Insiden Odessa, tragedi terburuk di Eropa pada abad 21
Rabu, 07 Mei 2014 - 17:33 WIB
Insiden Odessa, tragedi terburuk di Eropa pada abad 21
A
A
A
Sindonews.com – Tragedi yang terjadi di Odessa, disebut Rusia sebagai tragedi terburuk di Eropa pada abad ke-21. Demikian disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhael Y Galuzin, Rabu (7/5/2014).
Dalam tragedi pembakaran gedung di Odessa oleh massa pro-Kiev, pekan lalu setidaknya 42 orang tewas. Galuzin yang ditemui Sindonewsdi kediamannya, di Jakarta, menilai tragedi itu sebagai aksi pembantaian.
"Tindakan di Odessa adalah bentuk pembataian di abad ke-21, di mana massa pro-Kiev melempari bom molotov, menembak, dan memukuli warga lokal berbahasa Rusia hingga tewas. Tragedi di Oddesa adalah tindakan kriminal dari Kiev,” kecam Galuzin.
Galuzin juga menyangkan sikap para anggota polisi di wilayah tersebut yang seolah-olah membiarkan aksi pembantaian terjadi. Bahkan, menurut dia, polisi setempat seolah-olah membantu para penyerang.
Usai perjanjian Jenewa, kondisi di Ukraina tak kunjung membaik. Bahkan krisis di negara pecahan Uni Soviet itu justru kian memanas.Pemerintah Ukraina sendiri masih akan menggunakan kekuatan militer mereka untuk menindak kelompok separatis lokal pro-Rusia. Kiev menyebut operasi militer itu sebagai operasi anti-teroris.
Dalam tragedi pembakaran gedung di Odessa oleh massa pro-Kiev, pekan lalu setidaknya 42 orang tewas. Galuzin yang ditemui Sindonewsdi kediamannya, di Jakarta, menilai tragedi itu sebagai aksi pembantaian.
"Tindakan di Odessa adalah bentuk pembataian di abad ke-21, di mana massa pro-Kiev melempari bom molotov, menembak, dan memukuli warga lokal berbahasa Rusia hingga tewas. Tragedi di Oddesa adalah tindakan kriminal dari Kiev,” kecam Galuzin.
Galuzin juga menyangkan sikap para anggota polisi di wilayah tersebut yang seolah-olah membiarkan aksi pembantaian terjadi. Bahkan, menurut dia, polisi setempat seolah-olah membantu para penyerang.
Usai perjanjian Jenewa, kondisi di Ukraina tak kunjung membaik. Bahkan krisis di negara pecahan Uni Soviet itu justru kian memanas.Pemerintah Ukraina sendiri masih akan menggunakan kekuatan militer mereka untuk menindak kelompok separatis lokal pro-Rusia. Kiev menyebut operasi militer itu sebagai operasi anti-teroris.
(esn)