Serang Demonstran, Mantan Bodyguard Macron Dihukum 3 Tahun Penjara
Sabtu, 06 November 2021 - 10:50 WIB
Kasusnya dikenal sebagai "Benallagate", yang kemudian menjadi ujian besar pertama untuk kepresidenan Macron. Sang presiden telah dituduh menutup-nutupi kasus penyerangan itu karena gagal melaporkan Benalla ke polisi sampai akhirnya harian Prancis Le Monde mengungkapkan keberadaan video itu dua bulan setelah insiden.
Benalla membantah tuduhan di persidangannya, mengatakan dia telah bertindak secara refleks untuk membantu petugas menangkap pengunjuk rasa yang nakal.
Benalla mulai bekerja sebagai pengawal Macron pada tahun 2016 dan dipromosikan ke peran keamanan senior setelah kemenangan Macron pada pemilu Mei 2017, menjadi orang kepercayaan dan tangan kanan yang terlihat di sisi Macron dalam banyak foto.
Setelah skandal itu pecah, Benalla juga mengaku membawa pistol saat jalan-jalan dengan Macron, meskipun ia hanya diizinkan memilikinya di dalam markas partai Macron, di mana ia dijuluki "Rambo".
Penyelidik menemukan bahwa dia terus menggunakan paspor diplomatik untuk perjalanan ke Afrika dan Israel, di mana dia mencoba membangun bisnis konsultasi.
Dia juga dinyatakan bersalah menggunakan dokumen palsu untuk mendapatkan salah satu paspor.
Membacakan putusan, hakim ketua Isabelle Prevost-Desprez mengatakan bahwa Benalla tampaknya percaya dia dapat bertindak dengan "kekebalan hukum" dan "merasa sangat berkuasa" selama dan setelah pekerjaannya untuk presiden.
Benalla membantah tuduhan di persidangannya, mengatakan dia telah bertindak secara refleks untuk membantu petugas menangkap pengunjuk rasa yang nakal.
Benalla mulai bekerja sebagai pengawal Macron pada tahun 2016 dan dipromosikan ke peran keamanan senior setelah kemenangan Macron pada pemilu Mei 2017, menjadi orang kepercayaan dan tangan kanan yang terlihat di sisi Macron dalam banyak foto.
Setelah skandal itu pecah, Benalla juga mengaku membawa pistol saat jalan-jalan dengan Macron, meskipun ia hanya diizinkan memilikinya di dalam markas partai Macron, di mana ia dijuluki "Rambo".
Penyelidik menemukan bahwa dia terus menggunakan paspor diplomatik untuk perjalanan ke Afrika dan Israel, di mana dia mencoba membangun bisnis konsultasi.
Dia juga dinyatakan bersalah menggunakan dokumen palsu untuk mendapatkan salah satu paspor.
Membacakan putusan, hakim ketua Isabelle Prevost-Desprez mengatakan bahwa Benalla tampaknya percaya dia dapat bertindak dengan "kekebalan hukum" dan "merasa sangat berkuasa" selama dan setelah pekerjaannya untuk presiden.
Lihat Juga :