Trump Incar Kesepakatan Kontrol Senjata dengan Rusia dan China
Selasa, 05 November 2019 - 20:51 WIB
Trump Incar Kesepakatan Kontrol Senjata dengan Rusia dan China
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengaku ingin mencapai kesepakatan kontrol senjata baru dengan Rusia, China, dan mungkin beberapa negara lain. Pernyataan ini datang ditengah semakin getolnya AS untuk mundur dari kesepakatan internasional.
"Kami sedang mencari perjanjian kontrol senjata sekarang. Kami sedang berurusan dengan China, kami berhadapan dengan Rusia. Saya pikir mereka berdua ingin melakukannya terutama ketika kita berbicara tentang senjata nuklir," kata Trump.
"Tapi kami sedang melihat semacam perjanjian pengendalian senjata besar sekarang dengan Rusia dan China dan mungkin orang lain," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass pada Selasa (5/11/2019).
Namun, Trump menolak untuk menjawab pertanyaan apakah Washington berupaya memperpanjang perjanjian "New START".
"New START" yang ditandatangani oleh Moskow dan Washington pada 2010, menetapkan bahwa tujuh tahun setelah berlakunya, masing-masing pihak tidak boleh memiliki lebih dari total 700 rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) dan pembom strategis.
Perjanjian ini akan tetap berlaku hingga 2021, kecuali jika diganti dengan perjanjian lain tentang pengurangan senjata nuklir. Perjanjian ini juga dapat diperpanjang tidak lebih dari lima tahun dengan persetujuan kedua belah pihak.
Moskow menyerukan Washington untuk tidak menunda penyelesaian masalah tentang kemungkinan perpanjangan perjanjian, yang disebutnya sebagai "standar emas" dalam pelucutan senjata. Namun, pemerintahan Trump telah berulang kali mengisyaratkan bahwa perpanjangan perjanjian itu tidak mungkin dilakukan.
"Kami sedang mencari perjanjian kontrol senjata sekarang. Kami sedang berurusan dengan China, kami berhadapan dengan Rusia. Saya pikir mereka berdua ingin melakukannya terutama ketika kita berbicara tentang senjata nuklir," kata Trump.
"Tapi kami sedang melihat semacam perjanjian pengendalian senjata besar sekarang dengan Rusia dan China dan mungkin orang lain," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass pada Selasa (5/11/2019).
Namun, Trump menolak untuk menjawab pertanyaan apakah Washington berupaya memperpanjang perjanjian "New START".
"New START" yang ditandatangani oleh Moskow dan Washington pada 2010, menetapkan bahwa tujuh tahun setelah berlakunya, masing-masing pihak tidak boleh memiliki lebih dari total 700 rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) dan pembom strategis.
Perjanjian ini akan tetap berlaku hingga 2021, kecuali jika diganti dengan perjanjian lain tentang pengurangan senjata nuklir. Perjanjian ini juga dapat diperpanjang tidak lebih dari lima tahun dengan persetujuan kedua belah pihak.
Moskow menyerukan Washington untuk tidak menunda penyelesaian masalah tentang kemungkinan perpanjangan perjanjian, yang disebutnya sebagai "standar emas" dalam pelucutan senjata. Namun, pemerintahan Trump telah berulang kali mengisyaratkan bahwa perpanjangan perjanjian itu tidak mungkin dilakukan.
(esn)