Krisis Ukraina & adu kuat dua adidaya dunia (1)
Rabu, 05 Maret 2014 - 17:51 WIB
Krisis Ukraina & adu kuat dua adidaya dunia (1)
A
A
A
Sindonews.com – Beberapa bulan lalu, ribuan orang membentuk rantai manusia dalam demonstrasi damai di Ibukota Kiev, Ukraina. Tuntutan mereka sepele. Yakni, agar pemerintahan Presiden Viktor Yanukovych menjalin kerjasama ekonomi dan keamanan dengan Uni Eropa.
Ribuan orang itu, sudah lama menginginkan negaranya, Ukraina berintegrasi dengan Uni Eropa. Lambat laun, demonstrasi itu berubah drastis. Kiev dan sekitarnya seperti kota yang kacau balau. Puluhan orang tewas saat bentrok dengan polisi anti-huru hara.
Puncaknya, amuk massa dalam jumlah besar-besaran dan tanpa henti, membuat Yanukovych membuat kesepakatan dengan wakil para demonstran. Salah satunya, digelar pemilu. Belum berjalan kesepakatan itu, tiba-tiba Yanukovych lari dari negaranya, dan parlemen menyatakan memecatnya. Sejak itu, muncul pemerintahan baru di negara yang sudah kacau itu.
Tamatnya, pemerintahan Yanukovych ternyata menjadi awal dari krisis yang lebih besar di negara itu. Rusia yang merupakan sekutu Yanukovych, menyiagakan militernya di Crimea—wilayah semi otonom Ukraina.
Pemerintah baru Ukraina, bahkan menuding Moskow mengerahkan ribuan tentara dan menyatakan perang terbuka. Mereka minta negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS) mendukung mereka dari ancaman Rusia.
Sebaliknya, Yanukovych, melalui suratnya kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, terang-terangan minta agar pasukan Moskow dikerahkan untuk melindungi warga Ukraina, karena pemerintahan baru di Kiev dianggap bentukan kelompok ekstremis.
AS dan Rusia terseret konflik
Saling minta bantuan itu, menyeret dua negara adidaya dunia, Rusia dan AS terlibat ketegangan. AS berulang kali menghujat Rusia dan mengancam akan memberikan ganjaran setimpal kepada Rusia atas intervensi militer di wilayah Ukraina.
”Kami sekarang sangat prihatin dengan laporan adanya gerakan militer yang dilakukan oleh Federasi Rusia di Ukraina,” kata Obama, seperti dikutip Reuters. ”AS akan berdiri dengan masyarakat internasional untuk menegaskan, bahwa akan ada ganjaran dari setiap intervensi militer (Rusia) di Ukraina,” lanjut Obama.
Tidak hanya itu, AS beberapa kali menyebut, Rusia melakukan agresi luar biasa terhadap tetangganya. AS juga menuding Rusia telah melanggar hukum internasional. Bahkan anggota parlemen AS, sudah mengusulkan agar aset-aset Rusia di luar negeri dibekukan sebagai ganjaran atas tindakan Moskow itu.
Namun, sebagai pesaing utama AS, Rusia tidak gentar. Rusia bahkan menjajal rudal balistik antar-benua ketika situasi di Crimea memanas. Uji tembak rudal itu, untuk menunjukkan kekuatan militer Rusia yang tak bisa dianggap remeh oleh siapa pun, termasuk AS sekalipun.
Saling kecam, saling ancam
Kecaman dibalas kecaman. Ancaman juga dibalas ancaman. Presiden Putin membalas kecaman Obama, dengan meminta pemerintahan Obama berkaca atas agresi militer mereka terhadap Irak, Afghanistan dan Libya, sebelum menghakimi Rusia.
”Ketika saya bertanya kepada mereka (AS); 'Apakah Anda percaya bahwa Anda melakukan segalanya itu sah? Mereka mengatakan, ya,’” ucap Putin menirukan pernyataan Pemerintah AS saat melakukan agresi militer terhadap negara lain.
“Dan saya harus mengingatkan mereka tentang tindakan AS di Afghanistan , Irak dan Libya, di mana mereka bertindak baik tanpa mandat Dewan Keamanan PBB atau dengan menyesatkan mandat, seperti yang terjadi di Libya,” lanjut Putin, seperti dikutip media Rusia, RT.
Sedangkan ancaman ekonomi AS, juga dibalas dengan acaman, bahwa, Moskow akan mengganti penggunaan mata uang internasional dari dolar AS dengan mata uang lain. Hal itu, akan membuat mata uang AS terpuruk. Selain itu, utang-utang pada bank AS juga tidak akan dilunasi, jika AS berani mengancam ekonomi Rusia.
Ribuan orang itu, sudah lama menginginkan negaranya, Ukraina berintegrasi dengan Uni Eropa. Lambat laun, demonstrasi itu berubah drastis. Kiev dan sekitarnya seperti kota yang kacau balau. Puluhan orang tewas saat bentrok dengan polisi anti-huru hara.
Puncaknya, amuk massa dalam jumlah besar-besaran dan tanpa henti, membuat Yanukovych membuat kesepakatan dengan wakil para demonstran. Salah satunya, digelar pemilu. Belum berjalan kesepakatan itu, tiba-tiba Yanukovych lari dari negaranya, dan parlemen menyatakan memecatnya. Sejak itu, muncul pemerintahan baru di negara yang sudah kacau itu.
Tamatnya, pemerintahan Yanukovych ternyata menjadi awal dari krisis yang lebih besar di negara itu. Rusia yang merupakan sekutu Yanukovych, menyiagakan militernya di Crimea—wilayah semi otonom Ukraina.
Pemerintah baru Ukraina, bahkan menuding Moskow mengerahkan ribuan tentara dan menyatakan perang terbuka. Mereka minta negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS) mendukung mereka dari ancaman Rusia.
Sebaliknya, Yanukovych, melalui suratnya kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, terang-terangan minta agar pasukan Moskow dikerahkan untuk melindungi warga Ukraina, karena pemerintahan baru di Kiev dianggap bentukan kelompok ekstremis.
AS dan Rusia terseret konflik
Saling minta bantuan itu, menyeret dua negara adidaya dunia, Rusia dan AS terlibat ketegangan. AS berulang kali menghujat Rusia dan mengancam akan memberikan ganjaran setimpal kepada Rusia atas intervensi militer di wilayah Ukraina.
”Kami sekarang sangat prihatin dengan laporan adanya gerakan militer yang dilakukan oleh Federasi Rusia di Ukraina,” kata Obama, seperti dikutip Reuters. ”AS akan berdiri dengan masyarakat internasional untuk menegaskan, bahwa akan ada ganjaran dari setiap intervensi militer (Rusia) di Ukraina,” lanjut Obama.
Tidak hanya itu, AS beberapa kali menyebut, Rusia melakukan agresi luar biasa terhadap tetangganya. AS juga menuding Rusia telah melanggar hukum internasional. Bahkan anggota parlemen AS, sudah mengusulkan agar aset-aset Rusia di luar negeri dibekukan sebagai ganjaran atas tindakan Moskow itu.
Namun, sebagai pesaing utama AS, Rusia tidak gentar. Rusia bahkan menjajal rudal balistik antar-benua ketika situasi di Crimea memanas. Uji tembak rudal itu, untuk menunjukkan kekuatan militer Rusia yang tak bisa dianggap remeh oleh siapa pun, termasuk AS sekalipun.
Saling kecam, saling ancam
Kecaman dibalas kecaman. Ancaman juga dibalas ancaman. Presiden Putin membalas kecaman Obama, dengan meminta pemerintahan Obama berkaca atas agresi militer mereka terhadap Irak, Afghanistan dan Libya, sebelum menghakimi Rusia.
”Ketika saya bertanya kepada mereka (AS); 'Apakah Anda percaya bahwa Anda melakukan segalanya itu sah? Mereka mengatakan, ya,’” ucap Putin menirukan pernyataan Pemerintah AS saat melakukan agresi militer terhadap negara lain.
“Dan saya harus mengingatkan mereka tentang tindakan AS di Afghanistan , Irak dan Libya, di mana mereka bertindak baik tanpa mandat Dewan Keamanan PBB atau dengan menyesatkan mandat, seperti yang terjadi di Libya,” lanjut Putin, seperti dikutip media Rusia, RT.
Sedangkan ancaman ekonomi AS, juga dibalas dengan acaman, bahwa, Moskow akan mengganti penggunaan mata uang internasional dari dolar AS dengan mata uang lain. Hal itu, akan membuat mata uang AS terpuruk. Selain itu, utang-utang pada bank AS juga tidak akan dilunasi, jika AS berani mengancam ekonomi Rusia.
(mas)