Wapres AS Sebut Aksi Militer Myanmar Kebiadaban yang Mengerikan
Kamis, 21 September 2017 - 13:54 WIB
Wapres AS Sebut Aksi Militer Myanmar Kebiadaban yang Mengerikan
A
A
A
NEW YORK - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Mike Pence, mengecam apa yang disebut sebagai eksodus bersejarah Rohingya dari Myanmar ke Bangladesh. Hal itu diungkapkannya dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB.
Dalam pertemuan tersebut, Pence mengatakan bahwa dunia tengah menyaksikan sebuah tragedi besar yang sedang berlangsung di negara Asia Tenggara, yang dikenal sebagai Myanmar.
"Baru-baru ini, pasukan keamanan Myanmar menanggapi serangan militan di pos terdepan pemerintah dengan kebiadaban yang mengerikan, desa yang terbakar, yang mengusir orang-orang Rohingya dari rumah mereka," kata Pence.
"Gambaran tentang kekerasan dan korbannya telah mengejutkan orang Amerika, dan orang-orang baik di seluruh dunia," sambungnya seperti dikutip dari Voice of America, Kamis (21/9/2017).
Selama bulan lalu, lebih dari 400 ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar, di mana mereka menghadapi pelanggaran hak asasi manusia dan diskriminasi. Pence mencatat bahwa puluhan ribu orang yang melarikan diri dengan berjalan kaki adalah anak-anak.
Pence mencatat bahwa Sekretaris Negara AS Rex Tillerson telah berbicara dengan pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi, tentang pengungsi Rohingya. AS telah mendesak pasukan militer dan keamanan Myanmar untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan.
"Sementara kami menyambut komentar Aung San Suu Kyi bahwa mengembalikan pengungsi tidak ada yang perlu ditakutkan," kata Pence.
"Amerika Serikat memperbaharui seruan kami pada pasukan keamanan Myanmar untuk segera mengakhiri kekerasan mereka dan mendukung usaha diplomatik untuk solusi jangka panjang," seru Pence.
Dalam pertemuan tersebut, Pence mengatakan bahwa dunia tengah menyaksikan sebuah tragedi besar yang sedang berlangsung di negara Asia Tenggara, yang dikenal sebagai Myanmar.
"Baru-baru ini, pasukan keamanan Myanmar menanggapi serangan militan di pos terdepan pemerintah dengan kebiadaban yang mengerikan, desa yang terbakar, yang mengusir orang-orang Rohingya dari rumah mereka," kata Pence.
"Gambaran tentang kekerasan dan korbannya telah mengejutkan orang Amerika, dan orang-orang baik di seluruh dunia," sambungnya seperti dikutip dari Voice of America, Kamis (21/9/2017).
Selama bulan lalu, lebih dari 400 ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar, di mana mereka menghadapi pelanggaran hak asasi manusia dan diskriminasi. Pence mencatat bahwa puluhan ribu orang yang melarikan diri dengan berjalan kaki adalah anak-anak.
Pence mencatat bahwa Sekretaris Negara AS Rex Tillerson telah berbicara dengan pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi, tentang pengungsi Rohingya. AS telah mendesak pasukan militer dan keamanan Myanmar untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan.
"Sementara kami menyambut komentar Aung San Suu Kyi bahwa mengembalikan pengungsi tidak ada yang perlu ditakutkan," kata Pence.
"Amerika Serikat memperbaharui seruan kami pada pasukan keamanan Myanmar untuk segera mengakhiri kekerasan mereka dan mendukung usaha diplomatik untuk solusi jangka panjang," seru Pence.
(ian)