Telepon Qantas, tunggu 15 jam

Jum'at, 03 Agustus 2012 - 22:27 WIB
Telepon Qantas, tunggu...
Telepon Qantas, tunggu 15 jam
A A A
Sindonews.com - Maskapai penerbangan nasional Australia, Qantas, tengah menyelidiki klaim yang diajukan seorang calon penumpangnya, Andrew Khan, terkait konfirmasi penerbangannya ke New York dari Adelaide.

Khan mengaku harus menunggu selama 15 jam—lebih lama ketimbang penerbangannya—di telepon hanya untuk mengonfirmasi penerbangannya ke New York.

Khan, pengusaha asal Adelaide, mengaku harus terus menunggu jawaban dari Qantas di telepon selulernya selama 15 jam, 40 menit dan satu detik sebelum akhirnya dia menyerah dan mematikan telepon itu. “Saya menutup telepon itu karena saya sudah muak,” ujar Khan, seperti dikutip The Daily Telegraph.

Khan menelepon layanan konsumen Qantas untuk mengonfirmasi rencana perjalanannya dari Adelaide ke New York pada Minggu (05/08/2012). Tapi, setelah teleponnya masuk kantor Qantas pada hari Rabu (01/08/2012) pada pukul 19.22 waktu setempat, tidak ada suara yang menjawab teleponnya. Dia hanya mendapat pesan suara yang mengatakan akan ada orang yang menjawab teleponnya sesegera mungkin. Dia akhirnya menyerah pada pukul 11.01 waktu setempat pada Kamis (02/08/2012) tanpa bicara pada siapa pun dari Qantas. Selama menunggu teleponnya diangkat, Khan mengaku sempat browsing di internet dan bahkan membaca buku setebal 200 halaman.

“Saya ingin tahu apa sebenarnya maksud sesegera mungkin itu,” tegas Khan. “Ketika harus menunggu lebih dari dua atau tiga jam, itu seperti: OK, ayo selesaikan ini!’”

Khan kemudian mencoba menelepon lagi dan ternyata sukses, meski dia diberitahu bahwa dia belum terdaftar pada penerbangannya karena adanya kesalahan kode pada reservasi. Tak lupa, Khan memberi tahu si penerima telepon terkait insiden yang dia alami.

Qantas mengonfirmasi sedang menyelidiki komplain itu, tapi mereka tidak menemukan catatan seperti klaim Khan itu. “Nyatanya, masa tunggu pusat kontak kami pada waktu itu rata-rata di bawah satu menit dan yang paling lama 17 menit,” papar seorang juru bicara Qantas.
(alv)
Berita Terkait
Anthony Albanese, Tokoh...
Anthony Albanese, Tokoh Kelas Pekerja yang Jadi PM Australia Terpilih
Mertens dan Sabalenka...
Mertens dan Sabalenka Juarai Ganda Putri Australia Open 2021
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Banjir Besar Landa Sydney,...
Banjir Besar Landa Sydney, Ribuan Orang Diminta Mengungsi
Australia Menyadari...
Australia Menyadari Konsumen China Tak Tergantikan Usai 30 Bulan Konflik
Kemampuan Rudal China...
Kemampuan Rudal China Melesat, Negara Tetangga Indonesia Ini Tingkatkan Pertahanan Misil
Berita Terkini
4 Alasan Uni Eropa Masih...
4 Alasan Uni Eropa Masih Butuh NATO, Salah Satunya Rusia Jadi Ancaman
47 menit yang lalu
Siapa Walid Ahmad? Remaja...
Siapa Walid Ahmad? Remaja Palestina yang Tewas di Penjara Israel Dikenal Pencetak Gol Terbanyak di Timnya
1 jam yang lalu
10 Negara yang Kena...
10 Negara yang Kena Tarif Impor Trump Terbesar, Mayoritas Negara-negara Asia
5 jam yang lalu
Ini 3 Negara Musuh AS...
Ini 3 Negara Musuh AS yang Tidak Terkena Tarif Impor Trump, Kok Bisa?
6 jam yang lalu
4 Negara Islam yang...
4 Negara Islam yang Terdampak Tarif Impor AS Terbesar, Nomor 2 Pernah Diinvasi
7 jam yang lalu
Siapa Haitham bin Tariq?...
Siapa Haitham bin Tariq? Raja Oman yang Ubah Konstitusi demi Naikkan Jabatan Putranya
8 jam yang lalu
Infografis
Perang lawan Rusia,...
Perang lawan Rusia, Ukraina hanya Mampu Bertahan 15 Hari
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved