Estonia: Rusia Mungkin Kehabisan Rudal dalam Tiga Bulan

Sabtu, 28 Januari 2023 - 21:29 WIB
loading...
Estonia: Rusia Mungkin...
Estonia sebut Rusia kemungkinan akan kehabisan rudal dalam tiga bulan. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
TALLIN - Rusia mungkin tidak memiliki cukup rudal untuk terus melakukan serangan besar-besaran terhadap Ukraina selama lebih dari tiga bulan. Hal itu diungkapkan seorang pejabat intelijen Estonia setelah serangan terbaru Rusia terhadap tetangganya di Eropa timur.

Kepala Intelijen Estonia Margo Grosberg mengatakan bahwa berdasarkan kemampuan Rusia saat ini untuk memproduksi amunisi yang dipandu dengan presisi, Moskow dapat terus melakukan serangan rudal terhadap Ukraina selama tiga hingga empat bulan lagi seperti dilaporkan stasiun radio Estonia, ERR, pada hari Jumat. Tapi ini adalah prospek "paling optimis" untuk berapa lama serangan bisa berlanjut.

"Prospek yang lebih pesimistis adalah bahwa Rusia berpotensi melanjutkan serangan selama enam hingga sembilan bulan lagi," kata Grosberg seperti dikutip dari Newsweek, Sabtu (28/1/2023).

Menurut Grosberg, berapa lama serangan pada akhirnya akan berlangsung tergantung pada berapa banyak amunisi berpemandu presisi yang dimiliki Rusia sebelum dimulainya perang pada Februari 2022 — diperkirakan sekitar 2.500 rudal — dan produksi rudal yang berkelanjutan.

Baca: Menlu Ukraina Berharap Indonesia Terlibat Proses Perdamaian

Newsweek tidak dapat memverifikasi intelijen secara independen dan menghubungi Kementerian Pertahanan Rusia untuk konfirmasi dan komentar.

Grosberg bukan satu-satunya pejabat yang memperkirakan akhir serangan Rusia karena pasokan rudal. Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Oleksiy Danilov kepada outlet berita Ukraina Pravda bulan lalu juga mengatakan bahwa Rusia hanya memiliki cukup rudal untuk melakukan tiga hingga empat serangan lagi.

Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov juga mengatakan dalam sebuah postingan di Twitter pada awal bulan ini bahwa pasukan Rusia hanya memiliki 90 drone buatan Iran, yang telah digunakan untuk menyerang Ukraina, yang tersisa.

Kementerian Pertahanan Rusia pada akhir Desember berjanji bahwa mereka "tidak akan pernah" kehabisan Kalibr, sejenis rudal jelajah Rusia.

Sejak Oktober 2022, Rusia telah melakukan gelombang serangan terhadap Ukraina, menargetkan wilayah sipil dan infrastruktur penting seperti fasilitas energi. Serangan dimulai setelah Jembatan Selat Kerch, yang menghubungkan Rusia ke semenanjung Crimea yang diduduki dan juga merupakan jalur pasokan utama bagi pasukan Putin, dihantam ledakan pada Oktober.

Baca: Bilang Eropa Sedang Perang dengan Rusia, Menlu Jerman Dikecam Ramai-ramai

Ukraina tidak secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut, tetapi Putin menyalahkan Ukraina, menyebutnya sebagai tindakan "terorisme", dan berjanji untuk meresponsnya.

Gelombang serangan terbaru terjadi pada hari Kamis. Valerii Zaluzhnyi, Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, mengatakan dalam sebuah postingan Telegram bahwa Rusia menembakkan 55 rudal berbasis udara dan laut dari pesawat dan kapal yang ditempatkan di Laut Hitam.

Ukraina mampu menghancurkan 47 rudal, termasuk 20 yang berada "di wilayah" ibu kota Ukraina, Kyiv, kata Zaluzhnyi.

"Tujuan Rusia tetap sama—tekanan psikologis pada Ukraina dan penghancuran infrastruktur penting," tambahnya. "Tapi kita tidak bisa dihancurkan!"

Baca: Tak Tanggung-tanggung, Polandia Siap Kirim 60 Tank Tempur ke Ukraina
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Berunding di Qatar 30 Juni
Rekomendasi
Masyarakat Indonesia...
Masyarakat Indonesia Bangun Islamic Centre Pertama dan Terbesar di Melbourne dari Eks Kantor Polisi
Betrand Peto Ungkap...
Betrand Peto Ungkap Momen Canggung Ruben Onsu Bertemu Sarwendah Sebelum Berangkat Umrah
Kejutan! Maroko Singkirkan...
Kejutan! Maroko Singkirkan Belanda Lewat Drama Adu Penalti
Berita Terkini
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved