China-Korsel Bahas Sanksi Untuk Korut
Selasa, 11 April 2017 - 21:13 WIB
China-Korsel Bahas Sanksi Untuk Korut
A
A
A
SEOUL - China dan Korea Selatan (Korsel) sepakat menerapkan sanksi lebih keras terhadap Korea Utara (Korut) jika Pyongyang tetap melanjutkan tes nuklir dan rudal jarak jauh. Kepala utusan Korsel untuk negosiasi nuklir Kim Hong-kyun menjelaskan perkembangan itu kemarin, saat armada penyerang Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menuju kawasan itu untuk unjuk kekuatan.
Korut memperingati beberapa perayaan penting bulan ini dan sering menandainya dengan tes peralatan militer skala besar. Kemungkinan aksi militer AS terhadap Korut untuk merespons tes nuklir atau rudal jarak jauh makin meningkat setelah pekan lalu Washington menyerang Suriah dengan puluhan rudal.
Sebelumnya Washington lebih mengandalkan penerapan berbagai sanksi dan tekanan untuk menghentikan ambisi nuklir Korut. Meski begitu, beberapa komentar dari para penasihat utama Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu menunjukkan sikap Washington akan semakin tegas terhadap Korut.
Adapun, Kim Hong-kyun menyatakan, tidak ada opsi militer apa pun dalam perundingan dengan Perwakilan Khusus China untuk Semenanjung Korea Wu Dawei. Keduanya juga tidak membahas kemungkinan serangan ke Korut oleh Pemerintah AS.
“Kedua pihak sepakat bahwa meski ada peringatan dari komunitas internasional, jika Korut membuat provokasi strategis seperti meluncurkan rudal antarbenua (ICBM), maka perlu langkah tambahan yang tegas sesuai resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB),” ungkap Hong-kyun, dikutip kantor berita Reuters.
Kim menambahkan, kedua pihak sepakat dengan resolusi PBB yang lebih keras jika Korut kembali menggelar tes persenjataan. Wu dalam kesempatan itu tidak berbicara kepada media. Kunjungan Wu ke Korsel merupakan yang pertama kali dilakukan pejabat senior China sejak rencana pengerahan sistem pertahanan rudal AS, THAAD, yang memicu konflik diplomatik antara Beijing dan Seoul.
Kim menjelaskan, Wu menegaskan kembali sikap China atas pengerahan THAAD tapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. China sebelumnya menyatakan, THAAD akan mengubah keseimbangan keamanan regional dan jangkauan radar itu dapat masuk ke wilayah China. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Rex Tillerson menjelaskan, serangan militer AS terhadap Suriah atas tuduhan menggunakan senjata kimia menjadi peringatan bagi negara lain, termasuk Korut.
Pesan yang muncul adalah AS tidak segan merespons seperti Suriah jika Korut dianggap membahayakan. “Presiden China Xi Jinping jelas paham dan saya pikir sepakat jika situasinya memanas dan mencapai level ancaman tertentu, maka aksi dapat dilakukan,” ujar Tillerson dalam acara CBS, Face The Nation.
Armada penyerang Angkatan Laut AS Carl Vinson membatalkan rencana ke Australia dan bergerak ke Samudra Pasifik bagian barat dekat semenanjung Korea sebagai unjuk kekuatan. “Kami merasakan peningkatan kehadiran itu diperlukan,” ujar seorang pejabat AS. Trump dan Xi pekan lalu menggelar pertemuan di Florida.
Dalam kesempatan itu, Trump menekan Xi untuk bertindak lebih banyak dalam menghentikan program nuklir Korut. China merupakan aliansi diplomatik dan ekonomi utama Korut. Korut telah mengecam serangan AS ke Suriah pekan lalu. Pyongyang menyebut aksi Washington itu sebagai agresi yang tak dapat dimaafkan.
Korut juga menegaskan, keputusan mengembangkan senjata nuklir merupakan pilihan tepat. Di Jepang, kemungkinan aksi militer AS ke Korut dianggap tidak masuk akal. “Mungkin tidak realistis bagi AS untuk menyerang Korut,” papar sumber dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) Jepang. “Jika AS menyatakan pergi menyerang, Jepang dan Korsel mungkin akan mencegahnya,” ungkap sumber Kemhan Jepang tersebut.
Sumber militer Jepang menambahkan, jika militer AS menyerang, akan ada permintaan ke Jepang untuk memberikan dukungan logistik. Namun, belum ada pembicaraan tentang persiapan semacam itu. Pasukan Korsel dan AS juga terlibat dalam latihan militer gabungan tahunan yang digelar hingga akhir April. Korut menyebut latihan ini persiapan perang melawan Pyongyang.
Juru Bicara Kemhan Korsel Moon Sang-kyun menyatakan, beberapa peringatan di Korut akan digelar pada April. Momen-momen tersebut dapat menjadi peluang bagi Korut menggelar tes nuklir atau rudal. Korut juga telah mengundang sejumlah perwakilan media asing ke Pyongyang pekan ini yang tampaknya untuk meliput “Hari Matahari” atau ulang tahun pendiri Korut Kim Ilsung pada Sabtu (15/4).
Korut memperingati beberapa perayaan penting bulan ini dan sering menandainya dengan tes peralatan militer skala besar. Kemungkinan aksi militer AS terhadap Korut untuk merespons tes nuklir atau rudal jarak jauh makin meningkat setelah pekan lalu Washington menyerang Suriah dengan puluhan rudal.
Sebelumnya Washington lebih mengandalkan penerapan berbagai sanksi dan tekanan untuk menghentikan ambisi nuklir Korut. Meski begitu, beberapa komentar dari para penasihat utama Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu menunjukkan sikap Washington akan semakin tegas terhadap Korut.
Adapun, Kim Hong-kyun menyatakan, tidak ada opsi militer apa pun dalam perundingan dengan Perwakilan Khusus China untuk Semenanjung Korea Wu Dawei. Keduanya juga tidak membahas kemungkinan serangan ke Korut oleh Pemerintah AS.
“Kedua pihak sepakat bahwa meski ada peringatan dari komunitas internasional, jika Korut membuat provokasi strategis seperti meluncurkan rudal antarbenua (ICBM), maka perlu langkah tambahan yang tegas sesuai resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB),” ungkap Hong-kyun, dikutip kantor berita Reuters.
Kim menambahkan, kedua pihak sepakat dengan resolusi PBB yang lebih keras jika Korut kembali menggelar tes persenjataan. Wu dalam kesempatan itu tidak berbicara kepada media. Kunjungan Wu ke Korsel merupakan yang pertama kali dilakukan pejabat senior China sejak rencana pengerahan sistem pertahanan rudal AS, THAAD, yang memicu konflik diplomatik antara Beijing dan Seoul.
Kim menjelaskan, Wu menegaskan kembali sikap China atas pengerahan THAAD tapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. China sebelumnya menyatakan, THAAD akan mengubah keseimbangan keamanan regional dan jangkauan radar itu dapat masuk ke wilayah China. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Rex Tillerson menjelaskan, serangan militer AS terhadap Suriah atas tuduhan menggunakan senjata kimia menjadi peringatan bagi negara lain, termasuk Korut.
Pesan yang muncul adalah AS tidak segan merespons seperti Suriah jika Korut dianggap membahayakan. “Presiden China Xi Jinping jelas paham dan saya pikir sepakat jika situasinya memanas dan mencapai level ancaman tertentu, maka aksi dapat dilakukan,” ujar Tillerson dalam acara CBS, Face The Nation.
Armada penyerang Angkatan Laut AS Carl Vinson membatalkan rencana ke Australia dan bergerak ke Samudra Pasifik bagian barat dekat semenanjung Korea sebagai unjuk kekuatan. “Kami merasakan peningkatan kehadiran itu diperlukan,” ujar seorang pejabat AS. Trump dan Xi pekan lalu menggelar pertemuan di Florida.
Dalam kesempatan itu, Trump menekan Xi untuk bertindak lebih banyak dalam menghentikan program nuklir Korut. China merupakan aliansi diplomatik dan ekonomi utama Korut. Korut telah mengecam serangan AS ke Suriah pekan lalu. Pyongyang menyebut aksi Washington itu sebagai agresi yang tak dapat dimaafkan.
Korut juga menegaskan, keputusan mengembangkan senjata nuklir merupakan pilihan tepat. Di Jepang, kemungkinan aksi militer AS ke Korut dianggap tidak masuk akal. “Mungkin tidak realistis bagi AS untuk menyerang Korut,” papar sumber dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) Jepang. “Jika AS menyatakan pergi menyerang, Jepang dan Korsel mungkin akan mencegahnya,” ungkap sumber Kemhan Jepang tersebut.
Sumber militer Jepang menambahkan, jika militer AS menyerang, akan ada permintaan ke Jepang untuk memberikan dukungan logistik. Namun, belum ada pembicaraan tentang persiapan semacam itu. Pasukan Korsel dan AS juga terlibat dalam latihan militer gabungan tahunan yang digelar hingga akhir April. Korut menyebut latihan ini persiapan perang melawan Pyongyang.
Juru Bicara Kemhan Korsel Moon Sang-kyun menyatakan, beberapa peringatan di Korut akan digelar pada April. Momen-momen tersebut dapat menjadi peluang bagi Korut menggelar tes nuklir atau rudal. Korut juga telah mengundang sejumlah perwakilan media asing ke Pyongyang pekan ini yang tampaknya untuk meliput “Hari Matahari” atau ulang tahun pendiri Korut Kim Ilsung pada Sabtu (15/4).
(esn)