Myanmar Bongkar Kompleks Penipuan Myawaddy, Jaringan China Diduga Terlibat

Senin, 17 November 2025 - 12:10 WIB



"Bagian dari Masalah"



Selama ini, Beijing mempromosikan Belt and Road Initiative (BRI) sebagai upaya pembangunan kawasan. Namun di Kamboja dan Myanmar, sejumlah investasi yang terkait BRI kerap dikaitkan dengan aktivitas ilegal, termasuk kasino gelap hingga pusat penipuan daring. Prince Group menjadi salah satu contoh menonjol, dengan pendanaan besar, perlindungan politik, dan pengaruh ekonomi yang luas.

Langkah AS terhadap Chen Zhi dapat menjadi titik balik dalam penanganan kejahatan siber lintas negara. Namun kasus ini juga menyoroti keterbatasan soft power China serta tantangan dari sistem politiknya yang tertutup. Dalam hitungan hari, sanksi AS memicu tindakan yang tidak pernah dicapai pendekatan China selama bertahun-tahun.

Sebagian netizen China bahkan menyampaikan kritik tajam di media sosial. “Setelah bertahun-tahun minum obat China tidak ada efek, satu suntikan obat Barat langsung sembuh,” tulis seorang netizen. Beberapa netizen lain lebih blakblakan: “Bukan karena CCP tidak bisa menangani Myawaddy. Masalahnya, CCP justru bagian dari masalah itu sendiri.”

Skandal Prince Group bukan sekadar isu kriminal regional, tetapi gambaran lebih luas tentang bagaimana jaringan korupsi, eksploitasi, dan penipuan digital dapat tumbuh dalam bayang-bayang kekuasaan.

Ketika ribuan orang meninggalkan KK Park menuju Thailand, pertanyaan lebih besar pun muncul: berapa banyak lagi “Prince Group” lain yang beroperasi di bawah pengaruh Beijing? Dan sampai kapan masyarakat internasional mentoleransi perkembangan jaringan penipuan global yang menimbulkan penderitaan begitu besar?
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!