AS Ketar-ketir dengan Senjata Nuklir China usai Kapal Selam Beijing Tembakkan Rudal Antarbenua
Selasa, 07 Juli 2026 - 09:45 WIB
loading...
Kapal selam China uji tembak rudal balistik antarbenua di Samudra Pasifik, membuat AS khawatir dengan persenjataan nuklir Beijing. Foto/CCTV
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada hari Senin menyuarakan kekhawatiran atas program nuklir Beijing setelah kapal selam nuklir China berhasil menguji tembak rudal balistik antarbenua (ICBM) ke Samudra Pasifik. ICBM yang ditembakkan tanpa membawa hulu ledak nuklir.
Manuver tersebut terjadi dua tahun setelah China menembakkan ICBM ke perairan dekat Polinesia Prancis, yang merupakan peluncuran rudal semacam itu pertama kalinya di atas perairan internasional dalam lebih dari 40 tahun.
Baca Juga: Aliansi Pertahanan Australia-Fiji Ditandatangani, China Uji Coba Rudal di Pasifik
Para analis mengatakan bahwa uji coba tersebut menunjukkan meningkatnya kemampuan China untuk menyerang daratan Amerika Serikat, yang memandang kekuatan Asia itu sebagai musuh utamanya meskipun ada upaya rekonsiliasi di bawah Presiden Donald Trump.
"Pada saat Amerika Serikat bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk mencegah proliferasi nuklir, China melakukan hal sebaliknya," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott.
"Peningkatan senjata nuklir Beijing yang cepat dan tidak transparan sangat mengkhawatirkan bagi kawasan dan dunia," lanjut Pigott, yang dikutip AFP, Selasa (7/7/2026).
Amerika Serikat pada bulan Februari membiarkan berakhirnya New START, pakta pengendalian senjata utama terakhir dengan Rusia, karena bersikeras pada perjanjian baru yang juga mencakup China.
Upaya tersebut telah ditolak oleh China, yang persenjataan nuklirnya jauh lebih kecil daripada Rusia tetapi telah berkembang pesat.
Manuver tersebut terjadi dua tahun setelah China menembakkan ICBM ke perairan dekat Polinesia Prancis, yang merupakan peluncuran rudal semacam itu pertama kalinya di atas perairan internasional dalam lebih dari 40 tahun.
Baca Juga: Aliansi Pertahanan Australia-Fiji Ditandatangani, China Uji Coba Rudal di Pasifik
Para analis mengatakan bahwa uji coba tersebut menunjukkan meningkatnya kemampuan China untuk menyerang daratan Amerika Serikat, yang memandang kekuatan Asia itu sebagai musuh utamanya meskipun ada upaya rekonsiliasi di bawah Presiden Donald Trump.
"Pada saat Amerika Serikat bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk mencegah proliferasi nuklir, China melakukan hal sebaliknya," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott.
"Peningkatan senjata nuklir Beijing yang cepat dan tidak transparan sangat mengkhawatirkan bagi kawasan dan dunia," lanjut Pigott, yang dikutip AFP, Selasa (7/7/2026).
Amerika Serikat pada bulan Februari membiarkan berakhirnya New START, pakta pengendalian senjata utama terakhir dengan Rusia, karena bersikeras pada perjanjian baru yang juga mencakup China.
Upaya tersebut telah ditolak oleh China, yang persenjataan nuklirnya jauh lebih kecil daripada Rusia tetapi telah berkembang pesat.
Lihat Juga :