Jepang - China diminta tenang
Kamis, 13 September 2012 - 07:38 WIB
Jepang - China diminta tenang
A
A
A
Sindonews.com - Amerika Serikat (AS) pada Selasa (11/9) menyerukan Jepang dan China agar bersikap tenang untuk meredam ketegangan di antara kedua negara itu.
Seruan Washington itu setelah Beijing dikabarkan mengirimkan kapal patroli ke kepulauan yang dipersengketakan kedua negara.
“Kita berpikir sejujurnya, dalam lingkungan saat ini, kita menginginkan kepala dingin untuk diberlakukan,” kata Kurt Campbell,asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Kerja Sama Asia Timur dan Pasifik, dikutip AFP.
Penegasan Campbell itu menguatkan pernyataan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton saat mengakhir tur Asianya. Campbell menuturkan ketenangan merupakan hal yang sangat kritis karena wilayah itu (Jepang-China) sebagai kokpit ekonomi global.
“Ketegangan tidak seharusnya membesar,” kata Campbell saat berada di Pusat Kajian Internasional dan Strategis (CSIS).
Dia juga yakin dialog damai dan mengutamakan perdamaian dan keamanan sebagai hal utama. Sama seperti pernyataan Pemerintah AS, Campbell menegaskan kalau Washington tidak memihak siapa pun dalam konflik teritorial di Asia.
Sebelumnya, saat berada di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Vladivostok, Russia, Hillary mengungkapkan agar Jepang dan Korea Selatan (Korsel) menurunkan temperaturnya dan bekerja sama.
Mantan Ibu Negara AS itu menegaskan, ketegangan karena konflik teritorial itu bukan menjadi kepentingan AS.Namun,banyak pihak yang meragukan dan ketidakpastian mengenai stabilitas dan perdamaian di Asia.
China sebelumnya dikabarkan mengirimkan dua kapal pemantau ke kawasan yang diklaim masuk teritorialnya. Pulau yang disengketakan itu dikenal China dengan sebutan Diaoyu dan di Jepang disebut kepulauan Senkaku.
Upaya China itu dilakukan setelah Jepang menasionalisasi kepulauan itu melalui pembelian dari pemiliknya.Kepulauan itu dikenal memiliki kandungan mineral yang cukup banyak dan sangat strategis.
Kementerian Pertahanan China mengkritik tajam rencana pembelian pulau itu.“Pemerintah China dan mi-liter bersenjata siaga dan tidak tergoyahkan dalam kebulatan tekad dan akan menjaga kedaulatan teritorial negara,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Geng Yansheng dikutip Xinhua.
Geng juga menuding Jepang menggunakan semua alasan untuk menggunakan segala jenis alat perang dan menciptakan ketegangan regional. “Kami terus memantau perkembangannya dan siap melakukan tindakan balik,” imbuhnya.
Beijing mengklaim pihaknya menghindari pengiriman pasukan militer ke wilayah yang dipersengketakan. Dalam pandangan Sun Chen, pakar Jepang di Universitas China di Beijing, retorika China yang keras itu tidak bakal diimplementasikan dalam tindakan.
Menurutnya, China lebih fokus pada urusan politik domestik dan ekonomi.“China tidak akan merespons terlalu kuat ke Jepang,”terang Sun.
Menurut Sun, rakyat China tidak akan bersikap acuh hanya karena faktor ekonomi dan Kongres Partai Komunis.“Saya kira rakyat China tidak akan mengabaikannya,”ujarnya.
Tapi, Jepang tetap bersikeras membeli kepulauan itu senilai USD26,18 juta atau senilai Rp250,62 miliar yang terdri dari tiga pulau tak berpenghuni di Laut China Selatan. Menteri Luar Negeri Jepang. Koichiro Gemba menegaskan kebijakan negaranya sebagai upaya untuk memelihara perdamaian dan stabilitas di kepulauan tersebut.
Seruan Washington itu setelah Beijing dikabarkan mengirimkan kapal patroli ke kepulauan yang dipersengketakan kedua negara.
“Kita berpikir sejujurnya, dalam lingkungan saat ini, kita menginginkan kepala dingin untuk diberlakukan,” kata Kurt Campbell,asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Kerja Sama Asia Timur dan Pasifik, dikutip AFP.
Penegasan Campbell itu menguatkan pernyataan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton saat mengakhir tur Asianya. Campbell menuturkan ketenangan merupakan hal yang sangat kritis karena wilayah itu (Jepang-China) sebagai kokpit ekonomi global.
“Ketegangan tidak seharusnya membesar,” kata Campbell saat berada di Pusat Kajian Internasional dan Strategis (CSIS).
Dia juga yakin dialog damai dan mengutamakan perdamaian dan keamanan sebagai hal utama. Sama seperti pernyataan Pemerintah AS, Campbell menegaskan kalau Washington tidak memihak siapa pun dalam konflik teritorial di Asia.
Sebelumnya, saat berada di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Vladivostok, Russia, Hillary mengungkapkan agar Jepang dan Korea Selatan (Korsel) menurunkan temperaturnya dan bekerja sama.
Mantan Ibu Negara AS itu menegaskan, ketegangan karena konflik teritorial itu bukan menjadi kepentingan AS.Namun,banyak pihak yang meragukan dan ketidakpastian mengenai stabilitas dan perdamaian di Asia.
China sebelumnya dikabarkan mengirimkan dua kapal pemantau ke kawasan yang diklaim masuk teritorialnya. Pulau yang disengketakan itu dikenal China dengan sebutan Diaoyu dan di Jepang disebut kepulauan Senkaku.
Upaya China itu dilakukan setelah Jepang menasionalisasi kepulauan itu melalui pembelian dari pemiliknya.Kepulauan itu dikenal memiliki kandungan mineral yang cukup banyak dan sangat strategis.
Kementerian Pertahanan China mengkritik tajam rencana pembelian pulau itu.“Pemerintah China dan mi-liter bersenjata siaga dan tidak tergoyahkan dalam kebulatan tekad dan akan menjaga kedaulatan teritorial negara,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Geng Yansheng dikutip Xinhua.
Geng juga menuding Jepang menggunakan semua alasan untuk menggunakan segala jenis alat perang dan menciptakan ketegangan regional. “Kami terus memantau perkembangannya dan siap melakukan tindakan balik,” imbuhnya.
Beijing mengklaim pihaknya menghindari pengiriman pasukan militer ke wilayah yang dipersengketakan. Dalam pandangan Sun Chen, pakar Jepang di Universitas China di Beijing, retorika China yang keras itu tidak bakal diimplementasikan dalam tindakan.
Menurutnya, China lebih fokus pada urusan politik domestik dan ekonomi.“China tidak akan merespons terlalu kuat ke Jepang,”terang Sun.
Menurut Sun, rakyat China tidak akan bersikap acuh hanya karena faktor ekonomi dan Kongres Partai Komunis.“Saya kira rakyat China tidak akan mengabaikannya,”ujarnya.
Tapi, Jepang tetap bersikeras membeli kepulauan itu senilai USD26,18 juta atau senilai Rp250,62 miliar yang terdri dari tiga pulau tak berpenghuni di Laut China Selatan. Menteri Luar Negeri Jepang. Koichiro Gemba menegaskan kebijakan negaranya sebagai upaya untuk memelihara perdamaian dan stabilitas di kepulauan tersebut.
(aww)