Mantan Anggota Parlemen Partainya Erdogan Tertular Covid-19 di Penjara

Senin, 28 September 2020 - 09:02 WIB
Parlemen mengesahkan undang-undang pada bulan April yang memungkinkan pembebasan puluhan ribu tahanan untuk mengurangi kepadatan di penjara dan melindungi tahanan dari virus corona. Namun, undang-undang tersebut mengecualikan narapidana yang dipenjara atas tuduhan terorisme, termasuk İşbilen dan banyak lainnya terlibat dalam tindakan keras setelah upaya kudeta pada tahun 2016. (Baca: Dikritik Erdogan, Perwakilan Israel Walk Out dari Sidang Umum PBB )

Dipenjara sejak akhir 2015, mantan anggota parlemen itu pada Juni 2018 dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Dia dihukum atas tuduhan terlibat dalam kudeta yang gagal tahun 2016, meskipun faktanya dia telah dipenjara jauh sebelum itu terjadi.

İşbilen dituduh terkait dengan gerakan Gulen, sebuah kelompok berbasis agama yang diilhami oleh ulama Turki Fethullah Gülen. Rezim Erdoğan menuduh Gulen mengatur kudeta yang gagal dan menyebut gerakan itu sebagai organisasi teroris. Hidup dalam pengasingan yang dilakukan sendiri di Amerika Serikat, Gulen menyangkal keterlibatan apa pun dalam upaya kudeta atau aktivitas teroris apa pun.

Mantan anggota parlemen tersebut mengundurkan diri dari AKP pada Februari 2014 sebagai protes atas penyelidikan korupsi di kalangan pemerintahan Erdogan pada akhir 2013. Saat mengumumkan pengunduran dirinya pada konferensi pers, İşbilen menuduh pemerintah mengawasi dia dan keluarganya, mengacu pada alat penyadap yang ditanam aparat di rumahnya. (Baca juga: Erdogan Peringatkan Macron: Jangan Main-main dengan Turki! )

Tuduhannya kemudian dikonfirmasi dalam sebuah laporan oleh Nordic Monitor, sebuah jaringan penelitian dan pemantauan yang berbasis di Stockholm yang berfokus pada ekstremisme, terorisme, kejahatan, kebijakan luar negeri, keamanan dan masalah militer.

Organisasi tersebut tahun lalu mengungkapkan dokumen resmi, termasuk foto, video, dan transkrip percakapan telepon yang menunjukkan bahwa İşbilen dan keluarganya diawasi secara teratur oleh polisi Turki.

Mirip dengan İşbilen, tahanan lain dinyatakan mati otak pada hari Selasa setelah pingsan di sel penjaranya pada 15 September, sebagaimana dilaporkan Bold Medya. Cengiz Karakurt, mantan guru berusia 41 tahun, juga berada di balik jeruji besi atas tuduhan keanggotaan dalam gerakan Gulen.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!