Inggris: Pertemuan Intra-Korea Tak Ubah Kebijakan Tekanan pada Korut
Jum'at, 27 April 2018 - 22:13 WIB
Inggris: Pertemuan Intra-Korea Tak Ubah Kebijakan Tekanan pada Korut
A
A
A
LONDON - Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson menyatakan menyambut baik hasil pertemuan antara pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan (Korsel), Moon Jae-in. Meski demikian, Inggris tetap akan melanjutkan kebijakan tekanan, berupa sanksi kepada Korut.
Kedua pemimpin Korea itu berjanji untuk bekerja demi terciptanya denuklirisasi di semenanjung Korea, dan mengatakan mereka akan melanjutkan pertemuan untuk membuat sebuah perjanjian damai permanen di kawasan tersebut.
Seperti diketahui, Korut dan Korsel sampai saat ini masih dalam status berperang. Pada tahun 1953, dia akhir Perang Korea, Amerika Serikat, yang mewakili Korsel dan dunia internasional, bersama dengan China dan Korut, menandatangi kesepakatan gencatan senjata, dan kesepakatan itu belum berubah sampai saat ini.
Johnson menuturkan bahwa London sangat senang dengan hasil dari pertemuan yang menurutnya sangat bersejarah itu. Dia secara khusus memuji kesepakatan mengenai denuklirisasi Semananjung Korea.
"Saya menyambut baik pengumuman bahwa kedua Korea akan bekerja menuju denuklirisasi Korut secara penuh, dapat diverifikasi, dan tidak dapat dibatalkan, meningkatkan hubungan bilateral dan mengurangi ketegangan perbatasan," kata Johnson.
Namun, Johnson menyebut tekanan pada Korut melalui sanksi akan terus berlanjut. Sanksi, lanjut Johnson, akan terus diterapkan sampai Korut melaksanakan hasil pertemuan tersebut.
"KTT bersejarah ini bukanlah tujuan akhir. Inggris akan terus bekerja dengan mitra internasional kami untuk secara ketat menegakkan sanksi yang ada sampai Korut mengubah komitmennya menjadi langkah konkret menuju denuklirisasi," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Jumat (27/4).
Kedua pemimpin Korea itu berjanji untuk bekerja demi terciptanya denuklirisasi di semenanjung Korea, dan mengatakan mereka akan melanjutkan pertemuan untuk membuat sebuah perjanjian damai permanen di kawasan tersebut.
Seperti diketahui, Korut dan Korsel sampai saat ini masih dalam status berperang. Pada tahun 1953, dia akhir Perang Korea, Amerika Serikat, yang mewakili Korsel dan dunia internasional, bersama dengan China dan Korut, menandatangi kesepakatan gencatan senjata, dan kesepakatan itu belum berubah sampai saat ini.
Johnson menuturkan bahwa London sangat senang dengan hasil dari pertemuan yang menurutnya sangat bersejarah itu. Dia secara khusus memuji kesepakatan mengenai denuklirisasi Semananjung Korea.
"Saya menyambut baik pengumuman bahwa kedua Korea akan bekerja menuju denuklirisasi Korut secara penuh, dapat diverifikasi, dan tidak dapat dibatalkan, meningkatkan hubungan bilateral dan mengurangi ketegangan perbatasan," kata Johnson.
Namun, Johnson menyebut tekanan pada Korut melalui sanksi akan terus berlanjut. Sanksi, lanjut Johnson, akan terus diterapkan sampai Korut melaksanakan hasil pertemuan tersebut.
"KTT bersejarah ini bukanlah tujuan akhir. Inggris akan terus bekerja dengan mitra internasional kami untuk secara ketat menegakkan sanksi yang ada sampai Korut mengubah komitmennya menjadi langkah konkret menuju denuklirisasi," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Jumat (27/4).
(esn)