5 Tujuan Latihan Militer China, dari Picu Kekhawatiran Invasi ke Taiwan hingga Mempermainkan AS

Selasa, 30 Desember 2025 - 10:18 WIB
Ini menandai putaran ketujuh latihan perang besar-besaran China di sekitar Taiwan sejak 2022, ketika Ketua DPR Amerika Serikat saat itu, Nancy Pelosi, mengunjungi pulau tersebut.

William Yang, analis senior Asia Timur Laut di lembaga think tank International Crisis Group, mengatakan bahwa jenis latihan yang mensimulasikan blokade Taiwan ini secara bertahap telah menjadi "rutinitas" operasi militer mereka.

Namun, Yang menyuarakan kekhawatiran atas semakin sempitnya waktu antara pengumuman dan dimulainya latihan.

"Ini menunjukkan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) semakin mampu mengerahkan pasukan dengan cepat ke posisi siap tempur," katanya.

3. Menguji Tekad AS

Langkah militer terbaru China ini terjadi beberapa hari setelah Amerika Serikat mengumumkan paket penjualan senjata senilai USD11,1 miliar (€9,45 miliar) untuk Taiwan. Jika disetujui oleh Kongres, ini akan menjadi kesepakatan senjata Amerika terbesar yang pernah ada dengan pulau tersebut.

"PLA sedang menguji bagaimana pemerintah AS akan merespons," kata Yang.

Pekan lalu, Beijing menjatuhkan sanksi terhadap 20 perusahaan terkait pertahanan Amerika dan 10 eksekutif sebagai bentuk protes atas penjualan senjata AS ke Taiwan. Namun Yang mengatakan sanksi ini sebagian besar bersifat "simbolis" dan dampaknya sangat kecil.

"Itulah mengapa Beijing masih merasa perlu melakukan latihan militer skala besar untuk secara langsung menunjukkan ketidakpuasannya," tambahnya.

Hubungan antara dua ekonomi terbesar di dunia ini tetap sangat kompetitif selama setahun terakhir, meskipun saluran komunikasi tetap terbuka.

Dalam strategi keamanan nasional baru yang dirilis awal bulan ini, pemerintahan Trump menekankan persaingan perdagangan dengan China, sementara laporan terbaru Pentagon kepada Kongres menyoroti peningkatan dan modernisasi militer China dalam konteks potensi persiapan invasi Taiwan.

Dengan meluncurkan putaran latihan militer lainnya, Beijing juga dapat menguji apakah AS akan merespons dengan tindakan keras atau mengambil pendekatan yang lebih terukur untuk menjaga kondisi kunjungan Presiden Donald Trump ke China tahun depan, kata Yang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!