Museum AS Cabut Penghargaan HAM untuk Suu Kyi

Kamis, 08 Maret 2018 - 13:41 WIB
Museum AS Cabut Penghargaan...
Museum AS Cabut Penghargaan HAM untuk Suu Kyi
A A A
WASHINGTON - Museum Holocaust Amerika Serikat (AS) telah membatalkan penghargaan hak asasi manusia untuk pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. Suu Kyi dinilai telah gagal menentang penganiayaan negara terhadap Muslim Rohingya.

Pihak museum mengatakan bahwa pihaknya telah membatalkan penghargaan bergengsi Elie Wiesel Award yang diberikan kepada Suu Kyi pada tahun 2012. Suu Kyi mendapatkan penghargaan itu karena perlawanannya terhadap diktator militer dan advokasi kebebasan serta hak asasi manusia Myanmar.

"Seiring serangan militer terhadap Rohingya yang terjadi pada 2016 dan 2017, kami berharap Anda - seperti yang telah dirayakan oleh seseorang dan banyak orang lain karena komitmen Anda terhadap martabat manusia dan hak asasi manusia universal - akan melakukan sesuatu untuk mengutuk dan menghentikan tindakan militer yang brutal dan mengekspresikan solidaritas terhadap populasi Rohingya yang menjadi target," kata pihak museum.

"Liga Nasional untuk Demokrasi, di bawah kepemimpinan Anda, malah menolak untuk bekerja sama dengan penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengumumkan retorika kebencian terhadap komunitas Rohingya dan menolak akses dan menahan jurnalis yang mencoba mengungkap cakupan kejahatan di negara bagian Rakhine," sambung pernyataan itu seperti dikutip dari Anadolu, Kamis (8/3/2018).

Museum tersebut juga mendesak Suu Kyi untuk menggunakan perannya yang unik dan resmi sebagai Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri untuk bekerja sama dengan upaya internasional guna membangun kebenaran tentang kekejaman yang dilakukan di negara bagian Rakhine dan pertanggungjawaban bagi para pelaku.

Pada bulan November tahun lalu, Dewan Kota Oxford di Inggris juga mencabut penghargaan kehormatan yang diberikan kepada Suu Kyi.

Pada bulan yang sama, musisi Irlandia dan pendiri Live Aid Bob Geldof mengembalikan penghargaan Freedom of the City of Dublin untuk memprotes kehormatan warga juga terhadap perempuan berusia 72 tahun itu.

PBB menggambarkan etnis Rohingya sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia. Mereka telah menghadapi ketakutan yang meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi, kebanyakan anak-anak dan perempuan, telah meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas, menurut Amnesty International.
(ian)
Berita Terkait
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Pengakuan Tentara Myanmar...
Pengakuan Tentara Myanmar Soal Pembantaian Rohingya: Bunuh Mereka Semua
Pendekatan Rasional...
Pendekatan Rasional terhadap Krisis Rohingya
Agama Warga Negara Bagian...
Agama Warga Negara Bagian Rakhine Myanmar dan Persentasenya
1.600 Rohingya Dipindah...
1.600 Rohingya Dipindah ke Pulau Terpencil, Ada yang Mengaku Dipaksa
Berita Terkini
AS dan Iran Capai Kesepakatan,...
AS dan Iran Capai Kesepakatan, Perang Berakhir
34 menit yang lalu
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
2 jam yang lalu
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
3 jam yang lalu
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
6 jam yang lalu
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
8 jam yang lalu
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
10 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved