Rusia Tuding AS Ingin Selamatkan Teroris di Idlib
Rabu, 05 September 2018 - 14:49 WIB
Rusia Tuding AS Ingin Selamatkan Teroris di Idlib
A
A
A
MOSKOW - Washington tidak pernah memenuhi janjinya untuk memisahkan apa yang disebut sebagai oposisi moderat Suriah dari kelompok teroris, dan sekali lagi tampaknya mencoba untuk meloloskan al-Nusra dari Idlib. Hal itu dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
“Zona de-eskalasi di Idlib tetap satu-satunya di mana puluhan ribu ekstremis terkonsentrasi, dipelopori oleh Jabhat al-Nusra,” kata Lavrov kepada Channel One Rusia.
"Mitra kami, termasuk Amerika, terus meyakinkan kami bahwa mereka akan memastikan pemisahan yang disebut oposisi moderat dari para teroris," imbuhnya.
"Kami tidak ingin pengulangan kegagalan, termasuk oleh pemerintahan Obama, yang telah bersumpah dan menandatangani di bawah kewajibannya untuk memisahkan moderat dari teroris, tetapi gagal melakukannya," sambung pria berkacamata itu.
"Sekarang kita menyaksikan keinginan halus yang sama, jika saya memahami situasinya dengan benar, untuk menyingkirkan al-Nusra,” tukasnya seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (5/9/2018).
Moskow telah berulang kali memperingatkan komunitas internasional terhadap bahaya faksi-faksi teroris yang beroperasi di dan sekitar Idlib. Mereka mendapatkan senjata dan amunisi dari luar negeri.
Selama beberapa minggu terakhir, Kementerian Pertahanan Rusia telah memperingatkan tentang rencana militan untuk melakukan serangan kimia palsu di Idlib untuk kemudian disalahkan kepada pemerintah Suriah.
"Kasus provinsi barat laut Suriah masih menjadi perhatian khusus bagi Rusia, Suriah, dan Turki," kata Sekretaris Pers Kremlin Dmitry Peskov, mengomentari "peringatan" oleh Presiden AS Donald Trump.
Para pemimpin dari Rusia, Iran, dan Turki dijadwalkan bertemu pada hari Jumat di Teheran untuk membahas strategi untuk Idlib.
“Zona de-eskalasi di Idlib tetap satu-satunya di mana puluhan ribu ekstremis terkonsentrasi, dipelopori oleh Jabhat al-Nusra,” kata Lavrov kepada Channel One Rusia.
"Mitra kami, termasuk Amerika, terus meyakinkan kami bahwa mereka akan memastikan pemisahan yang disebut oposisi moderat dari para teroris," imbuhnya.
"Kami tidak ingin pengulangan kegagalan, termasuk oleh pemerintahan Obama, yang telah bersumpah dan menandatangani di bawah kewajibannya untuk memisahkan moderat dari teroris, tetapi gagal melakukannya," sambung pria berkacamata itu.
"Sekarang kita menyaksikan keinginan halus yang sama, jika saya memahami situasinya dengan benar, untuk menyingkirkan al-Nusra,” tukasnya seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (5/9/2018).
Moskow telah berulang kali memperingatkan komunitas internasional terhadap bahaya faksi-faksi teroris yang beroperasi di dan sekitar Idlib. Mereka mendapatkan senjata dan amunisi dari luar negeri.
Selama beberapa minggu terakhir, Kementerian Pertahanan Rusia telah memperingatkan tentang rencana militan untuk melakukan serangan kimia palsu di Idlib untuk kemudian disalahkan kepada pemerintah Suriah.
"Kasus provinsi barat laut Suriah masih menjadi perhatian khusus bagi Rusia, Suriah, dan Turki," kata Sekretaris Pers Kremlin Dmitry Peskov, mengomentari "peringatan" oleh Presiden AS Donald Trump.
Para pemimpin dari Rusia, Iran, dan Turki dijadwalkan bertemu pada hari Jumat di Teheran untuk membahas strategi untuk Idlib.
(ian)