Rawan Jadi Target Serangan, PLTN UEA Picu Kontroversi

Senin, 03 Agustus 2020 - 11:12 WIB
Ketika UEA mengumumkan proyek PLTN Barakah pada 2009, negeri nuklir memang lebih murah dibandingkan tenaga surya dan angin. Tapi, pada 2012, ketika UEA mulai membangun reaktor nuklir, investasi listrik tenaga surya dan angin justru lebih murah dan menurun drastis. Pada 2009-2019, biaya investasi energi tata surat turun 89% dan energi angin turun hingga 43%. Sementara biaya investasi PLTN meningkat menjadi 26%.

Peneliti Energy Institute Universitas College London Paul Dorfman mengkritik reaktor Barakah yang memiliki desain dan kualitas murahan. Dia mengungkapkan reaktor Barakah tidak memiliki kemampuan untuk menangkal kebocoran. Reaktor tersebut juga tidak memiliki Generation III Defence-In-Depth yang mampu menahan serangan misil. “Padahal, dua kekuatan itu menjadi standar reaktor nuklir baru yang dibangun di Eropa,” kata Dorfman.

Selain itu, Dorfman menegaskan tidak adanya protokol di Timur Tengah untuk menentukan kelayakan suatu PLN dalam menangkal radioaktif yang bisa menyebar ke negara tetangga. “Barakah memiliki permasalahan keamanan dan keselamatan yang penting di negara Teluk. Jika tidak, banyak negara lain yang bisa menjadi korban jika terjadi kebocoran,” katanya, kepada Al Jazeera. (Lihat videonya: Satu Keluarga Makan Bersama di Bahu Jalan Tol Cipali Viral di Medsos)

PLTN Barakah berlokasi di Abu Dubai yang dibangun Korea Electric Power Corporation (KEPCO). Awalnya, PLTN itu seharusnya dibuka pada 2017, tapi berulang kali ditunda. “Itu menjadi reaktor energi nuklir damai pertama di negara-negara Arab,” kata penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum. Itu juga menjadi langkah nyata Dubai mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.

CEO ENEC Mohamed Ibrahim al-Hammadi mengungkapkan, Dubai kini semakin bisa mewujudkan upaya untuk menyuplai seperempat pasokan listrik. “PLTN juga bisa memperkuat pertumbuhan masa depan dengan aman dan listrik bebas emisi,” ujar Al-Hammadi, dilansir Reuters. PLTN itu mampu menghasilkan 5.600 megawatt dan UEA tidak mengumumkan investasi untuk proyek tersebut. (Muh Shamil)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!