Dituduh tukang bohong, Rusia balas sebut AS bermuka dua
Jum'at, 07 Maret 2014 - 18:39 WIB
Dituduh tukang bohong, Rusia balas sebut AS bermuka dua
A
A
A
Sindonews.com – Pihak Rusia tidak terima dengan ledekan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia dan presidennya, Vladimir Putin. Dapartemen Luar Negeri AS menyebut Putin tukang bohong dan merilis 10 daftar kebohongan Rusia tentang apa yang terjadi di Ukraina.
Sebagai balasannya, Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh balik Departemen Luar Negeri AS bermuka dua. Sebab mereka menerapkan standar ganda dan propaganda tingkat rendah terhadap Presiden Putin tentang peristiwa yang terjadi di Ukraina.
”Departemen Luar Negeri (AS) sedang mencoba untuk bermain pada interpretasi tanpa malu-malu pada satu sisi peristiwa,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Aleksandr Lukashevich, semalam (6/3/2014), seperti dikutip Rusia Today.
“Tentu, Washington tidak bisa mengakui bahwa mereka memelihara Maidan (demonstran), mendorong kekerasan yang menggulingkan pemerintah yang sah. Dan dengan demikian, membuka jalan bagi mereka yang sekarang berpura-pura menjadi kekuatan yang sah di Kiev (Ibukota Ukraina),” lanjut Lukashhevich.
Aksi saling ledek antara AS dan Rusia itu, dipicu ulah Departemen Luar Negeri AS yang merilis 10 daftar kebohongan Putin atas krisis Ukraina. Moskow sebelumnya enggan menanggapi laporan tersebut, karena menganggap sebagai propaganda tingkat rendah.
”Kami hanya akan berkata, sekali lagi, bahwa kita berhadapan dengan arogansi yang tidak dapat diterima dan berpura-pura memiliki monopoli atas kebenaran,” kecam Lukashevich dalam pernyataan yang dimuat di situs Kementerian Luar Negeri Rusia.
Amerika, masih menurut Lukashevich, mengklaim memiliki “hak moral” untuk mengkuliahi dunia tentang hukum internasional dan cara menghormati kedaulatan negara-negara lain. ”(Tapi) bagaimana dengan pemboman bekas Yugoslavia atau invasi Irak, apakah itu klaim palsu?,” ledek Lukashevich.
Dia lantas merilis daftar intervensi militer AS terhadap negara-negara lain. Di antaranya, di Vietnam, Libanon, Republik Dominika, Grenada, Libya, dan Panama.
”Perang Vietnam merenggut nyawa dua juta warga sipil, belum lagi benar-benar menghancurkan negara dan mencemari lingkungan,” katanya sembari menyebut kejahatan lain akibat intervensi militer AS di negara-negara tersebut.
Sebagai balasannya, Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh balik Departemen Luar Negeri AS bermuka dua. Sebab mereka menerapkan standar ganda dan propaganda tingkat rendah terhadap Presiden Putin tentang peristiwa yang terjadi di Ukraina.
”Departemen Luar Negeri (AS) sedang mencoba untuk bermain pada interpretasi tanpa malu-malu pada satu sisi peristiwa,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Aleksandr Lukashevich, semalam (6/3/2014), seperti dikutip Rusia Today.
“Tentu, Washington tidak bisa mengakui bahwa mereka memelihara Maidan (demonstran), mendorong kekerasan yang menggulingkan pemerintah yang sah. Dan dengan demikian, membuka jalan bagi mereka yang sekarang berpura-pura menjadi kekuatan yang sah di Kiev (Ibukota Ukraina),” lanjut Lukashhevich.
Aksi saling ledek antara AS dan Rusia itu, dipicu ulah Departemen Luar Negeri AS yang merilis 10 daftar kebohongan Putin atas krisis Ukraina. Moskow sebelumnya enggan menanggapi laporan tersebut, karena menganggap sebagai propaganda tingkat rendah.
”Kami hanya akan berkata, sekali lagi, bahwa kita berhadapan dengan arogansi yang tidak dapat diterima dan berpura-pura memiliki monopoli atas kebenaran,” kecam Lukashevich dalam pernyataan yang dimuat di situs Kementerian Luar Negeri Rusia.
Amerika, masih menurut Lukashevich, mengklaim memiliki “hak moral” untuk mengkuliahi dunia tentang hukum internasional dan cara menghormati kedaulatan negara-negara lain. ”(Tapi) bagaimana dengan pemboman bekas Yugoslavia atau invasi Irak, apakah itu klaim palsu?,” ledek Lukashevich.
Dia lantas merilis daftar intervensi militer AS terhadap negara-negara lain. Di antaranya, di Vietnam, Libanon, Republik Dominika, Grenada, Libya, dan Panama.
”Perang Vietnam merenggut nyawa dua juta warga sipil, belum lagi benar-benar menghancurkan negara dan mencemari lingkungan,” katanya sembari menyebut kejahatan lain akibat intervensi militer AS di negara-negara tersebut.
(mas)