Presiden Iran Minta Saudi Hentikan Persahabatan dengan Israel
Senin, 11 Desember 2017 - 08:21 WIB
Presiden Iran Minta Saudi Hentikan Persahabatan dengan Israel
A
A
A
TEHERAN - Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa Iran siap untuk memulihkan hubungan dengan Arab Saudi. Syaratnya, Riyadh menghentikan pengeboman di Yaman dan menghentikan pershabatan salah sarah dengan Israel.
Permintaan Rouhani itu disampaikan dalam pidato hari Minggu yang disiarkan stasin televisi Iran, yang dilansir AP, Senin (11/12/2017). Menurutnya, pengeboman koalisi Arab yang dipimpin Saudi di Yaman sudah tidak manusiawi.
Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada Januari 2016 setelah para demonstran Teheran menyerang dan membakar kantor diplomatik Saudi. Amuk massa itu dipicu eksekusi terhadap ulama Syiah terkemuka di Saudi, Nimr al-Nimr atas tuduhan terlibat terorisme.
Ketegangan kedua negara meningkat setelah pada bulan lalu kelompok pemberontak Houthi Yaman menyerang Riyadh dengan tembakan rudal balistik.
”Arab Saudi harus menangguhkan pengebomannya terhadap Yaman dan berhenti mencari kontak dengan rezim Zionis,” kata Rouhani dalam sebuah pidato di parlemen. ”Kami ingin Arab Saudi menghentikan dua hal, persahabatan yang salah arah dengan Israel dan pengeboman Yaman yang tidak manusiawi.”
Rouhani mengatakan jika kedua syarat itu terpenuhi, hubungan antara Iran dan Arab Saudi dapat dipulihkan.
Kedua negara ini saling tuduh atas berbagai kejahatan, termasuk mensponsori terorisme, menyebar senjata negara-negara ketiga di kawasan Arab dan sekitarnya, dan melakukan kampanye propaganda terhadap satu sama lain.
Teheran dan Riyadh berada di sisi yang berlawanan dalam hubungan mereka dengan Amerika Serikat (AS). Iran yang dikenal sebagai perwakilan kaum Syiah telah menjadi musuh Washington sejak Revolusi Islam 1979. Sedangkan Saudi yang dikenal sebagai perwakilan Sunni menjadi mitra militer dan perdagangan utama Amerika.
Komentar Rouhani itu muncul setelah pejabat senior Israel mengindikasikan bahwa pemerintah mereka terlibat dalam kerja sama klandestin dengan beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi, dan bersedia melakukan kerja sama lebih banyak lagi untuk mengekang pengaruh Iran yang terus berkembang.
Permintaan Rouhani itu disampaikan dalam pidato hari Minggu yang disiarkan stasin televisi Iran, yang dilansir AP, Senin (11/12/2017). Menurutnya, pengeboman koalisi Arab yang dipimpin Saudi di Yaman sudah tidak manusiawi.
Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada Januari 2016 setelah para demonstran Teheran menyerang dan membakar kantor diplomatik Saudi. Amuk massa itu dipicu eksekusi terhadap ulama Syiah terkemuka di Saudi, Nimr al-Nimr atas tuduhan terlibat terorisme.
Ketegangan kedua negara meningkat setelah pada bulan lalu kelompok pemberontak Houthi Yaman menyerang Riyadh dengan tembakan rudal balistik.
”Arab Saudi harus menangguhkan pengebomannya terhadap Yaman dan berhenti mencari kontak dengan rezim Zionis,” kata Rouhani dalam sebuah pidato di parlemen. ”Kami ingin Arab Saudi menghentikan dua hal, persahabatan yang salah arah dengan Israel dan pengeboman Yaman yang tidak manusiawi.”
Rouhani mengatakan jika kedua syarat itu terpenuhi, hubungan antara Iran dan Arab Saudi dapat dipulihkan.
Kedua negara ini saling tuduh atas berbagai kejahatan, termasuk mensponsori terorisme, menyebar senjata negara-negara ketiga di kawasan Arab dan sekitarnya, dan melakukan kampanye propaganda terhadap satu sama lain.
Teheran dan Riyadh berada di sisi yang berlawanan dalam hubungan mereka dengan Amerika Serikat (AS). Iran yang dikenal sebagai perwakilan kaum Syiah telah menjadi musuh Washington sejak Revolusi Islam 1979. Sedangkan Saudi yang dikenal sebagai perwakilan Sunni menjadi mitra militer dan perdagangan utama Amerika.
Komentar Rouhani itu muncul setelah pejabat senior Israel mengindikasikan bahwa pemerintah mereka terlibat dalam kerja sama klandestin dengan beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi, dan bersedia melakukan kerja sama lebih banyak lagi untuk mengekang pengaruh Iran yang terus berkembang.
(mas)