Assad: Konflik Suriah Ungkap Sikap Tidak Jujur Barat
Minggu, 03 April 2016 - 18:33 WIB
Assad: Konflik Suriah Ungkap Sikap Tidak Jujur Barat
A
A
A
DAMASKUS - Presiden Suriah Bashar al-Assad menuturkan, konflik yang terjadi di negaranya telah mengungkap wajah sebenarnya dari negara-negara Barat, yakni mereka adalah negara yang tidak jujur. Menurut Assad, hal itu bisa menjadi pelajaran bagi negara lain.
"Pelajaran paling penting yang telah kita pelajari, tapi saya kira kita tahu itu semua bersama, adalah bahwa Barat tidak jujur. Negara-negara Barat yang tidak jujur. Mereka mengejar kebijakan jauh dari prinsip-prinsip hukum internasional dan PBB," kata Assad, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (3/4).
"Tidak mungkin untuk mengandalkan Barat guna memecahkan masalah apapun. Semakin baik teman yang Anda miliki, semakin cepat dan dengan kerugian minimal keputusan tercapai. Oleh karena itu, setiap negarawan harus bisa memilih negara yang ramah yang akan berdiri dengan dia selama krisis," sambungnya.
Assad berharap, hanya Suriah yang mengalami konflik internal berkepanjangan semacam ini, dirinya tidak ingin negara lain mengalami hal serupa. Dirinya juga menekankan setiap manifestasi dari fanatisme harus dihindari.
"Berdasarkan pengalaman kami di Suriah, setiap manifestasi dari fanatisme, baik agama, politik, atau obsesi dengan ide - adalah sesuatu hal yang merusak bagi masyarakat Diperlukan tindakan untuk menghindari fanatisme ketika membangun masyarakat. Ini adalah tugas negara, serta.. tanggung jawab semua elemen yang ada di masyarakat dan kewajiban setiap warga negara," imbuhnya.
"Pelajaran paling penting yang telah kita pelajari, tapi saya kira kita tahu itu semua bersama, adalah bahwa Barat tidak jujur. Negara-negara Barat yang tidak jujur. Mereka mengejar kebijakan jauh dari prinsip-prinsip hukum internasional dan PBB," kata Assad, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (3/4).
"Tidak mungkin untuk mengandalkan Barat guna memecahkan masalah apapun. Semakin baik teman yang Anda miliki, semakin cepat dan dengan kerugian minimal keputusan tercapai. Oleh karena itu, setiap negarawan harus bisa memilih negara yang ramah yang akan berdiri dengan dia selama krisis," sambungnya.
Assad berharap, hanya Suriah yang mengalami konflik internal berkepanjangan semacam ini, dirinya tidak ingin negara lain mengalami hal serupa. Dirinya juga menekankan setiap manifestasi dari fanatisme harus dihindari.
"Berdasarkan pengalaman kami di Suriah, setiap manifestasi dari fanatisme, baik agama, politik, atau obsesi dengan ide - adalah sesuatu hal yang merusak bagi masyarakat Diperlukan tindakan untuk menghindari fanatisme ketika membangun masyarakat. Ini adalah tugas negara, serta.. tanggung jawab semua elemen yang ada di masyarakat dan kewajiban setiap warga negara," imbuhnya.
(esn)