Duterte Ancam Akhiri Kesepakatan Militer dengan AS

Jum'at, 24 Januari 2020 - 06:33 WIB
Duterte Ancam Akhiri...
Duterte Ancam Akhiri Kesepakatan Militer dengan AS
A A A
MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte memperingatkan AS bahwa ia akan mencabut perjanjian mengenai penempatan pasukan dan peralatan untuk latihan jika Washington tidak mengembalikan visa sekutu politiknya.

Tampak kesal, Duterte melampiaskan amarahnya atas keputusan AS untuk menolak masuk Ronaldo dela Rosa, mantan kepala polisi yang sekarang menjadi senator.

Dela Rosa mengatakan kedutaan AS di Filipina tidak menjelaskan mengapa visanya dibatalkan tetapi ia yakin itu kemungkinan besar karena dugaan pembunuhan di luar proses hukum selama lebih dari dua tahun masa jabatannya sebagai kepala polisi.

Dela Rosa adalah penegak utama tindakan keras anti-narkotika Duterte, yang telah mengakibatkan kematian lebih dari 5.000 orang, sebagian besar pengedar narkoba. Polisi mengatakan korban ditembak oleh petugas untuk membela diri.

"Jika Anda tidak melakukan koreksi, satu, saya akan mengakhiri pangkalan, Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA). Saya akan menyelesaikan itu," kata Duterte dalam sebuah pidato.

"Saya memberi pemerintah dan pemerintahan Amerika satu bulan dari sekarang," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (24/1/2020).

Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA), ditandatangani pada tahun 1998, memberikan status hukum kepada ribuan pasukan AS yang dirotasi di negara itu untuk latihan militer dan operasi bantuan kemanusiaan.

Sementara itu Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorezana, menolak berkomentar ketika ditanya apakah dia setuju dengan rencana Duterte tersebut. Sedangkan Kedutaan Besar AS di Manila tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar.

Duterte tidak segan menghina AS dan apa yang ia anggap kemunafikan serta campur tangannya, meskipun ia mengakui bahwa sebagian besar orang Filipina dan militernya sangat menghormati mantan penguasa kolonial negara mereka itu.

Amerika Serikat adalah sekutu pertahanan terbesar Filipina dan jutaan orang Filipina memiliki kerabat yang merupakan warga negara AS.

Bulan lalu, Duterte melarang senator AS Richard Durbin dan Patrick Leahy mengunjungi Filipina setelah mereka memperkenalkan regulasi dalam Kongres AS.

Regulasi itu menyebut larangan masuk AS kepada siapa pun yang terlibat dalam pemenjaraan senator Filipina Leila de Lima. Mantan Menteri Kehakiman dan kritikus utama Duterte itu dipenjara pada tahun 2017 atas tuduhan narkoba setelah memimpin penyelidikan dalam ribuan kematian selama kampanye anti-narkotika.

Ia telah memenangkan banyak penghargaan dari kelompok hak asasi manusia, yang menganggapnya sebagai tahanan hati nurani.
(ian)
Berita Terkait
Melunak, Filipina Cabut...
Melunak, Filipina Cabut Ancaman Akhiri Pakta Militer dengan AS
Duterte Gantung Nasib...
Duterte 'Gantung' Nasib Perjanjian Kunjungan Pasukan AS
Lagi, Filipina Batalkan...
Lagi, Filipina Batalkan Rencana Mengusir Pasukan AS
Duterte: Kesepakatan...
Duterte: Kesepakatan Berakhir Jika AS 'Buang' Nuklir ke Filipina
Duterte Ampuni Marinir...
Duterte Ampuni Marinir AS Pembunuh Transgender, tapi Larang Masuk Filipina
Duterte Minta AS Membayar...
Duterte Minta AS Membayar Jika Ingin Pasukannya Tetap di Filipina
Berita Terkini
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
3 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
4 jam yang lalu
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
5 jam yang lalu
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
6 jam yang lalu
Hanya Karena Dukung...
Hanya Karena Dukung Iran, Presenter TV Cantik Kuwait Ini Dijatuhi Hukuman Penjara
7 jam yang lalu
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
8 jam yang lalu
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved