Krisis Rohingya, Pejabat AS Sebut Sanksi Perlu Dijatuhkan ke Myanmar

Jum'at, 06 Oktober 2017 - 02:48 WIB
Krisis Rohingya, Pejabat...
Krisis Rohingya, Pejabat AS Sebut Sanksi Perlu Dijatuhkan ke Myanmar
A A A
WASHINGTON - Sanksi terhadap Myanmar dan pemotongan bantuan Amerika Serikat perlu diambil untuk menekan pemerintah negara itu agar menghentikan serangan terhadap minoritas muslim Rohingya. Wacana penjatuhan sanksi itu disampaikan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri AS Patrick Murphy.

”Kami tidak ingin mengambil tindakan yang memperburuk penderitaan mereka. Ada risiko di lingkungan yang rumit ini,” kata Murphy dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Parlemen AS, pada hari Kamis waktu setempat.

Kekerasan terbaru pecah di negara bagian Rakhine sejak 25 Agustus 2017. Awalnya, kelompok militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) menyerang puluhan pos polisi yang menewaskan 12 petugas. Serangan itu memicu operasi militer terhadap banyak desa yang dihuni etnis Rohingya di Rakhie.

Lebih dari 300 orang tewas sepanjang operasi militer. Pihak militer mengklaim ratusan orang yang tewas itu merupakan anggota militan ARSA.

Namun, para korban selamat menuduh operasi militer di Rakhine brutal karena membunuh warga sipil Rohingya yang tidak bersalah. Krisis di Rakhine juga menyebabkan ratusan warga eksodus ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan.

Banyak anggota parlemen AS mendesak pemerintah Presiden Donald Trump untuk memberi tanggapan yang keras terhadap krisis Rohingya. Para politisi parlemen Washington itu juga mengecam pemimpin de facto Aung San Suu Kyi, peraih Nobel perdamaian yang pernah sangat populer di Washington, karena gagal berbuat lebih banyak.

Ed Royce, Ketua Urusan Luar Negeri Partai Republik mengkritik pernyataan Myanmar baru-baru ini yang mengatakan bahwa militernya tidak melakukan pembersihan etnis. ”Mereka yang bertanggung jawab atas kekejaman ini harus diadili. Dia (Suu Kyi) dan jenderal militer harus menghadapi tantangan ini," katanya, seperti dilansir Reuters, Jumat (6/10/2017).

Eliot Engel, anggota perlemen dari Partai Demokrat mengatakan bahwa Washington harus mempertimbangkan kembali keputusannya terkait penjatuhan sanksi terhadap pemerintah dan militer Myanmar.

AS telah meminta Myanmar untuk mengizinkan masuk akses inspektur internasional ke Negara Bagian Rakhine.

”Kami duduk di sini dengan kaos putih dan pakaian kami dan orang-orang ini dipenggal dan dibuang dari negara mereka,” ujar anggota Partai Republik, Scott Perry. ”Seseorang perlu mengambil tindakan,” ujarnya.
(mas)
Berita Terkait
AS: Penindasan Myanmar...
AS: Penindasan Myanmar Terhadap Muslim Rohingya adalah Genosida
Junta Myanmar Tolak...
Junta Myanmar Tolak Tuduhan AS Soal Genosida Muslim Rohingya
Pengadilan AS Diminta...
Pengadilan AS Diminta Paksa Facebook Rilis Data Pejabat Myanmar
Rohingya Tuntut Facebook...
Rohingya Tuntut Facebook Rp2,8 Kuadriliun karena Memicu Genosida di Myanmar
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Berita Terkini
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
22 menit yang lalu
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
1 jam yang lalu
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
2 jam yang lalu
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
3 jam yang lalu
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
4 jam yang lalu
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
4 jam yang lalu
Infografis
Spesifikasi Sistem Rudal...
Spesifikasi Sistem Rudal Patriot yang Dikirim AS ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved