Pembajak pesawat AS nyerah, setelah 3 dekade lari ke Kuba
Rabu, 06 November 2013 - 15:39 WIB
Pembajak pesawat AS nyerah, setelah 3 dekade lari ke Kuba
A
A
A
Sindonews.com - William Potts, telah lama jadi buronan aparat Amerika Serikat (AS) setelah dia membajak sebuah maskapai penerbangan AS pada tahun 1984. Dia yang selama tiga dekade ini bersembunyi di Havanda Kuba, pada Rabu (6/11/2013), memilih menyerah dan pulang ke Miami, AS untuk menghadapi pengadilan.
”Saya mengalami emosi yang campur aduk, saya katakan, bahwa setidaknya saya menyentuh tanah Amerika untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun,” kata Potts. ”Begitu banyak yang telah berubah, dan saya hanya akan harus menunggu dan melihat apa yang tampak seperti ketika saya sampai di sana.”
Potts , yang telah bekerja sama dengan diplomat AS di Havana dalam beberapa pekan terakhir untuk mendapatkan paspor, mengatakan, bahwa ia akan terbang ke Miami dengan pesawat charter pada Rabu pagi.
Dia menyadari, setelah sampai di AS dia akan dikawal pejabat dan dijebloskan ke penjara. ”Apa yang terjadi setelah itu, saya tidak bisa memberitahu Anda,” ujar Potts kepada The Associated Press, melalui telepon dari rumahnya, di Havana. “Saya berharap akan segera diseret (ke pengadilan).”
Potts yang saat ini berusia 56 tahun, dulunya adalah pemuda yang menggenggam pistol saat membajak penerbangan komersial dari New Jersey ke Florida. Ia memerintahkan pilot agar menerbangkan pesawat ke Kuba, di mana ia berharap pihak berwenang menawarkannya untuk memberikan pelatihan gerilya. Namun yang terjadi sebaliknya. Ia dihukum, karena pembajakan pesawat, dan dipenjara selama lebih dari 13 tahun.
Potts mengatakan, ia berusaha menghadapi sistem peradilan AS. Dia berpendapat, bahwa selama dia bertugas di penjara Combinado del Este, di luar Havana, dia akan mendapatkan keringanan hukuman setelah pulang ke AS. Meski, dia menyadari tidak ada jaminan untuk itu. ”Saya siap untuk hal apa pun.”
”Saya mengalami emosi yang campur aduk, saya katakan, bahwa setidaknya saya menyentuh tanah Amerika untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun,” kata Potts. ”Begitu banyak yang telah berubah, dan saya hanya akan harus menunggu dan melihat apa yang tampak seperti ketika saya sampai di sana.”
Potts , yang telah bekerja sama dengan diplomat AS di Havana dalam beberapa pekan terakhir untuk mendapatkan paspor, mengatakan, bahwa ia akan terbang ke Miami dengan pesawat charter pada Rabu pagi.
Dia menyadari, setelah sampai di AS dia akan dikawal pejabat dan dijebloskan ke penjara. ”Apa yang terjadi setelah itu, saya tidak bisa memberitahu Anda,” ujar Potts kepada The Associated Press, melalui telepon dari rumahnya, di Havana. “Saya berharap akan segera diseret (ke pengadilan).”
Potts yang saat ini berusia 56 tahun, dulunya adalah pemuda yang menggenggam pistol saat membajak penerbangan komersial dari New Jersey ke Florida. Ia memerintahkan pilot agar menerbangkan pesawat ke Kuba, di mana ia berharap pihak berwenang menawarkannya untuk memberikan pelatihan gerilya. Namun yang terjadi sebaliknya. Ia dihukum, karena pembajakan pesawat, dan dipenjara selama lebih dari 13 tahun.
Potts mengatakan, ia berusaha menghadapi sistem peradilan AS. Dia berpendapat, bahwa selama dia bertugas di penjara Combinado del Este, di luar Havana, dia akan mendapatkan keringanan hukuman setelah pulang ke AS. Meski, dia menyadari tidak ada jaminan untuk itu. ”Saya siap untuk hal apa pun.”
(mas)