Dukung Kurdi Suriah, Prancis Bakal Jadi 'Target' Turki
Sabtu, 31 Maret 2018 - 06:17 WIB
Dukung Kurdi Suriah, Prancis Bakal Jadi 'Target' Turki
A
A
A
ANKARA - Turki menyebut janji Prancis untuk membantu menstabilkan wilayah Suriah utara yang dikendalikan pasukan Kurdi sebagai bentuk bantuan untuk terorisme. Hal ini bisa membuat Prancis menjadi "target" Turki.
Dukungan Perancis untuk Pasukan Demokratis Suriah (SDF), yang dipelopori oleh milisi YPG Kurdi, telah membuat marah Ankara. Turki saat ini tengah memerangi YPG di Suriah utara dan menganggapnya sebagai organisasi teroris.
Presiden Tayyip Erdogan mengatakan Prancis telah mengambil pendekatan yang sepenuhnya salah di Suriah. Erdogan menambahkan bahwa ia saling bertukar kata-kata panas dengan rekannya dari Prancis, Emmanuel Macron, pekan lalu.
Perpecahan dengan Perancis adalah perpecahan terbaru antara Turki di bawah Erdogan dan sekutu NATO-nya di Barat.
Turki telah lama mengeluh tentang dukungan Amerika Serikat (AS) untuk SDF, di antara sejumlah iritasi terkait dengan kekuatan NATO. Tahun lalu Turki membandingkan otoritas Jerman dan Belanda dengan Nazi karena membatasi demonstrasi pro-Erdogan selama kampanye untuk referendum guna memberinya kekuatan yang lebih besar.
Wakil Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag mengatakan, sikap Prancis telah membuat Paris bertabrakan dengan Ankara.
"Mereka yang terlibat dalam kerja sama dan solidaritas dengan kelompok-kelompok teror terhadap Turki akan, seperti para teroris, menjadi sasaran Turki," ujar Bozdag, yang juga juru bicara pemerintah Turki, di akun Twitternya.
"Kami berharap Prancis tidak mengambil langkah yang tidak masuk akal seperti itu," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (31/3/2018).
Macron bertemu dengan delegasi SDF pada hari Kamis dan memberi jaminan dukungan Prancis untuk menstabilkan Suriah utara. Sumber kepresidenan kemudian mengatakan Prancis dapat meningkatkan sumbangan militernya kepada koalisi pimpinan AS yang - bersama SDF - memerangi ISIS di Suriah.
Baca juga:
Prancis Janjikan Dukungan untuk Milisi Kurdi Suriah
AS memiliki 2.000 tentara di wilayah yang dikuasai SDF, dan Prancis juga memiliki beberapa pasukan di sana sebagai bagian dari koalisi.
Ankara menganggap para pejuang YPG di SDF menjadi perpanjangan dari militan Kurdi yang telah mengobarkan pemberontakan selama puluhan tahun di Turki tenggara.
Pasukan Turki mendorong YPG dari kota Afrin di barat laut Suriah hampir dua minggu lalu. Erdogan mengatakan Ankara sedang mempersiapkan untuk memperluas operasi di sepanjang ratusan mil perbatasan, termasuk wilayah di mana pasukan Amerika dikerahkan.
Operasi Afrin telah menarik kecaman internasional, terutama dari Macron. Ankara, sementara itu, mengatakan mereka mengharapkan sekutunya untuk memindahkan pasukan mereka keluar dari jalan maju Turki.
"Kami tidak memiliki niat untuk menyakiti tentara dari negara-negara sekutu, tetapi kami tidak dapat membiarkan teroris berkeliaran dengan bebas (di Suriah utara)," kata Erdogan.
Dukungan Perancis untuk Pasukan Demokratis Suriah (SDF), yang dipelopori oleh milisi YPG Kurdi, telah membuat marah Ankara. Turki saat ini tengah memerangi YPG di Suriah utara dan menganggapnya sebagai organisasi teroris.
Presiden Tayyip Erdogan mengatakan Prancis telah mengambil pendekatan yang sepenuhnya salah di Suriah. Erdogan menambahkan bahwa ia saling bertukar kata-kata panas dengan rekannya dari Prancis, Emmanuel Macron, pekan lalu.
Perpecahan dengan Perancis adalah perpecahan terbaru antara Turki di bawah Erdogan dan sekutu NATO-nya di Barat.
Turki telah lama mengeluh tentang dukungan Amerika Serikat (AS) untuk SDF, di antara sejumlah iritasi terkait dengan kekuatan NATO. Tahun lalu Turki membandingkan otoritas Jerman dan Belanda dengan Nazi karena membatasi demonstrasi pro-Erdogan selama kampanye untuk referendum guna memberinya kekuatan yang lebih besar.
Wakil Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag mengatakan, sikap Prancis telah membuat Paris bertabrakan dengan Ankara.
"Mereka yang terlibat dalam kerja sama dan solidaritas dengan kelompok-kelompok teror terhadap Turki akan, seperti para teroris, menjadi sasaran Turki," ujar Bozdag, yang juga juru bicara pemerintah Turki, di akun Twitternya.
"Kami berharap Prancis tidak mengambil langkah yang tidak masuk akal seperti itu," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (31/3/2018).
Macron bertemu dengan delegasi SDF pada hari Kamis dan memberi jaminan dukungan Prancis untuk menstabilkan Suriah utara. Sumber kepresidenan kemudian mengatakan Prancis dapat meningkatkan sumbangan militernya kepada koalisi pimpinan AS yang - bersama SDF - memerangi ISIS di Suriah.
Baca juga:
Prancis Janjikan Dukungan untuk Milisi Kurdi Suriah
AS memiliki 2.000 tentara di wilayah yang dikuasai SDF, dan Prancis juga memiliki beberapa pasukan di sana sebagai bagian dari koalisi.
Ankara menganggap para pejuang YPG di SDF menjadi perpanjangan dari militan Kurdi yang telah mengobarkan pemberontakan selama puluhan tahun di Turki tenggara.
Pasukan Turki mendorong YPG dari kota Afrin di barat laut Suriah hampir dua minggu lalu. Erdogan mengatakan Ankara sedang mempersiapkan untuk memperluas operasi di sepanjang ratusan mil perbatasan, termasuk wilayah di mana pasukan Amerika dikerahkan.
Operasi Afrin telah menarik kecaman internasional, terutama dari Macron. Ankara, sementara itu, mengatakan mereka mengharapkan sekutunya untuk memindahkan pasukan mereka keluar dari jalan maju Turki.
"Kami tidak memiliki niat untuk menyakiti tentara dari negara-negara sekutu, tetapi kami tidak dapat membiarkan teroris berkeliaran dengan bebas (di Suriah utara)," kata Erdogan.
(ian)