Mantan PM Pakistan akui sempat izinkan serangan drone AS
Sabtu, 13 April 2013 - 17:07 WIB
Mantan PM Pakistan akui sempat izinkan serangan drone AS
A
A
A
Sindonews.com - Mantan Perdana Menteri Pakistan, Pervez Musharraf telah mengakui, bahwa Pakistan sempat mengizinkan Amerika Serikat (AS) untuk meluncurkan serangan drone (pesawat tak berawak) di wilayah Pakistan. Namun, itu pun hanya untuk beberapa waktu.
"Pemerintah Pakistan, dalam beberapa kesempatan telah memberi izin kepada AS untuk meluncurkan serangan. Tapi, itu pun hanya untuk beberapa kesempatan saat target serangan berada di posisi yang terisolasi dan tidak akan menyebabkan kerusakan secara meluas," ungkap Musharraf dalam sebuah wawancara dengan CNN.
"Pakistan dan Washington telah membahas operasi drone pada level militer dan juga intelijen. Serangan pembersihan tersebut hanya akan dilakukan jika militer dan unit pasukan khusus kami tidak punya waktu untuk bertindak. Itu pun, terjadi hanya dua atau tiga kali," terang Musharraf.
Musharraf menambahkan, keputusan itu adalah sebuah tindakan yang tidak dapat ditunda. "Sebab, itu adalah pasang surut yang terus bergulir. Kita dihadapkan pada situasi yang tidak menentu. Musuh sperti setan dan bersembunyi di wilayah pegunungan yang tidak terjangkau," ujarnya.
Sepanjang Januari-Maret 2013, drone AS telah lima kali melancarkan serangan di wilayah kesukuan Waziristan, Pakistan, dekat perbatasan Afghanistan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Pakistan, Rina Rabbani Khar menyebut serangan drone AS tersebut sebagai tindakan kontra produktif. "Pakistan akan membahas masalah ini dengan Duta Besar AS untuk Pakistan," kata Khar.
Sebelumnya, Leon Panetta, Menteri Pertahanan AS mengatakan, Washington tidak akan menangguhkan serangan drone di Pakistan, Yaman, dan Somalia. Mereka tak peduli dengan kecaman dari berberapa pihak di seluruh dunia. Sebab, AS perlu melakukan serangan drone dalam rangka menyerang militan, tidak hanya di Pakistan tetapi juga di Yaman dan Somalia.
"Operasi drone diperlukan untuk mencegah serangan terhadap AS. CIA mungkin akan memperkuas serangan drone, tergantung pada bentuk ancaman yang dihadapi oleh AS. Sebab, kami sedang dalam kondisi peperangan," jelas Panettea.
"Pemerintah Pakistan, dalam beberapa kesempatan telah memberi izin kepada AS untuk meluncurkan serangan. Tapi, itu pun hanya untuk beberapa kesempatan saat target serangan berada di posisi yang terisolasi dan tidak akan menyebabkan kerusakan secara meluas," ungkap Musharraf dalam sebuah wawancara dengan CNN.
"Pakistan dan Washington telah membahas operasi drone pada level militer dan juga intelijen. Serangan pembersihan tersebut hanya akan dilakukan jika militer dan unit pasukan khusus kami tidak punya waktu untuk bertindak. Itu pun, terjadi hanya dua atau tiga kali," terang Musharraf.
Musharraf menambahkan, keputusan itu adalah sebuah tindakan yang tidak dapat ditunda. "Sebab, itu adalah pasang surut yang terus bergulir. Kita dihadapkan pada situasi yang tidak menentu. Musuh sperti setan dan bersembunyi di wilayah pegunungan yang tidak terjangkau," ujarnya.
Sepanjang Januari-Maret 2013, drone AS telah lima kali melancarkan serangan di wilayah kesukuan Waziristan, Pakistan, dekat perbatasan Afghanistan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Pakistan, Rina Rabbani Khar menyebut serangan drone AS tersebut sebagai tindakan kontra produktif. "Pakistan akan membahas masalah ini dengan Duta Besar AS untuk Pakistan," kata Khar.
Sebelumnya, Leon Panetta, Menteri Pertahanan AS mengatakan, Washington tidak akan menangguhkan serangan drone di Pakistan, Yaman, dan Somalia. Mereka tak peduli dengan kecaman dari berberapa pihak di seluruh dunia. Sebab, AS perlu melakukan serangan drone dalam rangka menyerang militan, tidak hanya di Pakistan tetapi juga di Yaman dan Somalia.
"Operasi drone diperlukan untuk mencegah serangan terhadap AS. CIA mungkin akan memperkuas serangan drone, tergantung pada bentuk ancaman yang dihadapi oleh AS. Sebab, kami sedang dalam kondisi peperangan," jelas Panettea.
(esn)