Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China

Jum'at, 24 Juli 2026 - 08:55 WIB
Anushka menyoroti kampanye antikorupsi yang berlangsung sejak 2023 dan menyasar sejumlah pejabat Departemen Pengembangan Peralatan PLA, Pasukan Roket PLA, serta pimpinan sejumlah perusahaan pertahanan besar seperti AVIC, NORINCO, China National Nuclear Corporation (CNNC), dan China Academy of Engineering Physics (CAEP).

“Rangkaian penyelidikan tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam proses pengadaan senjata, evaluasi kualitas, hingga pengembangan teknologi,” tutur Anushka.

Dia berpendapat bahwa jika kontrak pengadaan lebih banyak ditentukan oleh jaringan dan praktik suap dibandingkan pengujian yang kompetitif, maka komponen berkualitas rendah berpotensi lolos ke tahap produksi, termasuk untuk varian ekspor.

Selain tantangan dari dalam negeri, Anushka juga menilai tekanan eksternal terhadap industri pertahanan China terus meningkat.

Dia menyoroti perluasan daftar US 1260H List yang diperbarui pada Juni 2026 dan kini mencakup 188 entitas, termasuk perusahaan swasta besar seperti Alibaba, Baidu, dan BYD yang dinilai mendukung kompleks industri militer China.

Masalah Kualitas hingga Rantai Pasok



Meski daftar tersebut secara langsung hanya membatasi hubungan bisnis dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dampak tidak langsungnya membuat perusahaan-perusahaan kontraktor utama di Amerika harus menerapkan proses uji kelayakan (due diligence) yang lebih ketat terhadap rantai pasok yang memiliki keterkaitan dengan perusahaan-perusahaan China.

Anushka juga memperkirakan persaingan di pasar ekspor senjata akan semakin ketat apabila Rusia dan Amerika Serikat kembali meningkatkan kapasitas ekspor setelah kebutuhan industri pertahanan akibat perang di Ukraina mulai berkurang.

Dia mencatat data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) periode 2021-2025 menunjukkan posisi China telah turun ke peringkat kelima eksportir senjata dunia setelah disalip Jerman. Selain itu, sekitar tiga perlima ekspor senjata China masih bergantung pada satu pembeli utama.

Sejumlah negara juga mulai menunjukkan tanda-tanda diversifikasi pemasok. Nigeria, misalnya, dilaporkan kembali membuka pembicaraan dengan Rusia terkait tank T-90S, sementara Kenya mempertimbangkan kendaraan lapis baja dari Afrika Selatan maupun Amerika Serikat.

Anushka menilai peluang China menjadi mitra pertahanan utama bagi lebih banyak negara masih menghadapi hambatan besar dalam beberapa tahun mendatang.

Persoalan tersebut bukan semata karena seluruh sistem persenjataan China berkualitas buruk, melainkan karena kombinasi tantangan pada kualitas produk, tekanan geopolitik, persoalan rantai pasok, serta krisis kredibilitas di dalam industri pertahanan itu sendiri.

“Lima tahun ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat apakah strategi Beijing menggunakan ekspor senjata sebagai sarana memperluas pengaruh geopolitiknya mampu menghasilkan pasar baru atau justru semakin menghadapi tantangan di tingkat global,” pungkas Anushka.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!