan bahwa anak-anaknya menderita trauma dan membutuhkan perawatan seperti dikutip dari New Arab, Kamis (20/4/2023).

Ribuan orang mengambil tindakan sendiri dan, menurut saksi mata, mulai meninggalkan Khartoum dengan mobil atau berjalan kaki.

Mereka mengatakan udara dipenuhi dengan bau mayat yang berserakan di jalanan.

"Kami sekarang dalam perjalanan ke Madani untuk tinggal bersama kerabat kami setelah keluarga dan anak-anak saya hidup dalam teror ledakan," kata Mohamed Saleh (43), seorang pegawai pemerintah.

Baca Juga: Jepang Mulai Persiapkan Evakuasi Warganya dari Sudan

"Kami sangat khawatir pejuang akan mulai menyerbu rumah," imbuhnya.

Sebelumnya paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF) mengatakan mereka akan berkomitmen penuh untuk gencatan senjata penuh mulai pukul 06.00 waktu setempat selama 24 jam, seperti yang dilakukan tentara.

Namun pada waktu yang ditentukan, tembakan masih terdengar di seluruh Khartoum, menurut para saksi.

Itu adalah hari kedua berturut-turut gencatan senjata kemanusiaan yang diusulkan gagal dilaksanakan, dengan tentara Sudan dan RSF saling menyalahkan pada Selasa karena melanggar gencatan senjata.

Kekerasan di Sudan meletus pada Sabtu lalu antara pasukan dua jenderal yang merebut kekuasaan dalam kudeta 2021: panglima militer Abdel Fattah al-Burhan dan wakilnya Mohamed Hamdan Daglo yang memimpin RSF.

Burhan dan Daglo menggulingkan Omar al-Bashir bersama-sama pada April 2019 menyusul protes massal terhadap pemerintahan tangan besi selama tiga dekade.

Pada Oktober 2021 pasangan tersebut memimpin kudeta terhadap pemerintah sipil yang dibentuk setelah penggulingan Bashir, menggagalkan transisi yang didukung secara internasional.

Baca Juga: WHO: Rumah Sakit di Sudan Kehabisan Staf dan Stok Obat

Burhan, yang naik pangkat di bawah Bashir, menyatakan bahwa kudeta "diperlukan" untuk membawa lebih banyak faksi ke dalam politik.

Tapi Daglo, yang menjadi terkenal selama kebijakan bumi hangus pemerintah Bashir melawan pemberontak Darfuri, sejak itu menyebut kudeta itu sebagai "kesalahan" yang gagal membawa perubahan dan memperkuat sisa-sisa Bashir.

Bentrok ini adalah buntut perselisihan sengit di antara mereka mengenai rencana integrasi RSF ke dalam tentara reguler - syarat utama untuk kesepakatan akhir yang bertujuan memulihkan transisi demokrasi Sudan.

Tembakan senjata berat bergema dan ledakan yang memekakkan telinga mengguncang gedung-gedung di Khartoum - kota berpenduduk lima juta orang - saat gumpalan asap hitam tebal membubung dari gedung-gedung di sekitar markas tentara.

Pejuang RSF di atas kendaraan lapis baja dan truk pikap yang sarat dengan senjata memenuhi jalanan. Jet tempur meraung di atas kepala dan menembaki target RSF, kata para saksi.

Pertempuran telah merusak bangunan perumahan dan komersial, dan warga sipil yang berlindung di rumah mereka menjadi semakin putus asa, dengan berkurangnya persediaan makanan, pemadaman listrik, dan kekurangan air yang mengalir.

Baca Juga: KBRI Khartoum Salurkan Bantuan di Tengah Konflik Sudan

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
7 Alasan Penjagaan Putin...
7 Alasan Penjagaan Putin Diperketat, dari Konflik Elite Moskow hingga Kudeta MIliter
UEA Bayar Tentara Bayaran...
UEA Bayar Tentara Bayaran Kolombia untuk Membantu Militan Sudan Bunuh Warga Sipil
Putra Mahkota Arab Saudi...
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman Surati 'Sheikh Mata-mata' UEA soal Yaman dan Sudan
Intel Rusia Tuduh Prancis...
Intel Rusia Tuduh Prancis Rencanakan Kudeta di Negara-negara Bekas Jajahannya di Afrika
Jenderal Zhang Disingkirkan,...
Jenderal Zhang Disingkirkan, Tak Ada Lagi Jenderal China yang Berani pada Xi Jinping
Xi Jinping dan Krisis...
Xi Jinping dan Krisis Komando PLA: Kasus Zhang Youxia Ungkap Konflik Internal China
Terima Dubes Yassir...
Terima Dubes Yassir Mohamed, Baznas Perkuat Sinergi Bantuan Kemanusiaan untuk Sudan
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Catat! Biaya Visa Masuk...
Catat! Biaya Visa Masuk Jepang Naik 5 Kali Lipat, Jadi Rp1,7 Juta
Rekomendasi
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Anggota Polri dan TNI...
Anggota Polri dan TNI Gugur saat Selamatkan Anak Tenggelam di Pantai Maluku Tenggara
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Berita Terkini
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved