Hentikan gencatan senjata, FARC kembali culik tentara Kolombia
Kamis, 31 Januari 2013 - 15:12 WIB
Hentikan gencatan senjata, FARC kembali culik tentara Kolombia
A
A
A
Sindonews.com - Pemberontak Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) mengatakan mereka telah menculik dua polisi Kolombia yang sedang melakukan patroli di wilayah barat Kolombia, Selasa (29/1/2013) malam waktu setempat. Aksi penculik itu dilancarkan dua hari setelah mereka memutuskan untuk kembali mengangkat senjata melawan militer Kolombia, akhir pekan lalu.
"Kami berhak untuk menangkap anggota pasukan keamanan Kolombia sebagai tawanan perang jika mereka menyerah saat perang berlangsung," ungkap FARC dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters, Kamis (31/2013).
Dalam peryataan tersebut FARC bersumpah untuk kembali melancarkan aksi penculikan terhadap petugas keamanan Kolombia. Pernyataan tersebut bertentangan dengan janji yang mereka buat pada April lalu dalam perundingan damai dengan pemerintah Kolombia. Sebelumnya, FARC membebaskan seluruh pasukan Kolombia yang ditawan dan berjanji menghentikan aksi penculikan.
Pemerintah Kolombia sendiri kecewa dengan sikap pemberontak. Mereka meminta pemberontak tidak membuang-buang waktu dalam perundingan damai di Kuba dan benar-benar ingin mengakhiri konflik yang terlah berlasung selama lima dekade. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos bahkan mengatakan peningkatan permusuhan akan mempengaruhi kemajuan perundingan damai.
Sementara itu, kepala perundingan damai pemerintah Kolombia, Humberto de la Calle mengatakan aksi penculikan yang kembali dilancarakan oleh FARC tidak akan menunda proses perundingan damai yang sedang berlangsung. "Kami akan kembali ke Havana untuk kembali memulai perundingan untuk mengakhir konflik. Itulah yang kami sepakati baru-baru ini dengan pemberontak. Jika yang mereka inginkan bukan hal yang kami maksud maka mereka seharusnya mengungkapkan keinginan mereka sehingga dua belah pihak tidak membuang-buang waktu," terang Calle.
"Kami tidak akah merubah tujuan kami dan tidak akan memaksakan untuk melakukan gencatan senjata," imbuh Calle.
"Kami berhak untuk menangkap anggota pasukan keamanan Kolombia sebagai tawanan perang jika mereka menyerah saat perang berlangsung," ungkap FARC dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters, Kamis (31/2013).
Dalam peryataan tersebut FARC bersumpah untuk kembali melancarkan aksi penculikan terhadap petugas keamanan Kolombia. Pernyataan tersebut bertentangan dengan janji yang mereka buat pada April lalu dalam perundingan damai dengan pemerintah Kolombia. Sebelumnya, FARC membebaskan seluruh pasukan Kolombia yang ditawan dan berjanji menghentikan aksi penculikan.
Pemerintah Kolombia sendiri kecewa dengan sikap pemberontak. Mereka meminta pemberontak tidak membuang-buang waktu dalam perundingan damai di Kuba dan benar-benar ingin mengakhiri konflik yang terlah berlasung selama lima dekade. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos bahkan mengatakan peningkatan permusuhan akan mempengaruhi kemajuan perundingan damai.
Sementara itu, kepala perundingan damai pemerintah Kolombia, Humberto de la Calle mengatakan aksi penculikan yang kembali dilancarakan oleh FARC tidak akan menunda proses perundingan damai yang sedang berlangsung. "Kami akan kembali ke Havana untuk kembali memulai perundingan untuk mengakhir konflik. Itulah yang kami sepakati baru-baru ini dengan pemberontak. Jika yang mereka inginkan bukan hal yang kami maksud maka mereka seharusnya mengungkapkan keinginan mereka sehingga dua belah pihak tidak membuang-buang waktu," terang Calle.
"Kami tidak akah merubah tujuan kami dan tidak akan memaksakan untuk melakukan gencatan senjata," imbuh Calle.
(esn)