Hampir Tembak Jatuh Pesawat Inggris, Rusia-NATO Selangkah Lagi Perang Habis-habisan

Senin, 10 April 2023 - 06:57 WIB
loading...
Hampir Tembak Jatuh...
Rusia dan NATO selangkah lagi perang habis-habisan setelah jet tempur Moskow hampir tembak jatuh pesawat mata-mata Inggris. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Rusia dan NATO hanya selangkah lagi dari potensi perang habis-habisan tahun lalu setelah jet tempurMoskow hampir menembak jatuh pesawat mata-mata Inggris.

Itu diungkap Washington Post dalam laporan hari Minggu (9/4/2023), mengutip dokumen baru dari "harta karun" bocoran dokumen rahasia Pentagon.

Menurut laporan tersebut, insiden yang terjadi pada akhir September 2022 itu diduga jauh lebih serius daripada yang diakui London sebelumnya.

Kembali keOktober 2022, Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace memberi tahu Parlemen tentang insiden itu, menambahkan bahwa Moskow menyalahkan masalah teknis dan London menerima penjelasan tersebut.

Baca Juga: Rusia-Ukraina Perang, NATO Bersiap Unjuk Kekuatan Terbesar Libatkan 200 Pesawat

Dokumen tersebut, yang dilihat oleh Washington Post, menggambarkannya sebagai “hampir jatuhnya RJ Inggris”—mengacu pada moniker "River Joint" yang umum untuk pesawat mata-mata RC-135 yang digunakan untuk mengumpulkan transmisi radio dan pesan elektronik.

Inggris mengatakan pada bulan Oktober lalu bahwa pesawat itu telah dicegat oleh dua pesawat tempur Su-27 Rusia di atas Laut Hitam, dengan salah satu dari mereka melepaskan rudal di dekat pesawat Inggris.

Menurut laporan Washington Post, insiden tersebut berpotensi memicu Pasal 5 Perjanjian NATO, kemungkinan mengarah pada keterlibatan langsung pasukan NATO dalam konflik di Ukraina, atau bahkan konflik langsung antara Moskow dan blok militer Barat.

Masih menurut laporan Washington Post, baik Amerika Serikat (AS), Inggris, maupun Rusia tidak mengomentari isi dokumen yang bocor itu.

Dokumen itu juga menyatakan bahwa AS mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap misi pengintaian di wilayah Laut Hitam dan khususnya mengatakan kepada Angkatan Udaranya untuk menjauh dari Semenanjung Crimea.

Sebuah peta yang terdapat dalam dokumen tersebut menunjukkan beberapa garis yang ditarik di atas bagian Laut Hitam untuk menandai area di mana pesawat pengintai Amerika dapat dan tidak dapat terbang. Salah satunya berjarak sekitar 12 mil laut lepas pantai Crimea—jarak yang menandai perairan teritorial suatu negara di bawah hukum internasional.

Baca Juga: Terungkap, Jet Tempur Rusia Tembakkan Rudal ke Dekat Pesawat Mata-mata Inggris

Satu lagi yang ditarik sekitar 50 mil laut dari pantai disebut "SECDEF Directed Standoff". Menurut media AS tersebut, garis ini mungkin mengindikasikan bahwa Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin diduga telah memerintahkan Angkatan Udara AS untuk menjauhkan pesawat mereka dari Semenanjung Crimea.

Lebih lanjut, dokumen itu mengatakan tidak seperti Prancis dan Inggris yang melakukan penerbangan pengintaian berawak di atas Laut Hitam, AS mengandalkan drone, termasuk RQ-4 Global Hawk, RQ-170 Sentinel, dan MQ-9 Reaper. Beberapa penerbangan tak berawak semacam itu dilakukan Amerika setiap bulan.

Pada bulan Maret lalu, Pentagon menuduh pilot Rusia terbang sembrono dan mengeklaim bahwa salah satu jet Rusia telah menabrak baling-baling pesawat tak berawak MQ-9 Reaper AS, menyebabkannya jatuh ke Laut Hitam.

Rusia membantah jet tempurnya telah menabrak drone AS atau menggunakan senjata untuk melawannya. Moskow juga mengatakan pesawat AS terbang dengan transponder dimatikan di zona larangan terbang yang dinyatakan oleh militer Rusia.

Sebuah video yang diduga diambil oleh drone Amerika menunjukkan jet tempur Sukhoi Su-27 berdengung di atasnya dan diduga mengeluarkan bahan bakar dalam prosesnya. Menurut CNN, Pentagon telah mengalihkan rute penerbangan drone pengintai di atas Laut Hitam setelah insiden tersebut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Hadiri LCAW 2026, Menteri...
Hadiri LCAW 2026, Menteri Jumhur Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Raja Charles di London
Janggal, Jubir Angkatan...
Janggal, Jubir Angkatan Laut Garda Revolusi Iran Tewas akibat Kecelakaan
Rekomendasi
Rahasia Keharmonisan...
Rahasia Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Kisah Umar bin Khattab
Rekor Terburuk Sejak...
Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
Hadir di CEO Talks Unand,...
Hadir di CEO Talks Unand, Pegadaian Ajak Generasi Muda Melek Investasi Sejak Dini
Berita Terkini
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Infografis
Sistem Perang Elektronik...
Sistem Perang Elektronik Rusia Bikin Senjata NATO Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved