Bocah Suriah Sekarat Kena Senjata Kimia, Anggota PBB Menangis
Sabtu, 18 April 2015 - 16:08 WIB
Bocah Suriah Sekarat Kena Senjata Kimia, Anggota PBB Menangis
A
A
A
NEW YORK - Anggota Dewan Keamanan PBB meneteskan air mata saat menyaksikan video bocah Suriah sekarat akibat terkena serangan senjata kimia jenis gas klorin.
Video penderitaan bocah Suriah itu ditunjukkan seorang dokter Suriah yang merawat korban konflik selama bulan lalu. Bocah itu satu dari setengah lusin warga sipil yang dirawat dokter bernama Mohammad Tennari. Dokter ini juga menjadi saksi mata dahsyatnya serangan di Suriah.
Video yang ditunjukkan dokter Suriah itu diambil pada 16 Maret di kotanya, Sarmin, Provinsi Idlib. Dalam video itu, tiga anak usia satu hingga tiga tahun sedang disadarkan para relawan kemanusiaan. Namun, mereka akhirnya tewas.
Yang memprihatinkan, ruang medis yang begitu sempit membuat salah satu dari tiga bocah itu terpaksa berbaring di atas nenek mereka yang juga tewas.
”Semua orang berbau seperti pemutih dan suara helikopter terdengar,” kata Tennari kepada wartawan yang kemudian menunjukkan video itu. Dia mengatakan sebagian besar korban konflik di kotanya adalah perempuan dan anak-anak.
Amerika Serikat (AS) dan anggota DK PBB lainnya telah berulang kali menyalahkan Pemerintah Suriah atas serangan tersebut. Tennari kemarin bertemu dengan delegasi Rusia untuk PBB serta delegasi lain untuk membujuk Moskow agar bergenti menggunakan hak vetonya untuk setiap tindakan yang diusulkan DK PBB untuk mengatasi konflik Suriah yang sudah berlangsung empat tahun ini.
Dokter lain yang hadir dalam briefing, Zaher Sahloul, dari Syria American Medical Society, mengecam serangan yang menargetkan warga sipil. ”Semua orang setuju, bahwa anak tidak boleh dibunuh,” katanya, seperti dilansir Al Arabiya, Sabtu (18/4/2015).
Menurut Sahloul, dari 15 anggota DK PBB rata-rata kompak ketika mengusung resolusi untuk Suriah, kecuali Rusia, China dan Venezuela. Setiap anggota DK PBB yang menyaksikan video itu, kata dia, menangis.
Video penderitaan bocah Suriah itu ditunjukkan seorang dokter Suriah yang merawat korban konflik selama bulan lalu. Bocah itu satu dari setengah lusin warga sipil yang dirawat dokter bernama Mohammad Tennari. Dokter ini juga menjadi saksi mata dahsyatnya serangan di Suriah.
Video yang ditunjukkan dokter Suriah itu diambil pada 16 Maret di kotanya, Sarmin, Provinsi Idlib. Dalam video itu, tiga anak usia satu hingga tiga tahun sedang disadarkan para relawan kemanusiaan. Namun, mereka akhirnya tewas.
Yang memprihatinkan, ruang medis yang begitu sempit membuat salah satu dari tiga bocah itu terpaksa berbaring di atas nenek mereka yang juga tewas.
”Semua orang berbau seperti pemutih dan suara helikopter terdengar,” kata Tennari kepada wartawan yang kemudian menunjukkan video itu. Dia mengatakan sebagian besar korban konflik di kotanya adalah perempuan dan anak-anak.
Amerika Serikat (AS) dan anggota DK PBB lainnya telah berulang kali menyalahkan Pemerintah Suriah atas serangan tersebut. Tennari kemarin bertemu dengan delegasi Rusia untuk PBB serta delegasi lain untuk membujuk Moskow agar bergenti menggunakan hak vetonya untuk setiap tindakan yang diusulkan DK PBB untuk mengatasi konflik Suriah yang sudah berlangsung empat tahun ini.
Dokter lain yang hadir dalam briefing, Zaher Sahloul, dari Syria American Medical Society, mengecam serangan yang menargetkan warga sipil. ”Semua orang setuju, bahwa anak tidak boleh dibunuh,” katanya, seperti dilansir Al Arabiya, Sabtu (18/4/2015).
Menurut Sahloul, dari 15 anggota DK PBB rata-rata kompak ketika mengusung resolusi untuk Suriah, kecuali Rusia, China dan Venezuela. Setiap anggota DK PBB yang menyaksikan video itu, kata dia, menangis.
(mas)