Oxfam: Separuh Vaksin Covid-19 Dunia Sudah Dikuasai Negara-negara Kaya
Kamis, 17 September 2020 - 18:55 WIB
"Perhitungan tersebut mengekspos sistem rusak yang melindungi monopoli dan keuntungan perusahaan farmasi dan menguntungkan negara-negara kaya, sementara secara artifisial membatasi produksi dan membuat sebagian besar populasi dunia menunggu lebih lama dari yang diperlukan untuk mendapatkan vaksin," ungkap badan yang berbasis di Nairobi, Kenya tersebut.
Oxfam, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (17/9/2020), mencatat bahwa meskipun perusahaan Amerika Serikat (AS), Moderna sejauh ini telah menjanjikan dosis vaksin masa depannya secara eksklusif kepada negara-negara kaya untuk mendapatkan keuntungan.
Sementara itu, AstraZeneca, jelas Oxfam, juga telah berjanji untuk menyediakan dua pertiga dosis untuk negara-negara berkembang. ( Baca juga: RI Gandeng UNICEF dan Genjot Kerja Sama demi Vaksin Covid-19 Murah )
"Oxfam dan organisasi lain di seluruh dunia menyerukan Vaksin Rakyat, tersedia untuk semua orang, gratis dan didistribusikan secara adil berdasarkan kebutuhan. Ini hanya akan mungkin jika perusahaan farmasi mengizinkan vaksin diproduksi seluas mungkin dengan membagikannya secara bebas. Pengetahuan yang bebas dari paten, alih-alih melindungi monopoli mereka dan menjual kepada penawar tertinggi," ungkapnya.
Oxfam, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (17/9/2020), mencatat bahwa meskipun perusahaan Amerika Serikat (AS), Moderna sejauh ini telah menjanjikan dosis vaksin masa depannya secara eksklusif kepada negara-negara kaya untuk mendapatkan keuntungan.
Sementara itu, AstraZeneca, jelas Oxfam, juga telah berjanji untuk menyediakan dua pertiga dosis untuk negara-negara berkembang. ( Baca juga: RI Gandeng UNICEF dan Genjot Kerja Sama demi Vaksin Covid-19 Murah )
"Oxfam dan organisasi lain di seluruh dunia menyerukan Vaksin Rakyat, tersedia untuk semua orang, gratis dan didistribusikan secara adil berdasarkan kebutuhan. Ini hanya akan mungkin jika perusahaan farmasi mengizinkan vaksin diproduksi seluas mungkin dengan membagikannya secara bebas. Pengetahuan yang bebas dari paten, alih-alih melindungi monopoli mereka dan menjual kepada penawar tertinggi," ungkapnya.
(esn)
Lihat Juga :