Bahrun Naim dan Perintah untuk Dian Ledakkan Diri di Istana Presiden
Rabu, 14 Desember 2016 - 23:06 WIB
Bahrun Naim dan Perintah untuk Dian Ledakkan Diri di Istana Presiden
A
A
A
JAKARTA - Seorang perempuan yang berencana melakukan pengeboman bunuh diri di Istana Presiden Indonesia di Jakarta mengaku diperintah Bahrun Naim. Bahrun yang diyakini polisi berada di Suriah dan bergabung dengan ISIS dituduh mendalangi beberapa serangan di Indonesia pada tahun lalu.
Perempuan yang hendak meledakkan diri di Istana Presiden itu bernama Dian Yulia Novi, 27. Dia ditangkap polisi pekan lalu atau satu hari sebelum serangan yang direncanakan.
Dian dan suaminya Nur Solihin merupakan bagian dari empat terduga teroris yang ditangkap Sabtu pekan lalu setelah polisi mendeteksi rencana mereka untuk mengebom sebuah upacara di Istana Presiden.
Polisi menduga empat terduga teroris tersebut bagian dari jaringan militan yang bertanggung jawab untuk laboratorium pembuatan bom di wilayah Provinsi Jawa Barat yang beroperasi di bawah arahan Bahrun Naim.
Novi yang merupakan mantan tenaga kerja wanita (TKW) di Singapura dan Taiwan, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televisi pada hari Rabu (14/12/2016), bahwa dia belajar tentang “jihad” di media sosial seperti Facebook.
Dia mengaku terpengaruh oleh artikel dari sebuah situs yang berisi seruan penegakan tauhid dan membela kekhalifahan. Dian juga mengaku terpengaruh Aman Abdurrahman, seorang tokoh radikal yang dihukum penjara sembilan tahun di Indonesia.
Bom yang hendak dijadikan alat bunuh diri Novi di Istana Presiden memiliki berar 3 kilogram. Dalam wawancara di salah satu stasiun televisi, Dian menyadari bahwa ada sesama warga Indonesia yang ada di lokasi yang akan dia serang.
”Targetnya bukan orang-orang biasa, bukan pedagang asongan, bukan bayi. Targetnya adalah aparat penegak hukum,” kata Dian.
“(Bahrun) Naim sendiri telah menjelaskan bahwa ada penonton (di lokasi yang akan diserang),” ujar Dian. ”Saya akan berbaur dengan mereka, maka saya akan berlari menuju pengawal presiden dan meledakkan diri. Itu akan jauh dari penonton sehingga mereka tidak akan terkena langsung.”
Dian mengatakan bahwa dia berkomunikasi dengan Bahrun Naim pada tiga kesempatan melalui aplikasi chat Telegram terenkripsi. Menurut Dian, Bahrun Naim-lah yang memutuskan target serangan.
Suaminya, Solihin, yang juga diwawancarai di televisi mengaku menikahi Novi untuk memfasilitasi keinginannya untuk menjadi seorang pengebom bunuh diri. Solihin juga mengaku diperintah Bahrun Naim untuk menurunkan istrinya di Masjid Istiqlal Jakarta, di mana Dian akan berjalan selama sekitar 500 meter (meter) menuju target.
”Saya tidak tahu apa targetnya. Hanya tahu setelah polisi mengungkapkan rencana pengeboman, kemudian saya menyadari bahwa targetnya adalah Istana Presiden,” katanya.
Perempuan yang hendak meledakkan diri di Istana Presiden itu bernama Dian Yulia Novi, 27. Dia ditangkap polisi pekan lalu atau satu hari sebelum serangan yang direncanakan.
Dian dan suaminya Nur Solihin merupakan bagian dari empat terduga teroris yang ditangkap Sabtu pekan lalu setelah polisi mendeteksi rencana mereka untuk mengebom sebuah upacara di Istana Presiden.
Polisi menduga empat terduga teroris tersebut bagian dari jaringan militan yang bertanggung jawab untuk laboratorium pembuatan bom di wilayah Provinsi Jawa Barat yang beroperasi di bawah arahan Bahrun Naim.
Novi yang merupakan mantan tenaga kerja wanita (TKW) di Singapura dan Taiwan, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televisi pada hari Rabu (14/12/2016), bahwa dia belajar tentang “jihad” di media sosial seperti Facebook.
Dia mengaku terpengaruh oleh artikel dari sebuah situs yang berisi seruan penegakan tauhid dan membela kekhalifahan. Dian juga mengaku terpengaruh Aman Abdurrahman, seorang tokoh radikal yang dihukum penjara sembilan tahun di Indonesia.
Bom yang hendak dijadikan alat bunuh diri Novi di Istana Presiden memiliki berar 3 kilogram. Dalam wawancara di salah satu stasiun televisi, Dian menyadari bahwa ada sesama warga Indonesia yang ada di lokasi yang akan dia serang.
”Targetnya bukan orang-orang biasa, bukan pedagang asongan, bukan bayi. Targetnya adalah aparat penegak hukum,” kata Dian.
“(Bahrun) Naim sendiri telah menjelaskan bahwa ada penonton (di lokasi yang akan diserang),” ujar Dian. ”Saya akan berbaur dengan mereka, maka saya akan berlari menuju pengawal presiden dan meledakkan diri. Itu akan jauh dari penonton sehingga mereka tidak akan terkena langsung.”
Dian mengatakan bahwa dia berkomunikasi dengan Bahrun Naim pada tiga kesempatan melalui aplikasi chat Telegram terenkripsi. Menurut Dian, Bahrun Naim-lah yang memutuskan target serangan.
Suaminya, Solihin, yang juga diwawancarai di televisi mengaku menikahi Novi untuk memfasilitasi keinginannya untuk menjadi seorang pengebom bunuh diri. Solihin juga mengaku diperintah Bahrun Naim untuk menurunkan istrinya di Masjid Istiqlal Jakarta, di mana Dian akan berjalan selama sekitar 500 meter (meter) menuju target.
”Saya tidak tahu apa targetnya. Hanya tahu setelah polisi mengungkapkan rencana pengeboman, kemudian saya menyadari bahwa targetnya adalah Istana Presiden,” katanya.
(mas)