Kelompok Militan Serang Kamp Tentara Mali, 14 Tewas

Minggu, 28 Januari 2018 - 11:23 WIB
Kelompok Militan Serang...
Kelompok Militan Serang Kamp Tentara Mali, 14 Tewas
A A A
BAMAKO - Sekelompok orang bersenjata yang tidak dikenal membunuh setidaknya 14 tentara dalam serangan fajar menjelang sebuah kamp militer. Menanggapi serangan ini, Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita mengatakan bahwa rakyatnya tidak akan merasa takut dengan apa yang disebutnya sebagai "serangan barbar."

Sekitar 30 pejuang bersenjata berat menyerang kamp militer di Soumpi, yang terletak di pusat negara di dekat perbatasan selatan wilayah Timbuktu, Mali. Begitu bunyi pernyataan tentara yang dibacakan di radio pemerintah.

Dikatakan 14 tentara tewas dan 15 lainnya luka-luka, menambahkan bahwa 17 dari penyerang telah tewas dalam pertempuran tersebut.

Tidak ada klaim tanggung jawab atas serangan tersebut.

"Para tentara meninggalkan posisi mereka. Musuh membawa kabur sejumlah material," kata seorang perwira tentara, yang mengatakan bahwa kamp tersebut telah dikuasai dan diminta untuk tidak disebutkan namanya karena mereka tidak berwenang untuk berbicara dengan media.

Wilayah Sahel di Kenya barat mengalami lonjakan kekerasan oleh kelompok militan, beberapa memiliki kaitan dengan al-Qaeda dan ISIS. Keberadaan mereka yang menarik respons yang semakin agresif dari sejumlah negara termasuk Prancis dan Amerika Serikat.

Pejuang Islam menguasai wilayah gurun utara Mali pada tahun 2012 sebelum diusir oleh intervensi pimpinan Perancis setahun kemudian.

Namun, terlepas dari kehadiran misi penjaga perdamaian PBB dan pasukan yang beroperasi di bawah misi anti-militan regional Prancis, kekerasan kembali meningkat dan serangan menyebar ke selatan menuju ibukota Bamako.

"Serangan biadab ini tidak akan membuat kita takut. Sebaliknya, mereka memperkuat tekad kita untuk melawan teroris," kata Presiden Keita, berbicara di desa Mali, Boni, di mana 26 orang tewas pada hari Kamis seperti dikutip dari Reuters, Minggu (28/1/2018).

Mali dan tetangganya Senegal berencana untuk mengerahkan 1.000 tentara segera dalam sebuah operasi untuk mengamankan Mali tengah dan menahan para pelaku teror yang sebelumnya telah ditahan di wilayah Sahara di utara.

Namun para analis meragukan bahwa mereka akan dapat melakukannya semata-mata melalui cara militer. Kaum ekstrimis mengeksploitasi keluhan pengganggu ternak Fulani dan perselisihan mereka dengan petani lokal mengenai akses ke lahan penggembalaan.

Tindakan keras pemerintah terhadap tersangka para jihadis cenderung menargetkan Fulani, membawa beberapa dari mereka ke dalam kelompok bersenjata.
(ian)
Berita Terkait
Tuntut Presiden Mundur,...
Tuntut Presiden Mundur, Demonstran Duduki Stasiun TV Pemerintah Mali
Diduga Pemberontakan,...
Diduga Pemberontakan, Suara Tembakan Terdengar di Kamp Militer Mali
Sepuluh Tentara Mali...
Sepuluh Tentara Mali Tewas Setelah Disergap Militan
Tersangka Pelaku Penyerangan...
Tersangka Pelaku Penyerangan Presiden Mali Meninggal dalam Tahanan
Presiden Negara-negara...
Presiden Negara-negara Afrika Barat Akan Kunjungi Mali
Militer Mali Berjanji...
Militer Mali Berjanji Gelar Pemilu Pasca Lakukan Kudeta
Berita Terkini
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
1 jam yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
2 jam yang lalu
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
4 jam yang lalu
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
8 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
9 jam yang lalu
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
10 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved