Diancam Serangan Nuklir oleh Korut, Ini Tanggapan Australia
Minggu, 23 April 2017 - 15:56 WIB
Diancam Serangan Nuklir oleh Korut, Ini Tanggapan Australia
A
A
A
CANBERRA - Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mendesak Korea Utara (Korut) untuk berkonsentrasi pada kesejahteraan warganya daripada menginvestasikan dana dalam pengembangan senjata pemusnah massal. Pernyataan Bishop itu adalah tanggapan atas ancaman Pyongyang terhadapnya dan Australia pada umumnya.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Korut mengatakan akan menyerang Australia dengan senjata nuklir jika Canberra terus secara membabi buta mengikuti garis kebijakan Amerika Serikat (AS). Korut mengatakan Bishop harus lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan tentang Pyongyang dan ia lebih baik pikirkan dua kali tentang konsekuensinya.
Baca juga:
Korut Ancam Membom Nuklir Australia jika Ikuti Jejak AS
"Pernyataan ini memberi ancaman serius bagi tetangganya dan jika dibiarkan, ke wilayah yang lebih luas termasuk Australia," kata Bishop seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (23/4/2017).
"Pemerintah Korea Utara harus berinvestasi untuk kesejahteraan warganya yang telah lama menderita, daripada senjata pemusnah massal," cibir Bishop.
Ancaman Pyongyang muncul sebagai tanggapan atas pernyataan Bishop sebelumnya yang dibuat pada hari Selasa, ketika dia mengatakan bahwa program senjata nuklir dan rudal Korut merupakan ancaman bagi keamanan negara tersebut. Pengembangan rudal balistik antar benua yang mampu mencapai wilayah AS dengan muatan nuklir bisa juga menghantam wilayah Australia.
Ketegangan di semenanjung Korea telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah uji coba nuklir Pyongyang dan peluncuran rudal balistik dilakukan dengan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Korut dilaporkan melakukan peluncuran rudal paling baru pada 16 April lalu, namun tidak berhasil menurut pejabat pertahanan Korea Selatan (Korsel).
Menanggapi ketegangan tersebut, AS dan Jepang telah meluncurkan latihan militer angkatan laut gabungan di Samudra Pasifik dengan partisipasi kapal induk USS Carl Vinson. Washington sebelumnya telah mengirim kelompok kapal perangnya, termasuk dua kapal perusak dan kapal penjelajah, ke Semenanjung Korea.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Korut mengatakan akan menyerang Australia dengan senjata nuklir jika Canberra terus secara membabi buta mengikuti garis kebijakan Amerika Serikat (AS). Korut mengatakan Bishop harus lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan tentang Pyongyang dan ia lebih baik pikirkan dua kali tentang konsekuensinya.
Baca juga:
Korut Ancam Membom Nuklir Australia jika Ikuti Jejak AS
"Pernyataan ini memberi ancaman serius bagi tetangganya dan jika dibiarkan, ke wilayah yang lebih luas termasuk Australia," kata Bishop seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (23/4/2017).
"Pemerintah Korea Utara harus berinvestasi untuk kesejahteraan warganya yang telah lama menderita, daripada senjata pemusnah massal," cibir Bishop.
Ancaman Pyongyang muncul sebagai tanggapan atas pernyataan Bishop sebelumnya yang dibuat pada hari Selasa, ketika dia mengatakan bahwa program senjata nuklir dan rudal Korut merupakan ancaman bagi keamanan negara tersebut. Pengembangan rudal balistik antar benua yang mampu mencapai wilayah AS dengan muatan nuklir bisa juga menghantam wilayah Australia.
Ketegangan di semenanjung Korea telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah uji coba nuklir Pyongyang dan peluncuran rudal balistik dilakukan dengan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Korut dilaporkan melakukan peluncuran rudal paling baru pada 16 April lalu, namun tidak berhasil menurut pejabat pertahanan Korea Selatan (Korsel).
Menanggapi ketegangan tersebut, AS dan Jepang telah meluncurkan latihan militer angkatan laut gabungan di Samudra Pasifik dengan partisipasi kapal induk USS Carl Vinson. Washington sebelumnya telah mengirim kelompok kapal perangnya, termasuk dua kapal perusak dan kapal penjelajah, ke Semenanjung Korea.
(ian)