Cari Bukti, Penyidik OPCW Tunggu Lampu Hijau Tim Keamanan PBB
Rabu, 18 April 2018 - 13:28 WIB
Cari Bukti, Penyidik OPCW Tunggu Lampu Hijau Tim Keamanan PBB
A
A
A
NEW YORK - Para penyidik internasional menunggu lampu hijau dari tim keamanan PBB untuk mulai bekerja di Douma, Suriah, yang terkena serangan kimia. Sebelumnya para penyidik sempat tertunda untuk masuk ke Douma diiringi peringatan oleh kekuatan Barat kemungkinan bukti penting telah dihilangkan.
Serangan gas 7 April yang dicurigai terjadi di Douma, dekat Damaskus, dilaporkan menewaskan lebih dari 40 orang. Kekuatan Barat menyalahkan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sebagai tanggapan, Amerika Serikat (AS), Prancis dan Inggris melakukan serangan rudal di instalasi militer Suriah.
Duta Besar Suriah Bashar Jaafari mengatakan dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB bahwa tim ahli akan mulai bekerja pada hari ini, Rabu (18/4/2018), setelah mereka menerima semua yang jelas dari rincian keamanan.
"Jika tim keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa ini memutuskan bahwa situasi di Douma baik maka misi pencarian fakta akan memulai pekerjaannya di Douma besok (hari ini)," kata Jaafari kepada DK PBB di New York seperti dikutip dari AFP.
Kantor berita negara Suriah, SANA, sebelumnya melaporkan bahwa para ahli internasional dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) telah memasuki Douma untuk memulai penyelidikan mereka tentang apakah zat kimia digunakan sebagai senjata.
"Pemerintah Suriah melakukan semua yang dapat dilakukannya untuk memfasilitasi pekerjaan misi ini," ucap Jaafari.
"Tetapi itu terserah kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OPCW untuk memutuskan apakah akan menyebarkan, berdasarkan pertimbangan keamanan," tukasnya.
Tim penyidik OPCW tiba di Damaskus pada hari serangan Barat tetapi tidak diizinkan masuk ke Douma. Prancis dan AS pun mempertanyakan tujuan hal tersebut.
"Sangat mungkin bukti dan elemen-elemen penting hilang dari situs, yang sepenuhnya dikendalikan oleh tentara Rusia dan Suriah," kata kementerian luar negeri Prancis.
Namun hal itu dibantah oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova. Zakharova menyebut tuduhan itu sangat mengejutkan dan mengatakan bahwa Rusia telah mendukung inspeksi.
Beberapa ahli mengatakan penyelidikan pada tahap ini kemungkinan tidak dapat disimpulkan.
"Seperti halnya TKP, sangat penting untuk sampai ke sana sesegera mungkin," kata Olivier Lepick, seorang anggota Yayasan Penelitian Ilmiah yang berbasis di Paris.
"Jika Rusia dan Suriah tidak menyembunyikan apa-apa, itu aneh bahwa mereka akan menunggu 36 hingga 72 jam," ucapnya.
"Mungkin memberi mereka waktu untuk menyelesaikan pembersihan," ujarnya.
Serangan gas 7 April yang dicurigai terjadi di Douma, dekat Damaskus, dilaporkan menewaskan lebih dari 40 orang. Kekuatan Barat menyalahkan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sebagai tanggapan, Amerika Serikat (AS), Prancis dan Inggris melakukan serangan rudal di instalasi militer Suriah.
Duta Besar Suriah Bashar Jaafari mengatakan dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB bahwa tim ahli akan mulai bekerja pada hari ini, Rabu (18/4/2018), setelah mereka menerima semua yang jelas dari rincian keamanan.
"Jika tim keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa ini memutuskan bahwa situasi di Douma baik maka misi pencarian fakta akan memulai pekerjaannya di Douma besok (hari ini)," kata Jaafari kepada DK PBB di New York seperti dikutip dari AFP.
Kantor berita negara Suriah, SANA, sebelumnya melaporkan bahwa para ahli internasional dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) telah memasuki Douma untuk memulai penyelidikan mereka tentang apakah zat kimia digunakan sebagai senjata.
"Pemerintah Suriah melakukan semua yang dapat dilakukannya untuk memfasilitasi pekerjaan misi ini," ucap Jaafari.
"Tetapi itu terserah kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OPCW untuk memutuskan apakah akan menyebarkan, berdasarkan pertimbangan keamanan," tukasnya.
Tim penyidik OPCW tiba di Damaskus pada hari serangan Barat tetapi tidak diizinkan masuk ke Douma. Prancis dan AS pun mempertanyakan tujuan hal tersebut.
"Sangat mungkin bukti dan elemen-elemen penting hilang dari situs, yang sepenuhnya dikendalikan oleh tentara Rusia dan Suriah," kata kementerian luar negeri Prancis.
Namun hal itu dibantah oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova. Zakharova menyebut tuduhan itu sangat mengejutkan dan mengatakan bahwa Rusia telah mendukung inspeksi.
Beberapa ahli mengatakan penyelidikan pada tahap ini kemungkinan tidak dapat disimpulkan.
"Seperti halnya TKP, sangat penting untuk sampai ke sana sesegera mungkin," kata Olivier Lepick, seorang anggota Yayasan Penelitian Ilmiah yang berbasis di Paris.
"Jika Rusia dan Suriah tidak menyembunyikan apa-apa, itu aneh bahwa mereka akan menunggu 36 hingga 72 jam," ucapnya.
"Mungkin memberi mereka waktu untuk menyelesaikan pembersihan," ujarnya.
(ian)