China tuduh Jepang curi pulau
Sabtu, 29 September 2012 - 11:00 WIB
China tuduh Jepang curi pulau
A
A
A
Sindonews.com - China kemarin menuduh Jepang telah mencuri pulau yang disengketakan kedua negara di Laut China Timur di tengah konflik memanas di kawasan tersebut.
Tudingan itu disampaikan Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi saat berpidato di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis (27/9) waktu setempat atau kemarin WIB. Tuduhan itu sekaligus menjadi babak baru saling serang antara utusan China dan Jepang di forum tahunan dunia itu.
Yang juga meningkatkan ketegangan di Laut China Timur dan membuka kembali luka lama atas diplomatik Perang Dunia II. Amarah China kian meluap bulan ini setelah Jepang memutuskan membeli pulau itu dari pemilik swasta.
Keputusan memicu protes di beberapa kota di China. “China mendesak Jepang agar segera menghentikan semua kegiatan yang melanggar kedaulatan teritorial China dan segera mengambil tindakan konkret untuk memperbaiki kesalahan dan kembali ke jalur penyelesaian sengketa melalui negosiasi,” ujar Jiechi dalam pidatonya,seperti dilansir AFP. China telah menuntut untuk dikembalikannya pulaupulau tak berpenghuni itu.
Di China pulau itu disebut dengan Diaoyu dan disebut dengan Senkaku di Jepang selama beberapa dekade. Selain itu,Taiwan pun mengklaim pulau-pulau tak berpenghuni itu. Menlu China menegaskan kembali, klaim historis negaranya bahwa Jepang telah menipu China untuk menandatangani sebuah perjanjian untuk menyerahkan pulau-pulau pada 1895.
Sementara Jepang menyatakan bahwa pulau-pulau itu secara hukum telah dimasukkan ke dalam wilayah teritorialnya. “Tindakan yang diambil Jepang benar-benar ilegal dan tidak sah.
Mereka tidak bisa mengubah sejarah dengan mencuri Diaoyu dan pulaupulau afiliasinya dari China, dan fakta bahwa China memiliki kedaulatan teritorial atas pulau tersebut,” papar Menlu Yang,dikutip AFP. Yang menambahkan, langkah itu diambil Jepang sebagai penolakan langsung dari kekalahannya dalam Perang Dunia II dan perang berulang pada 1939-1945.
Tudingan China itu muncul sehari setelah Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda menegaskan Tokyo tak akan mengompromikan kedaulatan atas wilayahnya dan menyatakan berdasarkan hukum tahun 1895, pulau itu masuk sebagai wilayahnya.
“Sebuah pernyataan bahwa Jepang mengambil pulau-pulau dari China itu tidak berdiri logis, dan referensi ke Perang Dunia II itu tidak meyakinkan dan tidak produktif,” tandas Wakil duta besar Jepang di PBB,Kazuo Kodama. China pun tak mau kalah dengan penegasan Jepang itu.
“Sekali lagi delegasi Jepang berani mendistorsi sejarah, beralih ke argumen yang menyesatkan dan palsu, menentang semua alasan dan logika untuk membenarkan agresi mereka atas wilayah China,” kata Duta Besar China untuk PBB Li Baodong.“Pemerintah Jepang masih menempelkan pola pikir kolonial dan China mampu menjaga integritas wilayahnya.”
Tudingan itu disampaikan Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi saat berpidato di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis (27/9) waktu setempat atau kemarin WIB. Tuduhan itu sekaligus menjadi babak baru saling serang antara utusan China dan Jepang di forum tahunan dunia itu.
Yang juga meningkatkan ketegangan di Laut China Timur dan membuka kembali luka lama atas diplomatik Perang Dunia II. Amarah China kian meluap bulan ini setelah Jepang memutuskan membeli pulau itu dari pemilik swasta.
Keputusan memicu protes di beberapa kota di China. “China mendesak Jepang agar segera menghentikan semua kegiatan yang melanggar kedaulatan teritorial China dan segera mengambil tindakan konkret untuk memperbaiki kesalahan dan kembali ke jalur penyelesaian sengketa melalui negosiasi,” ujar Jiechi dalam pidatonya,seperti dilansir AFP. China telah menuntut untuk dikembalikannya pulaupulau tak berpenghuni itu.
Di China pulau itu disebut dengan Diaoyu dan disebut dengan Senkaku di Jepang selama beberapa dekade. Selain itu,Taiwan pun mengklaim pulau-pulau tak berpenghuni itu. Menlu China menegaskan kembali, klaim historis negaranya bahwa Jepang telah menipu China untuk menandatangani sebuah perjanjian untuk menyerahkan pulau-pulau pada 1895.
Sementara Jepang menyatakan bahwa pulau-pulau itu secara hukum telah dimasukkan ke dalam wilayah teritorialnya. “Tindakan yang diambil Jepang benar-benar ilegal dan tidak sah.
Mereka tidak bisa mengubah sejarah dengan mencuri Diaoyu dan pulaupulau afiliasinya dari China, dan fakta bahwa China memiliki kedaulatan teritorial atas pulau tersebut,” papar Menlu Yang,dikutip AFP. Yang menambahkan, langkah itu diambil Jepang sebagai penolakan langsung dari kekalahannya dalam Perang Dunia II dan perang berulang pada 1939-1945.
Tudingan China itu muncul sehari setelah Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda menegaskan Tokyo tak akan mengompromikan kedaulatan atas wilayahnya dan menyatakan berdasarkan hukum tahun 1895, pulau itu masuk sebagai wilayahnya.
“Sebuah pernyataan bahwa Jepang mengambil pulau-pulau dari China itu tidak berdiri logis, dan referensi ke Perang Dunia II itu tidak meyakinkan dan tidak produktif,” tandas Wakil duta besar Jepang di PBB,Kazuo Kodama. China pun tak mau kalah dengan penegasan Jepang itu.
“Sekali lagi delegasi Jepang berani mendistorsi sejarah, beralih ke argumen yang menyesatkan dan palsu, menentang semua alasan dan logika untuk membenarkan agresi mereka atas wilayah China,” kata Duta Besar China untuk PBB Li Baodong.“Pemerintah Jepang masih menempelkan pola pikir kolonial dan China mampu menjaga integritas wilayahnya.”
(aww)