Protes Pembakaran 43 Siswa, Presiden Meksiko Dicap Pembunuh
Selasa, 11 November 2014 - 11:00 WIB
Protes Pembakaran 43 Siswa, Presiden Meksiko Dicap Pembunuh
A
A
A
ACAPULCO - Ribuan demonstran di Meksiko marah atas pembunuhan dan pembakaran 43 siswa dan guru oleh geng pembunuh bayaran. Massa meneriaki Presiden Enrique Nieta dengan sebutan pembunuh.
Demonstrasi itu berujung bentrok dengan polisi. Massa sebelumnya mengepung sebuah bandara di Acapulco selama berjam-jam dan mendesak Presiden Nieta pulang dari kunjungannya di forum APEC di Beijing. (Baca: Tragisnya 43 Siswa dan Guru di Meksiko)
Dari ribuan demonstran itu, sebagian besar adalah rekan-rekan korban dan para orang tua korban. Puluhan siswa dan guru itu dibunuh geng pembunuh bayaran dan tubuh mereka dibakar pada bulan September 2014. Pembunuhan massal itu terjadi setelah sebelumnya muncul demonstrasi yang mengkritik pemerintah.
Kasus itu dianggap sebagai kasus paling menjijikkan di Meksiko. Jaksa Agung Jesus Murillo Karam ragu para korban bisa diidentifikasi, karena yang tersisa hanya dua tulang-tulang yang hangus. Sisanya telah menjadi abu.
”Pena, Pena, keluar! Pembunuh! Tinggalkan China,” teriak para demonstran mengacu pada keputusan kontroversial presiden untuk menghadiri forum APEC di Beijing di tengah kemarahan publik atas kasus pembunuhan massal itu.
Para pengunjuk rasa memblokir pintu masuk bandara selama lebih dari tiga jam. Beberapa demonstran bertopeng, seperti dikutip AFP, Selasa (11/11/2014) juga tampak siaga dengan senjata tongkat.
Sebelum mencapai bandara, para pengunjuk rasa melemparkan batu dan bom molotov ke arah polisi anti-huru hara yang menghalangi jalan mereka. Sedikitnya 20 petugas terluka dalam insiden itu.
Dalam perkembangan kasus itu, jaksa setempat menyatakan, 43 siswa dan guru itu diculik oleh geng narkoba Guerreros Unidos. Namun, motif pembunuhan massal itu sampai saat ini masih mencurigakan.
Demonstrasi itu berujung bentrok dengan polisi. Massa sebelumnya mengepung sebuah bandara di Acapulco selama berjam-jam dan mendesak Presiden Nieta pulang dari kunjungannya di forum APEC di Beijing. (Baca: Tragisnya 43 Siswa dan Guru di Meksiko)
Dari ribuan demonstran itu, sebagian besar adalah rekan-rekan korban dan para orang tua korban. Puluhan siswa dan guru itu dibunuh geng pembunuh bayaran dan tubuh mereka dibakar pada bulan September 2014. Pembunuhan massal itu terjadi setelah sebelumnya muncul demonstrasi yang mengkritik pemerintah.
Kasus itu dianggap sebagai kasus paling menjijikkan di Meksiko. Jaksa Agung Jesus Murillo Karam ragu para korban bisa diidentifikasi, karena yang tersisa hanya dua tulang-tulang yang hangus. Sisanya telah menjadi abu.
”Pena, Pena, keluar! Pembunuh! Tinggalkan China,” teriak para demonstran mengacu pada keputusan kontroversial presiden untuk menghadiri forum APEC di Beijing di tengah kemarahan publik atas kasus pembunuhan massal itu.
Para pengunjuk rasa memblokir pintu masuk bandara selama lebih dari tiga jam. Beberapa demonstran bertopeng, seperti dikutip AFP, Selasa (11/11/2014) juga tampak siaga dengan senjata tongkat.
Sebelum mencapai bandara, para pengunjuk rasa melemparkan batu dan bom molotov ke arah polisi anti-huru hara yang menghalangi jalan mereka. Sedikitnya 20 petugas terluka dalam insiden itu.
Dalam perkembangan kasus itu, jaksa setempat menyatakan, 43 siswa dan guru itu diculik oleh geng narkoba Guerreros Unidos. Namun, motif pembunuhan massal itu sampai saat ini masih mencurigakan.
(mas)