Kubu Pro-Beijing Kalah Telak dalam Pemilu Hong Kong

Senin, 25 November 2019 - 10:30 WIB
Kubu Pro-Beijing Kalah...
Kubu Pro-Beijing Kalah Telak dalam Pemilu Hong Kong
A A A
HONG KONG - Kelompok pro-demokrasi untuk sementara menang telak dalam pemilu parlemen Hong Kong , China. Sebaliknya, kubu pro-Beijing menelan kekalahan bersejarah.

Pemilu digelar hari Minggu ketika protes besar sedang berlangsung. Jutaan orang telah menggunakan hak pilih mereka.

Penghitungan suara masih berlangsung, di mana para kandidat anggota parlemen dari kelompok pro-demokrasi mendapatkan lebih dari setengah dari 452 kursi parlemen untuk pertama kalinya. Tidak ada kekerasan yang dilaporkan selama pemilu.

Total pemilih lebih dari 2,94 juta orang, melampaui rekor dari pemilu tahun 2016 sekitar 1,47 juta pemilih.

Pada pukul 10.00, Senin (25/11/2019), para kandidat anggota parlemen kubu pro-demokrasi telah meraih 388 kursi. Sedangkan kubu pro-Beijing meraih sekitar 58 kursi. Total 1.104 kandidat anggota parlemen bertarung untuk berebut 452 kursi.

Sebelum fajar pada hari Minggu, antrean panjang mulai meliuk-liuk di sekitar kota ketika campuran pemilih muda dan tua menunggu proses pemungutan suara.

Di lingkungan kelas pekerja Yau Ma Tei, terjadi bentrok reguler antara polisi dan demonstran. Namun, bentrok tak terjadi dalam antrean pemilih, meski para pemilih banyak yang mengenakan topeng hitam dan meneriakkan slogan-slogan dari gerakan protes pro-demokrasi.

"Saya ingin mengatakan 'tidak' kepada pemerintah, atas apa yang telah mereka lakukan beberapa bulan terakhir ini," kata Patrick Yeung, seorang pekerja IT berusia 33 tahun yang datang lebih awal untuk memilih untuk mengantisipasi antrean panjang.

"Itu membuat saya sangat marah ... (Pemimpin Eksekutif) Carrie Lam tidak mendengarkan (rakyat) Hong Kong. Kami sudah sering keluar dan mereka tidak mendengarkan serta membuat situasi ini lebih buruk," ujarnya, sepertri dikutip Al Jazeera.

Selama hampir setengah tahun, kemarahan dan frustrasi telah mencengkeram Hong Kong karena pemerintah kota semi-otonom itu menolak untuk menerima tuntutan pemrotes—kecuali untuk pencabutan RUU ekstradisi yang jadi pemicu awal demo rusuh.

Kekerasan hati pemerintah telah menyemangati publik, dan para pemilih untuk memanfaatkan kesempatan untuk menegaskan kembali tuntutan mereka yang meliputi hak pilih universal untuk memilih para pemimpin Hong Kong, penyelidikan independen terhadap dugaan kebrutalan polisi dan amnesti bagi semua yang ditangkap sehubungan dengan protes.

"Pemilu ini benar-benar referendum de facto untuk protes," kata Samson Yuen, asisten profesor di Universitas Lingnan. "Jelas, ini lebih tentang sikap politik atas protes," kata Yuen.
(mas)
Berita Terkait
Polisi Hong Kong Tangkap...
Polisi Hong Kong Tangkap 300 Demonstran
Demo Tiananmen Sendirian...
Demo Tiananmen Sendirian di Hong Kong, Nenek Wong Ditangkap
Tidak Setia pada China,...
Tidak Setia pada China, Politisi dan Pejabat Hong Kong Dilarang Menjabat
Pemimpin Hong Kong Carrie...
Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Terima Surat Berisi Silet dan Ancaman
Mengapa Hong Kong Ingin...
Mengapa Hong Kong Ingin Undang Undang Keamanan Nasional yang Baru?
Pengusaha Media Hong...
Pengusaha Media Hong Kong Jimmy Lai Dijebloskan Lagi ke Penjara
Berita Terkini
AI, Robot, dan Modal...
AI, Robot, dan Modal Negara: Taruhan Besar Xi Jinping untuk Masa Depan China
14 menit yang lalu
Ukraina Ngamuk, Serang...
Ukraina Ngamuk, Serang 21 Kapal Tanker Minyak Rusia
36 menit yang lalu
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
1 jam yang lalu
4 Alasan Mojataba Ingin...
4 Alasan Mojataba Ingin Balas Dendam Kematian Ayahnya, Ingin Mewujudkan Kemenangan Total
2 jam yang lalu
Ukraina Tidak Akan Produksi...
Ukraina Tidak Akan Produksi Rudal Patriot meski Trump Beri Lisensi, Ini 3 Alasannya
4 jam yang lalu
8 Fakta Menarik tentang...
8 Fakta Menarik tentang Norwegia, Negara Paling Bahagia dan Matahari Tak Terbenam di Musim Panas
5 jam yang lalu
Infografis
Daftar 10 Pemain Tersubur...
Daftar 10 Pemain Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved