Jenderal Tertinggi Zionis Perintahkan Tentara Israel Bersiap Invasi Darat Lebanon
Kamis, 26 September 2024 - 07:31 WIB
Sedangkan Hizbullah mengatakan pasukannya telah menargetkan markas badan mata-mata Israel, Mossad, di pinggiran Tel Aviv pada pagi hari—pertama kalinya mereka menembakkan rudal balistik dalam hampir setahun bentrokan lintas batas yang dipicu oleh perang Gaza.
Sebagai respons, Israel mengatakan telah menyerang 60 situs intelijen Hizbullah, di antara ratusan target kelompok itu yang diserang di seluruh Lebanon.
Hal itu terjadi di tengah meningkatnya bentrokan lintas batas, setelah serangan Israel pada hari Senin menewaskan sedikitnya 558 orang dalam hari kekerasan paling mematikan sejak perang saudara Lebanon tahun 1975-1990.
Nour Hamad, seorang mahasiswa berusia 22 tahun di kota Baalbek, Lebanon timur, menggambarkan kehidupannya "dalam keadaan teror" sepanjang pekan.
"Kami menghabiskan empat atau lima hari tanpa tidur, tidak tahu apakah kami akan bangun di pagi hari," katanya.
Di Tel Aviv, sirene meraung-raung menyusul peluncuran rudal Hizbullah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Warga Tel Aviv, Hedva Fadlon (61), mengatakan kepada AFP: "Situasinya sulit. Kami merasakan tekanan dan ketegangan...Saya rasa tidak seorang pun di dunia ini ingin hidup seperti ini."
Sebagai respons, Israel mengatakan telah menyerang 60 situs intelijen Hizbullah, di antara ratusan target kelompok itu yang diserang di seluruh Lebanon.
Hal itu terjadi di tengah meningkatnya bentrokan lintas batas, setelah serangan Israel pada hari Senin menewaskan sedikitnya 558 orang dalam hari kekerasan paling mematikan sejak perang saudara Lebanon tahun 1975-1990.
Nour Hamad, seorang mahasiswa berusia 22 tahun di kota Baalbek, Lebanon timur, menggambarkan kehidupannya "dalam keadaan teror" sepanjang pekan.
"Kami menghabiskan empat atau lima hari tanpa tidur, tidak tahu apakah kami akan bangun di pagi hari," katanya.
Di Tel Aviv, sirene meraung-raung menyusul peluncuran rudal Hizbullah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Warga Tel Aviv, Hedva Fadlon (61), mengatakan kepada AFP: "Situasinya sulit. Kami merasakan tekanan dan ketegangan...Saya rasa tidak seorang pun di dunia ini ingin hidup seperti ini."
Lihat Juga :