China Dituduh Ingin Senjata Nuklirnya Meneror Amerika Serikat
Jum'at, 01 Agustus 2025 - 08:00 WIB
Menurut lembaga tersebut, China—yang memiliki persenjataan nuklir terbesar ketiga di dunia—memanfaatkan perkembangan nuklirnya yang maju pesat untuk menghalau musuh, yaitu Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Asia.
"Modernisasi persenjataan nuklir memungkinkan China menyerang rencana (strategi) dan sekutu musuh, membawa China selangkah lebih dekat untuk menaklukkan musuh dan menang tanpa harus berperang," kata para penulis laporan tersebut mengutip Filipina, Jepang, dan Korea Selatan sebagai contoh.
Dalam kasus Filipina, China menggunakan "ancaman nuklir tersirat" untuk mencegah Filipina bergabung atau berintegrasi secara militer ke dalam upaya yang dipimpin Washington melawan Beijing jika terjadi konflik Selat Taiwan. China telah berulang kali mengancam akan merebut Taiwan yang berpemerintahan sendiri dengan paksa.
Sementara itu, "perang psikologis nuklir" China akan menghasilkan dampak strategis bagi Jepang—yang dilindungi oleh pencegahan yang diperluas AS, yang juga dikenal sebagai payung nuklir—yang "memperburuk rasa tidak aman bagi Jepang dan aliansi AS-Jepang", menurut laporan tersebut.
Bagi Korea Selatan, yang berfokus terutama pada ancaman nuklir dari Korea Utara, modernisasi nuklir China belum dianggap sebagai masalah langsung atau tantangan serius. Namun, Beijing dapat menggunakan "ancaman nuklir tersirat" jika Seoul setuju untuk menampung senjata nuklir Amerika.
"Dengan kata lain, seiring China mempercepat modernisasi nuklir, AS dan sekutunya perlu meyakinkan Beijing bahwa hal itu hanya akan mempercepat persenjataan konvensional AS dan sekutunya, yang membuat kemenangan militer China atas Taiwan semakin kecil kemungkinannya dan lebih mahal," bunyi kesimpulan laporan Hudson Institute, sebagaimana dikutip Newsweek, Jumat (1/8/2025).
"Modernisasi persenjataan nuklir memungkinkan China menyerang rencana (strategi) dan sekutu musuh, membawa China selangkah lebih dekat untuk menaklukkan musuh dan menang tanpa harus berperang," kata para penulis laporan tersebut mengutip Filipina, Jepang, dan Korea Selatan sebagai contoh.
Dalam kasus Filipina, China menggunakan "ancaman nuklir tersirat" untuk mencegah Filipina bergabung atau berintegrasi secara militer ke dalam upaya yang dipimpin Washington melawan Beijing jika terjadi konflik Selat Taiwan. China telah berulang kali mengancam akan merebut Taiwan yang berpemerintahan sendiri dengan paksa.
Sementara itu, "perang psikologis nuklir" China akan menghasilkan dampak strategis bagi Jepang—yang dilindungi oleh pencegahan yang diperluas AS, yang juga dikenal sebagai payung nuklir—yang "memperburuk rasa tidak aman bagi Jepang dan aliansi AS-Jepang", menurut laporan tersebut.
Bagi Korea Selatan, yang berfokus terutama pada ancaman nuklir dari Korea Utara, modernisasi nuklir China belum dianggap sebagai masalah langsung atau tantangan serius. Namun, Beijing dapat menggunakan "ancaman nuklir tersirat" jika Seoul setuju untuk menampung senjata nuklir Amerika.
"Dengan kata lain, seiring China mempercepat modernisasi nuklir, AS dan sekutunya perlu meyakinkan Beijing bahwa hal itu hanya akan mempercepat persenjataan konvensional AS dan sekutunya, yang membuat kemenangan militer China atas Taiwan semakin kecil kemungkinannya dan lebih mahal," bunyi kesimpulan laporan Hudson Institute, sebagaimana dikutip Newsweek, Jumat (1/8/2025).
Lihat Juga :