Tiga Negara Eropa Ini Longgarkan Pembatasan Saat Lockdown
Selasa, 14 April 2020 - 20:01 WIB
"Ini belum, 'hore, sudah berakhir, dan sekarang kita melanjutkan seolah-olah semuanya selesai'," ujar wakil kepala Pusat Kesehatan Masyarakat di Universitas Kedokteran Wina, Profesor Hans-Peter Hutter, seperti dikutip dari Russia Today.
Sekitar 504.000 orang terdaftar menganggur di Austria pada awal April ini, sehingga pemerintah berharap tindakan awal untuk membendung gelombang infeksi awal dapat dicerminkan oleh pembukaan kembali ekonomi sebelumnya.
Denmark juga berada di antara negara-negara Eropa pertama yang memberlakukan lockdown ketat pada warganya. Itu dilakukan guna menghindari lonjakan yang signifikan dalam kasus virus Corona. Langkah ini berbeda dengan negara tetangganya, Swedia, yang mengandalkan teoris herd immunity.
Awalnya kebijakan ini mendapat dukungan, namun kini muncul reaksi yang berlawanan. Denmark akan membuka kembali pusat penitipan anak dan sekolah pada 15 April, sebelum akhirnya membuka toko kecil dan toko DIY, kemudian taman serta toko yang lebih besar, dan kemudian pembukaan kembali secara bertahap bar, hotel dan restoran untuk membangkitkan ekonomi. Meski begitu, masyarakat akan diminta untuk memakai masker.
Keputusan negara itu untuk mengirimkan kembali anak-anak ke sekolah sebagai langkah awal pelonggaran batasan lockdown memicu protes dari warga Denmark. Mereka pun membentuk grup di Facebook, “Mit barn skal ikke være forsøgskanin for Covid-19” - yang jika diartikan secara bebas adalah anak saya bukan marmut untuk Covid-19. Saat ini, grup tersebut telah memiliki lebih dari 39 ribu anggota.
Sekitar 504.000 orang terdaftar menganggur di Austria pada awal April ini, sehingga pemerintah berharap tindakan awal untuk membendung gelombang infeksi awal dapat dicerminkan oleh pembukaan kembali ekonomi sebelumnya.
Denmark juga berada di antara negara-negara Eropa pertama yang memberlakukan lockdown ketat pada warganya. Itu dilakukan guna menghindari lonjakan yang signifikan dalam kasus virus Corona. Langkah ini berbeda dengan negara tetangganya, Swedia, yang mengandalkan teoris herd immunity.
Awalnya kebijakan ini mendapat dukungan, namun kini muncul reaksi yang berlawanan. Denmark akan membuka kembali pusat penitipan anak dan sekolah pada 15 April, sebelum akhirnya membuka toko kecil dan toko DIY, kemudian taman serta toko yang lebih besar, dan kemudian pembukaan kembali secara bertahap bar, hotel dan restoran untuk membangkitkan ekonomi. Meski begitu, masyarakat akan diminta untuk memakai masker.
Keputusan negara itu untuk mengirimkan kembali anak-anak ke sekolah sebagai langkah awal pelonggaran batasan lockdown memicu protes dari warga Denmark. Mereka pun membentuk grup di Facebook, “Mit barn skal ikke være forsøgskanin for Covid-19” - yang jika diartikan secara bebas adalah anak saya bukan marmut untuk Covid-19. Saat ini, grup tersebut telah memiliki lebih dari 39 ribu anggota.
Lihat Juga :