Lavrov Desak AS Gunakan Pengaruhnya Terhadap Ukraina
Minggu, 15 Juni 2014 - 14:49 WIB
Lavrov Desak AS Gunakan Pengaruhnya Terhadap Ukraina
A
A
A
MOSKOW - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan pengaruhnya terhadap Ukraina agar mereka mau menghentikan operasi militer di tenggara dan timur Ukraina.
Melansir Itar-tar, Minggu 915/6/2014), Lavrov menyatakan hal tersebut ketika melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry pada Sabtu (14/6/2014) malam waktu setempat.
"Para Menteri Luar Negeri menekankan perlunya untuk segera menghentikan operasi militer di tenggara (Ukraina). Meskipun Kiev menjamin bahwa operasi akan terus berlanjut," ungkap Kementerian Luar Negeri Rusia.
"Tindakan yang dilakukan militer Ukraina termasuk serangan udara di permukiman menyebabkan banyak nyawa hilang dan provokasi di perbatasan Rusia, termasuk pelanggaran perbatasan negara," kementerian itu menambahkan.
Selama percakapan, Lavrov dan Kerry membahas situasi di Ukraina dalam konteks kontribusi internasional untuk menghentikan kekerasan di tenggara dan memulai dialog atas dasar peratutan dasar OSCE dan konfrensi Jenewa pada 17 April lalu.
Melansir Itar-tar, Minggu 915/6/2014), Lavrov menyatakan hal tersebut ketika melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry pada Sabtu (14/6/2014) malam waktu setempat.
"Para Menteri Luar Negeri menekankan perlunya untuk segera menghentikan operasi militer di tenggara (Ukraina). Meskipun Kiev menjamin bahwa operasi akan terus berlanjut," ungkap Kementerian Luar Negeri Rusia.
"Tindakan yang dilakukan militer Ukraina termasuk serangan udara di permukiman menyebabkan banyak nyawa hilang dan provokasi di perbatasan Rusia, termasuk pelanggaran perbatasan negara," kementerian itu menambahkan.
Selama percakapan, Lavrov dan Kerry membahas situasi di Ukraina dalam konteks kontribusi internasional untuk menghentikan kekerasan di tenggara dan memulai dialog atas dasar peratutan dasar OSCE dan konfrensi Jenewa pada 17 April lalu.
(esn)