Rusia dan AS diadu pengkudeta Ukraina (2)
Rabu, 05 Maret 2014 - 18:16 WIB
Rusia dan AS diadu pengkudeta Ukraina (2)
A
A
A
Sindonews.com – Niat “buruk” pemerintahan baru di Ukraina--pengkudeta Presiden Viktor Yanukovych, telah tercium pihak Moskow. Niat yang dimaksud, adalah upaya mengadu kekuatan Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
Upaya itu, bahkan dirasakan sendiri Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov. Contoh, kata Menlu Rusia itu, adalah tindakan pengkudeta Ukraina yang memproklamirkan diri untuk saling menukar bantuan dengan AS. Di mana, pemerintahan baru Ukraina minta bantuan ekonomi AS, dengan imbalan, AS boleh menempatkan perisai pertahanan rudal AS.
”Itu mengeruhkan hubungan Barat dan Rusia,” ucap Lavrov, saat berada di Spanyol, Rabu (5/3/2014), seperti dikutip RT. Tawaran pengkudeta Ukraina pun disambut AS, dengan kunjungan Menlu AS, John Kerry kemarin.
Lavrov pun menyebut, Barat secara tidak langsung terlibat dalam kudeta terhadap sekutu Rusia, yakni Yanukovych. ”Kami yakin bahwa akar dari semua masalah di sini adalah bahwa masyarakat internasional tidak bereaksi terhadap protes anti - pemerintah pada waktu itu," kata Lavrov.
"Bahwa itu dilakukan oleh orang-orang bersenjata dan disertai dengan pelanggaran terlalu ilegal,” ujarnya. ”Pada dasarnya, itu adalah kudeta bersenjata.”
Namun, Duta Besar Ukraina untuk PBB, Yuriy Sergeyev, mematahkan, tuduhan Rusia itu saat berdebat dengan Dubes Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin.”Anda (Churkin) menyebutnya kudeta. Kami menyebutnya sebuah revolusi yang bermartabat,” ucap Sergeyev.
”Kami (Ukraina) memiliki pemahaman yang berbeda tentang hak asasi manusia daripada Anda (Rusia),” imbuh Sergeyev.
Upaya itu, bahkan dirasakan sendiri Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov. Contoh, kata Menlu Rusia itu, adalah tindakan pengkudeta Ukraina yang memproklamirkan diri untuk saling menukar bantuan dengan AS. Di mana, pemerintahan baru Ukraina minta bantuan ekonomi AS, dengan imbalan, AS boleh menempatkan perisai pertahanan rudal AS.
”Itu mengeruhkan hubungan Barat dan Rusia,” ucap Lavrov, saat berada di Spanyol, Rabu (5/3/2014), seperti dikutip RT. Tawaran pengkudeta Ukraina pun disambut AS, dengan kunjungan Menlu AS, John Kerry kemarin.
Lavrov pun menyebut, Barat secara tidak langsung terlibat dalam kudeta terhadap sekutu Rusia, yakni Yanukovych. ”Kami yakin bahwa akar dari semua masalah di sini adalah bahwa masyarakat internasional tidak bereaksi terhadap protes anti - pemerintah pada waktu itu," kata Lavrov.
"Bahwa itu dilakukan oleh orang-orang bersenjata dan disertai dengan pelanggaran terlalu ilegal,” ujarnya. ”Pada dasarnya, itu adalah kudeta bersenjata.”
Namun, Duta Besar Ukraina untuk PBB, Yuriy Sergeyev, mematahkan, tuduhan Rusia itu saat berdebat dengan Dubes Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin.”Anda (Churkin) menyebutnya kudeta. Kami menyebutnya sebuah revolusi yang bermartabat,” ucap Sergeyev.
”Kami (Ukraina) memiliki pemahaman yang berbeda tentang hak asasi manusia daripada Anda (Rusia),” imbuh Sergeyev.
(mas)