Sedikitnya 151 Orang Tewas dalam Perang Suku di Sudan
Sabtu, 22 Oktober 2022 - 10:05 WIB
Negara bagian Nil Biru telah menyaksikan bentrok antar suku atas sengketa tanah pada Juli lalu, dan meletus pada September, yang dikatakan oleh PBB mengakibatkan 149 orang tewas dan hampir 65.000 mengungsi awal bulan ini.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (22/10/2022), dalam sebuah pernyataan PBB mengatakan perang suku terbaru pecah pada satu minggu lalu tepatnya pada 13 Oktober. Perang ini melibatkan suku Hausa dan Hamaj selain suku lain di daerah Wad Almahi selama beberapa hari.
Saksi mata mengatakan kepada Reuters bahwa bentrokan berlanjut pada hari Rabu. Sumber-sumber medis mengatakan kepada Reuters bahwa mereka yang tewas termasuk wanita dan anak-anak, dengan tanda-tanda luka tembak, terbakar, dan ditikam.
Baca: Idul Adha di Sudan Diwarnai Aksi Protes Terhadap Kekuasaan Militer
Awal pekan ini, kekerasan berkobar di provinsi selatan lainnya, Kordofan Barat, menyusul perselisihan suku atas tanah. Militer Sudan menuduh kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Abdelaziz al-Hilu, yang tidak menandatangani perjanjian, memperburuk konflik, sementara kelompok itu dalam sebuah pernyataan menuduh Pasukan Dukungan Cepat paramiliter.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (22/10/2022), dalam sebuah pernyataan PBB mengatakan perang suku terbaru pecah pada satu minggu lalu tepatnya pada 13 Oktober. Perang ini melibatkan suku Hausa dan Hamaj selain suku lain di daerah Wad Almahi selama beberapa hari.
Saksi mata mengatakan kepada Reuters bahwa bentrokan berlanjut pada hari Rabu. Sumber-sumber medis mengatakan kepada Reuters bahwa mereka yang tewas termasuk wanita dan anak-anak, dengan tanda-tanda luka tembak, terbakar, dan ditikam.
Baca: Idul Adha di Sudan Diwarnai Aksi Protes Terhadap Kekuasaan Militer
Awal pekan ini, kekerasan berkobar di provinsi selatan lainnya, Kordofan Barat, menyusul perselisihan suku atas tanah. Militer Sudan menuduh kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Abdelaziz al-Hilu, yang tidak menandatangani perjanjian, memperburuk konflik, sementara kelompok itu dalam sebuah pernyataan menuduh Pasukan Dukungan Cepat paramiliter.
Lihat Juga :