Korban Tanah Longsor di Kolombia Jadi 154
Minggu, 02 April 2017 - 03:02 WIB
Korban Tanah Longsor di Kolombia Jadi 154
A
A
A
BOGOTA - Jumlah korban tewas akibat tanah longsor di Kolombia terus bertambah. Terbaru, jumlah korban tewas telah mencapai 154 dan melukai puluhan lainnya.
Hujan lebat menyebabkan beberapa sungai meluap, mendorong sedimen dan batu menghantam bangunan dan jalan di ibukota provinsi Mocoa. Banjir juga melumpuhkan mobil yang teredam lumpur setebal beberapa kaki.
Presiden Kolombia Juan Manuel Santos telah berada di lokasi untuk mengawasi upaya penyelamatan di pinggiran kota. Ia pun sudah berbicara dengan keluarga korban.
"Kami akan melakukan segala kemungkinan untuk membantu mereka," kata Santos setelah mengkonfirmasi korban tewas. "Menghancurkan hatiku," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (2/4/2017).
Santos mengatakan para pejabat tengah bekerja untuk menentukan jumlah warga yang hilang. Kementerian Pertahanan mengatakan hampir 200 orang terluka, dan lebih dari 1.100 tentara dan polisi dikerahkan untuk mengeluarkan korban yang terjebak.
"Kami telah mengirim tim berjumlah 150 orang untuk membuat respon kita efektif dan perlengkapan mulai bekerja segera," kata kepala unit bencana nasional, Carlos Ivan Marquez.
Untuk negara yang dihantam hujan lebat, mempunyai lanskap pegunungan dengan banyak perumahan yang bisa memicu terjadinya tanah longsor, skala bencana di Mocoa sungguh menakutkan. Sebagai perbandingan, tanah longsor di Salgar, Antioquia, pada 2015 menewaskan hampir 80 orang.
"Ini adalah daerah yang besar," kata Walikota Mocoa, Jose Antonio Castro, yang kehilangan rumahnya, kepada radio Caracol. "Sebagian besar dari banyak rumah baru saja diratakan oleh longsoran salju," imbuhnya.
Ia mengatakan bahwa orang-orang telah diperingatkan sebelumnya dan banyak yang telah menyelamatkan diri. Namun, di sejumlah tempat dan hancur termasuk dua jembatan.
Foto yang diposting di Twitter oleh angkatan udara menunjukkan jalan-jalan di lokasi penuh dengan lumpur dan rumah rusak. Sementara video di media sosial menunjukkan warga tengah mencari korban yang selamat di antara puing-puing dan berjuang untuk bergerak melalui air setinggi pinggang pada malam hari.
Hujan lebat menyebabkan beberapa sungai meluap, mendorong sedimen dan batu menghantam bangunan dan jalan di ibukota provinsi Mocoa. Banjir juga melumpuhkan mobil yang teredam lumpur setebal beberapa kaki.
Presiden Kolombia Juan Manuel Santos telah berada di lokasi untuk mengawasi upaya penyelamatan di pinggiran kota. Ia pun sudah berbicara dengan keluarga korban.
"Kami akan melakukan segala kemungkinan untuk membantu mereka," kata Santos setelah mengkonfirmasi korban tewas. "Menghancurkan hatiku," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (2/4/2017).
Santos mengatakan para pejabat tengah bekerja untuk menentukan jumlah warga yang hilang. Kementerian Pertahanan mengatakan hampir 200 orang terluka, dan lebih dari 1.100 tentara dan polisi dikerahkan untuk mengeluarkan korban yang terjebak.
"Kami telah mengirim tim berjumlah 150 orang untuk membuat respon kita efektif dan perlengkapan mulai bekerja segera," kata kepala unit bencana nasional, Carlos Ivan Marquez.
Untuk negara yang dihantam hujan lebat, mempunyai lanskap pegunungan dengan banyak perumahan yang bisa memicu terjadinya tanah longsor, skala bencana di Mocoa sungguh menakutkan. Sebagai perbandingan, tanah longsor di Salgar, Antioquia, pada 2015 menewaskan hampir 80 orang.
"Ini adalah daerah yang besar," kata Walikota Mocoa, Jose Antonio Castro, yang kehilangan rumahnya, kepada radio Caracol. "Sebagian besar dari banyak rumah baru saja diratakan oleh longsoran salju," imbuhnya.
Ia mengatakan bahwa orang-orang telah diperingatkan sebelumnya dan banyak yang telah menyelamatkan diri. Namun, di sejumlah tempat dan hancur termasuk dua jembatan.
Foto yang diposting di Twitter oleh angkatan udara menunjukkan jalan-jalan di lokasi penuh dengan lumpur dan rumah rusak. Sementara video di media sosial menunjukkan warga tengah mencari korban yang selamat di antara puing-puing dan berjuang untuk bergerak melalui air setinggi pinggang pada malam hari.
(ian)