Buruh China gelar demo anti-Jepang
Senin, 17 September 2012 - 18:02 WIB
Buruh China gelar demo anti-Jepang
A
A
A
Sindonews.com - Aksi demonstrasi anti-Jepang meluas di berbagai kota di China. Hari ini giliran buruh dan karyawan pabrik perusahaan Jepang.
Dua pabrik Panasonic, perusahaan elektronik Jepang yang beroperasi di Qingdao China menangguhkan kegiatan operasionalnya menyusul pecahnya aksi unjuk rasa anti-Jepang.
"Sejumlah pabrik telah ditutup sampai hari Selasa besok setelah para karyawan melakukan aksi sabotase," ungkap juru bicara Panasonic, Atsushi Hinoki, seperti dikutip dari BBC.co.uk, Senin (17/9/2012).
Berdasarkan laporan media masa lokal, selain Panasonic, tiga pabrik Canon juga berhenti beroperasi. Aksi demonstrasi anti-Jepang juga merembet ke pabrik mobil asal Jepang, Toyota. Bahkan sebuah showroom Toyota tak luput dari serangan demonstran.
Pengujuk rasa mengelar aksi ini setelah pemerintah Jepang kembali menegaskan kepemilikannya atas kepulauan yang disengketakan, yang disebut Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China.
Kepulauan yang menjadi biang sengketa antara pemerintah Jepang dan China memang tidak berpenghuni, namun mengadung gas dan minyak bumi, serta berada di jalur lalu lintas internasional yang strategis.
Dua pabrik Panasonic, perusahaan elektronik Jepang yang beroperasi di Qingdao China menangguhkan kegiatan operasionalnya menyusul pecahnya aksi unjuk rasa anti-Jepang.
"Sejumlah pabrik telah ditutup sampai hari Selasa besok setelah para karyawan melakukan aksi sabotase," ungkap juru bicara Panasonic, Atsushi Hinoki, seperti dikutip dari BBC.co.uk, Senin (17/9/2012).
Berdasarkan laporan media masa lokal, selain Panasonic, tiga pabrik Canon juga berhenti beroperasi. Aksi demonstrasi anti-Jepang juga merembet ke pabrik mobil asal Jepang, Toyota. Bahkan sebuah showroom Toyota tak luput dari serangan demonstran.
Pengujuk rasa mengelar aksi ini setelah pemerintah Jepang kembali menegaskan kepemilikannya atas kepulauan yang disengketakan, yang disebut Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China.
Kepulauan yang menjadi biang sengketa antara pemerintah Jepang dan China memang tidak berpenghuni, namun mengadung gas dan minyak bumi, serta berada di jalur lalu lintas internasional yang strategis.
(aww)