AS Beritahu Rusia Jelang Serangan Rudal ke Pangkalan Suriah
Jum'at, 07 April 2017 - 14:18 WIB
AS Beritahu Rusia Jelang Serangan Rudal ke Pangkalan Suriah
A
A
A
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) memberi pasukan Rusia pemberitahuan terkait serangan terhadap sebuah pangkalan udara Suriah dan tidak menghantam bagian pangkalan yang diyakini ada pasukan Rusia. Demikian pernyataan juru bicara Pentagon, Jeff Davis.
Davis mengatakan militer AS memiliki beberapa komunikasi dengan pasukan Rusia sebelum penyerangan. Kedunya menggunakan jalur komunikasi yang sebelumnya telah dibentuk untuk mencegah bentrokan disengaja di Suriah selama perang melawan ISIS.
Davis juga mengungkapkan bahwa militer AS meluncurkan 59 rudal Tomahawk dari dua kapal perusak Angkatan Laut ke sebuah lapangan udara Suriah. Serangan tersebut menargetkan pesawat dan sistem pertahanan udara.
"Rudal ini menargetkan pesawat, hanggar pesawat, stasiun bahan bakar dan area penyimpanan logistik, bunker pasokan amunisi, sistem pertahanan udara, dan radar," jelas Davis seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/4/2017).
Serangan militer AS ini dilakukan sebagai reaksi atas serangan senjata kimia mematikan yang menewaskan sedikitnya 72 warga sipil di Idlib. Pemerintah Suriah menjadi pihak yang disalahkan atas serangan horor ini.
Aksi militer AS menempatkan Presiden Donald Trump itu di sisi berlawanan dengan Rusia, yang memiliki pasukan udara dan darat di Suriah setelah intervensi ada di sisi Assad pada tahun 2015. Kehadiran Rusia mengubah arus perlawanan kelompok pejuang Muslim Suriah yang sebagian besar Sunni.
Davis mengatakan militer AS memiliki beberapa komunikasi dengan pasukan Rusia sebelum penyerangan. Kedunya menggunakan jalur komunikasi yang sebelumnya telah dibentuk untuk mencegah bentrokan disengaja di Suriah selama perang melawan ISIS.
Davis juga mengungkapkan bahwa militer AS meluncurkan 59 rudal Tomahawk dari dua kapal perusak Angkatan Laut ke sebuah lapangan udara Suriah. Serangan tersebut menargetkan pesawat dan sistem pertahanan udara.
"Rudal ini menargetkan pesawat, hanggar pesawat, stasiun bahan bakar dan area penyimpanan logistik, bunker pasokan amunisi, sistem pertahanan udara, dan radar," jelas Davis seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/4/2017).
Serangan militer AS ini dilakukan sebagai reaksi atas serangan senjata kimia mematikan yang menewaskan sedikitnya 72 warga sipil di Idlib. Pemerintah Suriah menjadi pihak yang disalahkan atas serangan horor ini.
Aksi militer AS menempatkan Presiden Donald Trump itu di sisi berlawanan dengan Rusia, yang memiliki pasukan udara dan darat di Suriah setelah intervensi ada di sisi Assad pada tahun 2015. Kehadiran Rusia mengubah arus perlawanan kelompok pejuang Muslim Suriah yang sebagian besar Sunni.
(ian)