Selamatkan Kesepakatan Nuklir, Eropa Tolak Ultimatum Iran
Jum'at, 10 Mei 2019 - 09:26 WIB
Selamatkan Kesepakatan Nuklir, Eropa Tolak Ultimatum Iran
A
A
A
TEHERAN - Negara-negara Uni Eropa ingin menyelamatkan kesepakatan nuklir dengan Iran dan menolak ultimatum Teheran yang akan menghidupkan kembali program senjata nuklir. Ancaman Iran itu setelah provokasi pengerahan kapal induk dan pesawat pengebom Amerika Serikat (AS) ke Teluk.
Eropa menyatakan mereka tetap berkomitmen terhadap kesepakatan nuklir Iran. Uni Eropa, Inggris, Prancis, dan Jerman menyatakan mereka memberikan perhatian serius terhadap langkah Iran. Dibawah kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), Iran sepakat membatasi aktivitas nuklir agar sanksinya diperingan.
Iran sebelumnya menyatakan akan menunda dua komitmen sesuai dengan kesepakatan 2015. Mereka juga mengancam akan melanjutkan pengayaan uranum jika sanksi AS berdampak dalam waktu 60 hari. Kepala kebijakan luar negeri UE dan menteri luar negeri Prancis, Jerman, dan Inggris menegaskan JCPOA merupakan pencapaian kunci arsitektur non-proliferasi nuklir global di mana kepentingan keamanan menjadi hal utama.
“Kita menyarankan Iran untuk melanjutkan implementasi komitmen sesuai dengan JCPOA yang telah dilaksanakan hingga sekarang dan menahan diri dari segala langkah eksklasi,”demikian keterangan bersama mereka, dilansir Reuters. Negara-negara Eropa mengungkapkan kekecewaan dengan sanksi yang dijatuhkan AS.
Mereka juga tetap melanjutkan segala bentuk kerja sama perdagangan dengan Iran. Kemudian, juru bicara Badan Energi Atom Iran Behrouz Kamalvandi menungkapkan, Iran akan mewujudkan kesepakatan nuklir dengan kekuatan dunia kembali ke jalurnya. “Tujuan kita adalah memperkuat JCPOA (singkatan kesepakatan nuklir) dan membawanya ke jalurnya,” tuturnya.
Pemerintahan Presiden Donald Trump mengabaikan kesepakatan setahun lalu dan memberlakukan sanksi. Dia juga meminta semua negara untuk menghentikan segala bentuk pembelian minyak dari Iran. Kemudian, sanksi terbaru terhadap Iran adalah pelarangan pembelian besi, baja, aluminium, dan tembaga.
Sebelumnya, Washington mengirimkan kapal induk dan kapal pengebom ke Timur Tengah untuk merespons “indikasi dan peringatan”dari Iran. Itu juga untuk menunjukkan bahwa Washington akan membalas dengan “kekuatan penuh”terhadap segala bentuk serangan.
Dia mengungkapkan, itu bisa mengirimkan pesan yang jelas dari AS terhadap Iran. Namun, dia tidak menjelaskan aktivitas spesifik Iran yang memicu perhatian. Namun, sebelumnya Iran memperingatkan akan memblokade Selat Hormuz jika dilarang menggunakan perairan strategi tersebut. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melalui selat tersebut.
Bukan hanya Uni Eropa dan negara-negara Eropa, China jugga menentang sanksi sepihak AS terhadap Iran. Pelarangan pembelian minyak Iran hanya akan merusak pasar energi global. Iran dan China merupakan mitra perdagangan yang penting. “China akan membela hak perusahaannya yang bekerja sama dengan Iran,”kata juru bicara Kementerian Perdagangan China, Gao Feng.
Mengenai isu pelarangan ekspor minyak Iran, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan Iran tetap melanjutkan penjualan minyak ke dunia internasional. Dia meminta AS seharusnya tidak menghentikannya. “Jika AS mencoba mencegah penjualan minyak, maka mereka akan siap menghadapi konsekuensinya,” ancamnya.
Zarif menuding Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, Bolton, Putra Mahkota Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sebagai tim B. “Tim B itu menekan kebijakan AS menuju bencana,” tegas Zarif.
Sebelumnya, Presiden Iran Hassan Rouhani menggumumkan bahwa para pakar sedang mengusahakan kalau Teheran tidak akan melanggar mekanisme kesepakatan. “Rakyat Iran dan dunia seharusnya mengetahui saat ini bukan akhir dari JCPOA,” ujar Rouhani. Dia mengungkapkan, tindakan Iran sesuai dengan kesepakatan JCPOA.
Sedangkan Tim Morrison, asisten khusus urusan Iran untuk Presiden AS, mengungkapkan Teheran menghalangi beberapa elemen kesepakatan nuklir. “Saat ini adalah waktunya bagi komunitas bangsa-bangsa untuk mengecam pelaggaran nuklir Iran dan meningkatkan tekanan terhadap Iran,” papar Morrison. Dia mengatakan AS akan bergerak cepat melawan segala upaya negara Eropa yang mengabaikan sanksi Washington terhadap Iran.
Eropa menyatakan mereka tetap berkomitmen terhadap kesepakatan nuklir Iran. Uni Eropa, Inggris, Prancis, dan Jerman menyatakan mereka memberikan perhatian serius terhadap langkah Iran. Dibawah kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), Iran sepakat membatasi aktivitas nuklir agar sanksinya diperingan.
Iran sebelumnya menyatakan akan menunda dua komitmen sesuai dengan kesepakatan 2015. Mereka juga mengancam akan melanjutkan pengayaan uranum jika sanksi AS berdampak dalam waktu 60 hari. Kepala kebijakan luar negeri UE dan menteri luar negeri Prancis, Jerman, dan Inggris menegaskan JCPOA merupakan pencapaian kunci arsitektur non-proliferasi nuklir global di mana kepentingan keamanan menjadi hal utama.
“Kita menyarankan Iran untuk melanjutkan implementasi komitmen sesuai dengan JCPOA yang telah dilaksanakan hingga sekarang dan menahan diri dari segala langkah eksklasi,”demikian keterangan bersama mereka, dilansir Reuters. Negara-negara Eropa mengungkapkan kekecewaan dengan sanksi yang dijatuhkan AS.
Mereka juga tetap melanjutkan segala bentuk kerja sama perdagangan dengan Iran. Kemudian, juru bicara Badan Energi Atom Iran Behrouz Kamalvandi menungkapkan, Iran akan mewujudkan kesepakatan nuklir dengan kekuatan dunia kembali ke jalurnya. “Tujuan kita adalah memperkuat JCPOA (singkatan kesepakatan nuklir) dan membawanya ke jalurnya,” tuturnya.
Pemerintahan Presiden Donald Trump mengabaikan kesepakatan setahun lalu dan memberlakukan sanksi. Dia juga meminta semua negara untuk menghentikan segala bentuk pembelian minyak dari Iran. Kemudian, sanksi terbaru terhadap Iran adalah pelarangan pembelian besi, baja, aluminium, dan tembaga.
Sebelumnya, Washington mengirimkan kapal induk dan kapal pengebom ke Timur Tengah untuk merespons “indikasi dan peringatan”dari Iran. Itu juga untuk menunjukkan bahwa Washington akan membalas dengan “kekuatan penuh”terhadap segala bentuk serangan.
Dia mengungkapkan, itu bisa mengirimkan pesan yang jelas dari AS terhadap Iran. Namun, dia tidak menjelaskan aktivitas spesifik Iran yang memicu perhatian. Namun, sebelumnya Iran memperingatkan akan memblokade Selat Hormuz jika dilarang menggunakan perairan strategi tersebut. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melalui selat tersebut.
Bukan hanya Uni Eropa dan negara-negara Eropa, China jugga menentang sanksi sepihak AS terhadap Iran. Pelarangan pembelian minyak Iran hanya akan merusak pasar energi global. Iran dan China merupakan mitra perdagangan yang penting. “China akan membela hak perusahaannya yang bekerja sama dengan Iran,”kata juru bicara Kementerian Perdagangan China, Gao Feng.
Mengenai isu pelarangan ekspor minyak Iran, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan Iran tetap melanjutkan penjualan minyak ke dunia internasional. Dia meminta AS seharusnya tidak menghentikannya. “Jika AS mencoba mencegah penjualan minyak, maka mereka akan siap menghadapi konsekuensinya,” ancamnya.
Zarif menuding Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, Bolton, Putra Mahkota Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sebagai tim B. “Tim B itu menekan kebijakan AS menuju bencana,” tegas Zarif.
Sebelumnya, Presiden Iran Hassan Rouhani menggumumkan bahwa para pakar sedang mengusahakan kalau Teheran tidak akan melanggar mekanisme kesepakatan. “Rakyat Iran dan dunia seharusnya mengetahui saat ini bukan akhir dari JCPOA,” ujar Rouhani. Dia mengungkapkan, tindakan Iran sesuai dengan kesepakatan JCPOA.
Sedangkan Tim Morrison, asisten khusus urusan Iran untuk Presiden AS, mengungkapkan Teheran menghalangi beberapa elemen kesepakatan nuklir. “Saat ini adalah waktunya bagi komunitas bangsa-bangsa untuk mengecam pelaggaran nuklir Iran dan meningkatkan tekanan terhadap Iran,” papar Morrison. Dia mengatakan AS akan bergerak cepat melawan segala upaya negara Eropa yang mengabaikan sanksi Washington terhadap Iran.
(don)