Uji Klinis, Kandidat Vaksin Covid-19 Menghasilkan Imunitas

Kamis, 16 Juli 2020 - 11:12 WIB
loading...
Uji Klinis, Kandidat...
Sukarelawan mendapatkan suntikan vaksin corona yang dikembangkan Universitas Queensland, Brisbane, Australia, kemarin. Foto/Reuters
A A A
CHICAGO - Kandidat vaksin corona (Covid-19) menunjukkan hasil yang menggembirakan saat uji klinis terhadap 45 sukarelawan kesehatan. Namun, itu adalah tahapan awal dari pengembangan vaksin corona.

Para sukarelawan yang mendapatkan dua dosis vaksin korona ternyata memiliki antibodi yang meningkat di atas rata-rata. Itu sama seperti orang yang berhasil sembuh dari Covid-19. Hal itu dilaporkan pada New England Journal of Medicine.

Yang menarik adalah tidak ada efek samping serius yang berbahaya. Hanya separuh sukarelawan yang merasakan reaksi ringan seperti kelelahan, sakit kepala, dan nyeri otot setelah disuntik vaksin. Gejala ringan juga dialami setelah mereka mendapatkan dosis kedua.

“Kita tidak melihat peristiwa yang menunjukkan efek samping serius,” kata Lisa Jackson, peneliti Kaiser Permanente Washington Health Research Institute di Seattle, AS. Efek samping serius adalah sukarelawan yang harus menjalani perawatan di rumah sakit atau kematian akibat menjalani uji klinis vaksin corona.

Kandidat vaksin yang dinyatakan berhasil itu diproduksi Moderna, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS). Mereka telah menguji vaksin kepada manusia pada 16 Maret lalu. (Baca: Sanksi Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan, Efefktifkah?)

Pada Juni lalu, Moderna telah memilih dosis 100 mikrogram untuk meminimalisasi efek samping. Dengan dosis itu, Moderna bisa memproduksi 500 juta dosis per tahun dan kemungkinan 1 miliar dosis per tahun pada 2021. Mereka juga akan bekerja sama dengan perusahaan farmasi asal Swiss, Lonza.

Menurut William Schaffner, peneliti vaksin dari Universitas Vanderbilt, hasil yang ditunjukkan vaksin Modern merupakan langkah yang baik. “Itu akan mendukung uji klinis fase kedua dan ketiga,” katanya.

Para pakar menyatakan vaksin merupakan solusi jangka panjang dari pandemi virus corona yang mengakibatkan jutaan orang terinfeksi dan sebanyak 575.000 orang meninggal. Tanpa vaksin, virus corona tetap akan menjadi pandemi. Karena itu, banyak negara dan perusahaan farmasi ikut mengembangkan vaksin corona.

Direktur Institute Nasional untuk Penyakit Infeksi dan Alergi AS Anthony Fauci mengatakan kabar kandidat vaksin yang dikembangkan Moderna merupakan berita baik. “Jika tidak ada dampak serius, vaksin itu mampu membunuh virus atau menghasilkan antibodi,” ujarnya.

Dia mengatakan, jika vaksin itu mampu menghasilkan antibodi, itu adalah pemenangnya. “Itulah kenapa kita senang dengan hasil tersebut,” ungkapnya. (Baca juga: Larang Huawei, Inggris Bantah Dipengaruhi AS)

Saham Moderna langsung naik lebih dari 15% sejak diperdagangkan pada Selasa lalu. Pemerintah AS mendukung pengembangan vaksin Moderna dengan dana sekitar setengah miliar dolar AS.

Moderna mengembangkan vaksin bernama mRNA-1273 dengan menggunakan ribonucleic acid (RNA) yang mampu memproduksi protein. Ketika disuntikkan kepada orang, vaksin itu akan meminta sel memproduksi protein untuk melawan virus corona. Vaksin itu juga akan menganggap virus corona sebagai penyerang asing sehingga respons kebebalan tumbuh semakin meningkat.

Sebelumnya, perusahaan farmasi yang menjalin kemitraan dengan Pemerintah AS akan mulai memproduksi vaksin Covid-19 sekitar satu bulan lagi. Otoritas terkait AS akan menyiapkan seluruh bahan mentah yang dibutuhkan, seragam manufaktur, dan perlengkapan lainnya. AS telah membantu mendanai pengembangan empat calon vaksin Covid-19 melalui Operation Warp Speed Program dan menargetkan jumlah produksi sekitar 300 juta dosis pada 2021.

Pemerintah AS telah memberikan dana mulai dari ratusan juta dolar AS hingga USD1 miliar kepada Johnson & Johnson, Moderna Inc., AstraZeneca Plc, dan Novovax Inc.. AS juga menandatangani kontrak senilai USD450 juta dengan Regeneron Pharmaceuticals Inc. untuk jasa terapi bagi pasien Covid-19.

Sebelumnya, para investor Wall Street memperkirakan vaksin virus corona (Covid-19) akan tersedia sebelum Pemilu AS pada November mendatang. "Berdasarkan data yang kami kumpulkan, kami yakin bahwa kita akan mendapatkan vaksin sebelum pemilu," ucap investor kesehatan Wall Street, Jared Holz, dilansir India Times. Dia mengatakan, Pemerintah AS saat ini akan memberikan insentif satu vaksin yang efektif sebelum pemilu pada 3 November. (Lihat videonya: Tak Hanya HH, Sejumlah Selebritas Ini Juga Pernah Terlibat Prostitusi Online)

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan ratusan juta vaksin corona (Covid-19) akan diproduksi pada akhir tahun ini. Vaksin tersebut akan diberikan kepada mereka yang rentan terhadap infeksi virus tersebut. Virus corona telah menginfeksi lebih dari 8,36 juta orang di seluruh dunia. Sebanyak 447.985 orang meninggal dipicu oleh virus corona. Banyak pihak meyakini pandemi virus corona hanya bisa diatasi dengan vaksin Covid-19.

Banyak negara sudah memesan vaksin Covid-19 yang sedang dalam tahap pengembangan para peneliti. Itu dilakukan jauh hari untuk memastikan warganya mendapatkan akses vaksin tersebut. Empat negara Uni Eropa, yakni Prancis, Jerman, Italia, dan Belanda telah memesan 400 juta dosis vaksin Covid-19 yang dikembangkan AstraZeneca.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menjamin semua anggota Uni Eropa akan mendapatkan vaksin tersebut. Pemerintahan di Eropa bergerak cepat untuk mengamankan proses pemesan dan pembelian untuk imunisasi massal Covid-19. Ketika proses imunisasi bisa berlangsung cepat, pemulihan ekonomi di negara tersebut juga akan semakin cepat. (Muh Shamil)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
WHO: Wabah Hantavirus...
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
Hakim AS Perintahkan...
Hakim AS Perintahkan China Bayar Ganti Rugi Rp391 Triliun dalam Kasus Covid-19
3 Proyek Kontroversial...
3 Proyek Kontroversial yang Dituding Dijalankan USAID, dari Senjata Biologis hingga Covid
Elon Musk: USAID Danai...
Elon Musk: USAID Danai Riset Senjata Biologis, Termasuk Proyek Kemunculan Covid-19
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Wapres JD Vance: Israel...
Wapres JD Vance: Israel Berusaha Pengaruhi Kebijakan Politik AS
Rekomendasi
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Gempa Magnitudo 4,1...
Gempa Magnitudo 4,1 Kembali Guncang Sigi, BMKG Catat 1.163 Gempa Susulan Pascagempa M6,7
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Berita Terkini
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
6 Tentara Israel Tewas...
6 Tentara Israel Tewas dalam 3 Hari Terakhir Akibat Sergapan Hizbullah
Meski IRGC Tutup Selat...
Meski IRGC Tutup Selat Hormuz, Perundingan Damai AS dan Iran Digelar di Swiss
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
Infografis
Jadwal Imsakiyah Ramadan...
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H, Kamis 19 Februari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved